Minggu, 17 Mei 2026
Beranda / Berita / Aceh / Restorasi Krueng Teunom, LPLHI Aceh Jaya dan PDI Perjuangan Tanam 1.500 Pohon

Restorasi Krueng Teunom, LPLHI Aceh Jaya dan PDI Perjuangan Tanam 1.500 Pohon

Jum`at, 27 Maret 2026 17:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Informasi kegiatan Restorasi Vegetasi Krueng Teunom 2026. Foto: ist


DIALEKSIS.COM | Aceh Jaya - LPLHI-KLHI Aceh Jaya bersama PDI Perjuangan Aceh Jaya berencana menggelar kegiatan Bakti Sosial Restorasi Vegetasi Krueng Teunom 2026 sebagai upaya merespons semakin parahnya abrasi di sepanjang tepian Krueng Teunom.

Ketua LPLHI-KLHI Aceh Jaya, Zulfikri, kepada media ini mengatakan abrasi di kawasan tersebut telah menjadi ancaman nyata bagi kebun masyarakat maupun permukiman warga di sekitar sungai.

“Hal ini kita lakukan sebagai bentuk solidaritas pemuda dan komitmen kepedulian terhadap lingkungan sekitar. Kami juga berharap kegiatan ini menjadi edukasi bagi masyarakat agar terus menjaga lingkungan dengan menanam pohon, sebagai langkah antisipasi agar abrasi tidak semakin meluas,” kata Zulfikri.

Kegiatan tersebut dijadwalkan berlangsung pada 11 April 2026 dengan tiga titik lokasi bakti sosial, yakni Gampong Krueng Beukah, Bintah, dan Alue Jang, Kecamatan Pasie Raya, Kabupaten Aceh Jaya.

Dalam kegiatan itu, panitia akan menanam 1.000 batang pohon ijaloeh dan 500 batang bambu di sepanjang bantaran sungai di tiga gampong tersebut. Kegiatan ini juga akan melibatkan pemuda dari tiga gampong sebagai relawan.

Sementara itu, Ketua Divisi Daerah Aliran Sungai (DAS) LPLHI-KLHI Provinsi Aceh, Fahrun Rozi, menyambut baik rencana kegiatan tersebut. Ia menegaskan pihaknya mendukung penuh langkah bakti sosial yang dinilai sangat mulia itu.

Fahrun Rozi juga mengajak seluruh pihak untuk bersama-sama menjaga dan melestarikan daerah aliran sungai demi keberlangsungan kehidupan lingkungan hidup, habitat, dan ekosistem sungai.

Ia menambahkan, restorasi vegetasi tidak hanya sebatas menanam pohon, tetapi juga bertujuan memulihkan struktur, fungsi, dan dinamika alami ekosistem yang telah terdegradasi. Menurutnya, kegiatan seperti ini memiliki manfaat besar, di antaranya mengembalikan keanekaragaman hayati, meningkatkan penyerapan karbon sebagai bagian dari mitigasi iklim, serta mendukung produktivitas lahan.

“Yang paling penting adalah keberlanjutan. Karena itu, monitoring dan evaluasi secara berkala terhadap tingkat kelangsungan hidup bibit harus dilakukan, sekaligus melibatkan masyarakat lokal dalam pengelolaan konservasi berbasis masyarakat,” ujarnya.

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI