Beranda / Berita / Aceh / Resmikan Mesin Fraksinasi Nilam Unsyiah, Menristek: Apresiasi Inovasi Tepat Guna

Resmikan Mesin Fraksinasi Nilam Unsyiah, Menristek: Apresiasi Inovasi Tepat Guna

Jum`at, 28 Februari 2020 23:30 WIB

Font: Ukuran: - +


Kepala ARC Unsyiah, Dr Syaifullah Muhammad menunjukkan cara kerja Mesin Distilasi Molekuler (MD) dan Fraksinasi Nilam ARC Unsyiah, Jum'at (28/2/2020). [Foto: IST/Dialeksis.com]


DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) yang juga Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional, Prof Bambang Brodjonegoro, meresmikan Mesin Distilasi Molekuler (MD) dan Fraksinasi Nilam skala industri di Atsiri Research Center (ARC)-Pusat Unggulan Iptek (PUI) Nilam Aceh Universitas Syiah Kuala Banda Aceh, Jumat pagi (28/2/2020).

Unit mesin ini berada tepat di area belakang kantor ARC yang berhadapan dengan Fakultas Teknik Unsyiah.

Bambang mengatakan langkah Unsyiah untuk hilirisasi minyak nilam bukan hanya membantu petani, tetapi juga telah meningkatkan nilai tambah nilam. Mesin ini nantinya dapat melakukan penyulingan nilam, sehingga hasilnya dapat digunakan oleh pelaku industri kosmetik dan parfum dunia.

Di masa lalu lanjut Bambang, minyak nilam diekspor lalu diolah di luar negeri, dan dibeli kembali oleh pelaku industri yang membutuhkan nilam di Indonesia. 

Ia mengapresiasi langkah Unsyiah bersama Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) yang mendirikan mesin fraksinasi, sehingga mengurangi ketergantungan impor serta dapat langsung menjual nilam ke pemakai akhir. Langkah ini juga memberikan manfaat besar bagi petani nilam di Aceh. Bahkan, memperkuat posisi Aceh yang bertrasnformasi menjadi kawasan industri baru.

“Saya mengapresiasi civitas dan peneliti Unsyiah. Langkah ini telah memenuhi tujuan dari riset dikti, yaitu menghadirkan inovasi tepat guna bagi masyarakat dan menumbuhkan nilai tambah hilirisasi serta peningkatan ekspor, kata Prof Bambang melansir aceHTrend.

Ia berharap langkah ini dapat diterapkan di komoditas lainnya di Aceh sehingga memberikan manfaat dan menjawab kebutuhan masyarakat.

Rektor Unsyiah, Prof Samsul Rizal mengucapkan terima kasih dan mengapresiasi tinggi Kemenristek/BRIN, terkhusus BPPT yang telah membantu Unsyiah dalam mengembangkan riset dan inovasi, terutama riset nilam Aceh. Kerja sama ini menurutnya merupakan salah satu bentuk peningkatan sinergitas antar Lembaga Kaji Terap dengan perguruan tinggi.

Ia berharap kerja sama ini dapat meningkatkan koordinasi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah, sehingga semakin meningkatkan kualitas, kapasitas, dan kompetensi secara lebih merata.

Dalam kunjungannya Menristek turut didampingi Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Dr. Hammam Riza. Mereka turut mengunjungi Nino Park Unsyiah, sebuah kawasan pembibitan tanaman nilam yang berada di kawasan Sektor Timur.

Sementara itu, Kepala ARC Unsyiah, Dr Syaifullah Muhammad mengatakan mesin fraksinasi nilam ini mampu berproduksi 24 ton per tahunnya. 

Dengan menghilangkan sedikit air, akan menghasilkan dua bagian yaitu fraksi ringan dan fraksi berat. Fraksi berat memiliki kadar 60 persen patchouli yang dapat diubah menjadi 12 juta botol parfum. Sedangkan fraksi ringan memiliki kadar 1-2 persen patchouli yang kaya zat aktif yang kerap digunakan untuk obat-obatan, aroma terapi, hingga kosmetik.

“Andai setiap botol parfum dijual Rp150 ribu, maka akan menghasilkan Rp1,8 triliun. Ini masih harga di dalam negeri. Jika dipasarkan ke luar negeri, tentu nilainya akan jauh bertambah.”

Syaifullah menambahkan, 90 persen permintaan nilam dunia dipasok dari Indonesia. Setiap tahunnya, Indonesia mengekspor nilam sekitar 1.500 ton ke berbagai negara dunia, seperti Amerika, Eropa, Singapura, hingga ke Timur Tengah. 

Dulunya, nilam Aceh mampu menyumbang kebutuhan nasional sebanyak 70 persen, tetapi konflik berkepanjangan dan fluktuatifnya harga membuat produksi nilam Aceh menurun. Saat ini, Aceh hanya mampu menyumbang 20 persen dari total kebutuhan nasional.

Menyadari keunggulan nilam Aceh, Unsyiah lanjutnya mengambil peran untuk membantu peningkatan produksi dari hulu ke hilir. Terlebih lagi, nilam Aceh memiliki karakteristik unik sehingga banyak industri luar negeri yang meminta nilam Aceh. 

Saat ini, Unsyiah telah bekerja sama dengan beberapa eksportir dan pelaku industri parfum dari berbagai negara, termasuk Perancis. Beberapa produk juga telah dipasarkan seperti parfum, body lotion, hingga medicated oil.

“Dengan meningkatnya kebutuhan nilam, para petani memiliki ekosistem baru untuk menjual dan harganya menjadi lebih baik sehingga berdampak bagi peningkatan ekonomi mereka,” ujar Syaifullah.

Keyword:


Editor :
Sara Masroni

riset-JSI
Komentar Anda