Dialeksis - Akurat, Tajam, dan Strategis
Beranda / Berita / Aceh / Pidie Jadi Proyek Percontohan Budidaya Bawang Merah

Pidie Jadi Proyek Percontohan Budidaya Bawang Merah

Rabu, 09 Oktober 2019 20:43 WIB

Font: Ukuran: - +
Prosesi seremonial panen bersama proyek percontohan budidaya bawang merah di Desa Sagoe, Keumala, Pidie, Rabu (9/10/2019). [Foto: IST/Dialeksis.com] 

DIALEKSIS.COM | Pidie - Empat kecamatan di Kabupaten Pidie dijadikan proyek percontohan demonstration plot) budidaya bawang merah yang dilaksanakan oleh Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Aceh bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Pidie. 

Kepala Perwakilan BI Aceh Zainal Arifin Lubis menyebutkan, proyek percontohan ini merupakan bagian dari program klaster ketahanan pangan komoditas bawang merah yang dijalankan Bank Indonesia dengan Pemkab Pidie sejak 2016. Tujuannya untuk mendukung pengendalian inflasi dan menjaga pasokan bawang merah.

Hal itu disampaikan Zainal Arifin Lubis saat memberikan sambutan dalam prosesi seremonial panen bersama proyek percontohan budidaya bawang merah di Desa Sagoe, Keumala, Pidie, Rabu (9/10/2019).

Proyek percontohan tersebut dilaksanakan dengan melibatkan empat kelompok tani di daerah Kecamatan Simpang Tiga, Bambi (Kecamatan Peukan Baro), Kecamatan Keumala, dan Tangse.

Tujuan dari proyek itu antara lain memperluas lahan luas panen bawang merah yang saat ini terus mengalami penurunan, memberikan contoh bagi masyarakat di kawasan baru, Keumala dan Tangse, untuk memanfaatkan lahan untuk pertanian bawang merah pada saat musim padi berakhir, serta meningkatkan pasokan bibit bawang merah di Kabupaten Pidie.

Dikatakan, tahun ini, Kantor Perwakilan BI Aceh juga melibatkan Pusat Pengembangan Pertanian Organik Universitas Syiah Kuala sebagai tenaga ahli untuk meningkatkan kompetensi petani dalam pembudidayaan bawang merah, sehingga dapat meningkatkan produktivitas dan kualitas hasil panen.

Data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional, harga bawang merah per Oktober berkisar Rp14.250 s/d Rp38.200. Nilai ekonomis tersebut merupakan insentif bagi petani untuk membudidayakan bawang merah.

“Dengan nilai ekonomis yang cukup tinggi tersebut, mayoritas daerah di Indonesia memiliki daerah penghasil bawang merah,” kata Zainal.

Pada tahun 2018, data menunjukkan luas lahan panen bawang merah Indonesia mencapai 159 ribu ha dengan tingkat produksi 1,5juta ton dan tingkat produktivitas 9,59 ton per ha. Sedangkan Provinsi Aceh memiliki 917 ha lahan panen bawang merah dengan tingkat produksi mencapai 6.816 ton dan tingkat produktivitas 7,43 ton per ha.

Dia menyebutkan, Pidie masih menjadi daerah penghasil bawang tertinggi di Provinsi Aceh, diikuti Aceh Tengah, Bener Meriah, Gayo Lues dan Aceh Besar.

Namun jika dilihat dari pertumbuhannya pada 2017 - 2018, luas lahan panen bawang merah di Aceh mengalami penurunan signifikan yaitu mencapai 257 Ha (-21,89%). Sementara itu, tingkat produksi juga menurun -22,93% atau 2.028 ton. Tingkat produktivitas bawang merah di Aceh pun menurun -1,43% (sumber BPS).

“Data itu menunjukkan setiap tahun pertanian bawang merah di Aceh mengalami penurunan. Hal ini memprihatinkan mengingat kebutuhan bawang merah baik secara nasional maupun provinsi cukup tinggi,” ujarnya.

Meskipun saat ini, Indonesia mengalami surplus bawang merah, pengembangan komoditas bawang merah masih sangat potensial baik untuk memenuhi kebutuhan konsumsi dalam negeri yang mencapai 51 kg/kapita maupun memenuhi kebutuhan pasar global seperti Thailand, Malaysia, dan Singapura.

“Pelaksanaan program klaster ketahanan pangan tidak terlepas dari tugas pokok Bank Indonesia dalam menjaga dan mengendalikan inflasi di daerah,” kata Kepala BI Aceh.

Melalui kerja sama dengan Pusat Pengembangan Pertanian Organik Unsyiah, pengembangan lahan percontohan dimaksud telah mengimplementasikan beberapa inovasi budidaya, baik dalam hal pengelolaan sumberdaya lahan, penggunaan varietas yang adaptif, teknologi pemupukan yang berimbang antara organik dan anorganik, teknik pemeliharaan berbasis kearifan lokal dan standarisasi penerapan Good Agriculture Pratice (GAP).

Inovasi tersebut berdampak pada peningkatan kualitas dan kuantitas hasil produksi. Terbukti hasil produksi bawang proyek percontohan mencapai 30 ton/ha, lebih tinggi sekitar 50% dari produksi bawang merah pada umumnya.

“Karena itu, lahan percontohan yang kita seremonialkan pada hari ini diharapkan dapat direplikasi oleh Pemerintah setempat, dalam hal ini Pemerintah Kabupaten Pidie,” harap Zainal.

Sumber Perekonomian Daerah

Plt Sekda Pidie, Maddan, dalam sambutannya menyatakan, pertumbunan ekonomi Pidie tahun lalu mencapai 4,83% di atas rata-rata pertumbuhan ekonomi tingkat provinsi. Kondisi ini didukung dengan perkembangan produksi bawang merah yang menjadi salah satu sektor andalan yang mampu memenuhi kebutuhan domestik dan penyumbang PDRB terbesar.

“Pemerintah Kabupaten Pidie melihat adanya keterbatasan para petani untuk memperoleh akses modal dari perbankan. Situasi ini menyebabkan ketergantungan petani kepada rentenir,” ujarnya.

Karena itu, diharapkan perbankan dapat lebih proaktif dalam memberikan dan/atau menyediakan akses pembiayaan kepada para petani.

Dari sisi budidaya, Pemkab Pidie melihat perlunya menjaga ketersediaan lahan abadi/lahan khusus bawang merah, yang selama ini lahan masih sering digunakan untuk menanam komoditas lainnya. Hal ini secara tidak langsung menyebabkan produksi bawang merah tidak berkelanjutan.

Selain itu, implementasi pengaturan pola tanam juga diperlukan untuk mendukung pemenuhan pasokan bawang merah.

Ke depan, Pemerintah Kabupaten Pidie mengharapkan agar kawasan Keumala dan Tangse tidak hanya menjadi lumbung padi melainkan juga menjadi lumbung bawang merah.(red)


Editor :
Makmur Emnur

Komentar Anda