Minggu, 17 Mei 2026
Beranda / Berita / Aceh / Ratusan Hektar Padi di Aceh Utara Terancam Kering, Petani Cemas Gagal Panen

Ratusan Hektar Padi di Aceh Utara Terancam Kering, Petani Cemas Gagal Panen

Rabu, 25 Maret 2026 14:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Naufal Habibi

Ratusan hektar lahan persawahan di Kabupaten Aceh Utara terancam mengalami kekeringan akibat kemarau berkepanjangan yang melanda wilayah tersebut. Foto: Naufal Habibi/dialeksis.com.


DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Ratusan hektar lahan persawahan di Kabupaten Aceh Utara terancam mengalami kekeringan akibat kemarau berkepanjangan yang melanda wilayah tersebut. 

Kondisi ini diperparah oleh rusaknya jaringan irigasi pascabanjir besar yang terjadi di Aceh pada akhir November 2025 lalu.

Sejumlah kawasan pertanian di Kecamatan Nisam seperti Gampong Teungoh, Gampong Binjee, Cot Mee, Cot Untung, Keutapang, hingga Gampong Cot Leupe kini menghadapi ancaman gagal panen. 

Tanaman padi yang sebelumnya tumbuh subur mulai menguning lebih cepat dari masa panen normal akibat kekurangan pasokan air.

Pantauan media dialeksis.com, Rabu, 25 Maret 2026 di lapangan menunjukkan kondisi sawah yang memprihatinkan. Tanah terlihat retak dan mengering, sementara saluran irigasi yang biasanya mengalirkan air ke lahan pertanian kini menyusut bahkan di beberapa titik tidak lagi mengalirkan air sama sekali. Tanaman padi yang semestinya masih berada pada fase pengisian bulir kini tampak layu dan pertumbuhannya terhenti.

Muhammad Rizal, salah seorang petani di kawasan tersebut, mengaku sangat khawatir dengan kondisi sawah mereka saat ini. Ia mengatakan jika hujan tidak segera turun, maka petani berpotensi mengalami kerugian besar pada musim tanam kali ini.

“Padi kami sudah menguning sebelum waktunya. Air tidak ada, tanah kering. Kalau kondisi ini terus terjadi, bisa gagal panen,” ujar Rizal kepada Dialeksis.com.

Menurut Rizal, kekeringan memang pernah terjadi pada musim sebelumnya. Namun, kondisi kemarau awal tahun ini dirasakan jauh lebih parah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

“Biasanya masih ada sisa air dari gunung atau hujan sesekali. Sekarang benar-benar kering. Saluran kecil yang biasa membantu juga sudah tidak ada airnya,” jelasnya.

Ia menambahkan, kerusakan jaringan irigasi akibat banjir besar yang melanda Aceh pada akhir November 2025 lalu juga menjadi salah satu penyebab utama berkurangnya pasokan air ke areal persawahan.

“Sejak banjir itu, banyak irigasi di hulu rusak. Air tidak lagi mengalir seperti dulu. Kalau tidak segera diperbaiki, petani pasti sangat dirugikan,” katanya.

Para petani berharap pemerintah daerah segera turun tangan untuk memperbaiki jaringan irigasi yang rusak agar suplai air ke sawah dapat kembali normal.

“Kami sangat berharap pemerintah bisa melihat langsung kondisi ini. Kalau irigasi diperbaiki, setidaknya masih ada harapan bagi padi kami,” tambah Rizal.

Sementara itu, kondisi cuaca panas yang belakangan dirasakan di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk Aceh, menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bukanlah fenomena gelombang panas atau heatwave. Peningkatan suhu udara tersebut dipicu oleh kondisi atmosfer musiman.

BMKG menjelaskan suhu terasa lebih terik karena dipengaruhi gerak semu matahari yang berada dekat wilayah ekuator, berkurangnya tutupan awan, serta pergerakan angin yang relatif lemah sehingga panas lebih terasa di permukaan.

Secara definisi, Organisasi Meteorologi Dunia atau World Meteorological Organization (WMO) menyebut heatwave sebagai periode akumulasi panas yang terjadi selama beberapa hari dan malam secara tidak biasa dengan suhu yang jauh di atas rata-rata normal suatu wilayah.

Berdasarkan data dari Stasiun Meteorologi Malikussaleh Aceh Utara, suhu udara di wilayah Lhokseumawe dan sekitarnya pada hari ini berkisar antara 23 hingga 34 derajat Celsius.

Selain itu, BMKG juga memprediksi tidak akan terjadi hujan dalam beberapa hari ke depan di sejumlah wilayah Aceh. Cuaca diperkirakan hanya berawan di enam kabupaten/kota, yakni Bener Meriah, Bireuen, Lhokseumawe, Aceh Utara, Aceh Timur, dan Langsa.

Berdasarkan prakiraan informasi BMKG Malikussaleh, kondisi berawan diprediksi berlangsung selama tiga hari, mulai Rabu (25/3/2026) hingga Jumat (27/3/2026).

Minimnya potensi hujan dalam beberapa hari ke depan tentu semakin menambah kekhawatiran para petani di Aceh Utara yang saat ini sangat bergantung pada pasokan air untuk menyelamatkan tanaman padi mereka.

Keyword:


Editor :
Alfi Nora

riset-JSI