Logo Dialeksis
Beranda / Berita / Aceh / Proses Perdamaian Bupati Aceh Tengah dengan Wakilnya Berlangsung Mulus

Proses Perdamaian Bupati Aceh Tengah dengan Wakilnya Berlangsung Mulus

Sabtu, 11 Juli 2020 13:58 WIB

Font: Ukuran: - +


DIALEKSIS.COM| Takengon “ Sengketa Bupati Aceh Tengah Shabela Abubakar dengan wakilnya Firdaus, walau kasusnya sudah ditangani Polda Aceh, berahir dengan perdamaian. Proses perdamaian yang dijembatani DPRK Aceh Tengah berlangsung mulus, Sabtu (11/07/2020) di gedung DPRK Takengon.

Kedua pihak yang bertikai ini meminta maaf kepada publik atas perselisihan mereka, dimana telah membuat berbagai pihak turut memberikan perhatian dan berupaya mendamaikan. Usaha semua pihak untuk mendamaikan mereka ahirnya berhasil.

“Saya menerima permintaan maaf saudara Firdaus. Inisiasi yang dilakukan tim pansus DPRK. Selama upaya perdamaian juga sudah diupayakan tokoh masyarakat, maupun Forum pimpinan daerah, majlis adat, dan berbagai pihak lainya,” sebut Shabela Abubakar.

Usai melangsungkan perdamaian, Shabela dan Firdaus yang didampingi ketua DPRK Aceh Tengah Arwin Mega dan ketua tim Pansus, Sukurdi Iska, memberikan keterangan kepada media soal permintaan maaf mereka.

Firdaus mengucapkan alhamdulilah atas kinerja berbagai pihak yang sudah berhasil mendamaikan persengketaan dirinya dengan Bupati Aceh Tengah. Permintaan maaf firdaus juga disampaikan kepada public.

Lebih khusus lagi, Shabela dalam keteranganya, selain mengucapkan terima kasih, juga menyampaikan permintaan maaf kepada Presiden RI melalui Mendagri, karena Aceh Tengah sudah mencoreng tatanan pemerintah di negeri ini.

“Melalui mediakami mengucapkan terima kasih yang setinggi-tinginya dan permintaan maaf. Khususnya pada pimpinan tertinggi di provinsi Aceh ini, Forkopimda Aceh dan pemerintah pusat, karena Aceh Tengah sudah mencoreng tatanan pemerintah,” sebut Shabela.

Semoga kedepanya persoalan seperti ini tidak terjadi lagi. Mari sama sama kita bangun negeri ini, untuk itu dukungan semua pihak sangat diharapkan, sebutnya. Kemudian Shabela menyampaikan falsafah Gayo.

“Sehen uren sigere sidang (Mana ada hujan yang tidak reda- Bahasa Gayo Red). Gelah kita bullet lagu umut, tirus lagu gelas. Semoga kita bulat seperti hatinya batang pisang bulatnya ada tatanan dan tirus bagaikan gelas, mulai dari pangkalnya sampai ke ujung gelas adanya keseragaman,”sebut Bela.

“Salah bertegah benar berpapah- bila salah saling mengingatkan, bila benar kita ikuti dan tuntun agar mendapatkan hasil yang baik. Kepada majlis adat tolong ingatkan saya bila ada kesalahan, karena kita bukan mahluk yang sempurna,” sebut Shabela.

Perdamaian yang berlangsung di gedung DPRK Aceh Tengah ini berlangsung mulus. Sebelumnya upaya perdamaian juga sudah diinisiasi Kajati Aceh, namun batal dilaksanakan, karena kondisi fisik Shabela tidak memungkin hadir untuk perdamaian di Banda Aceh.

Dengan adanya perdamaian ini, banyak pihak berharap agar persoalan ini tidak terjadi lagi dan mereka (bupati-wakil) dapat bekerja maksimal, karena masa kepemimpinanya hanya berkisar dua tahun lagi. (baga)


Editor :
Redaksi

riset-JSI
malikusaleh idul adha
Komentar Anda
dinsos dan M