Minggu, 17 Mei 2026
Beranda / Berita / Aceh / Muhammadiyah Gelar Salat Idulfitri Lebih Awal di Unmuha, Khatib Tekankan Pentingnya Ilmu dalam Ibadah

Muhammadiyah Gelar Salat Idulfitri Lebih Awal di Unmuha, Khatib Tekankan Pentingnya Ilmu dalam Ibadah

Jum`at, 20 Maret 2026 10:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Arn

Khatib Salat Idulfitri di Unmuha dipercayakan kepada Ust. Riza Afrian Mustaqim, S.Hi., MH, dosen UIN Ar-Raniry. [Foto: dialeksis.com]


DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Muhammadiyah telah menetapkan 1 Syawal 1447 Hijriah jatuh pada Jumat (20/3/2026), berdasarkan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) yang tertuang dalam Maklumat Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nomor 2/MLM/1.0/E/2025.

Salah satu pelaksanaan Salat Idulfitri digelar di Kampus Universitas Muhammadiyah Aceh (Unmuha), Batoh, Lueng Bata, Banda Aceh, pada Jumat pagi pukul 07.30 WIB. Pada pelaksanaan tersebut, Ust. Darwis Lathief, S.Sos. bertindak sebagai imam, sedangkan khatib dipercayakan kepada Ust. Riza Afrian Mustaqim, S.Hi., MH, dosen UIN Ar-Raniry.

Dalam khutbahnya, Riza menegaskan bahwa Idulfitri merupakan momentum kembali kepada fitrah setelah sebulan penuh berpuasa. Ia mengajak jamaah untuk menjadikan Ramadan bukan sekadar ritual tahunan, melainkan sebagai sarana meningkatkan kualitas keimanan, ketakwaan, dan penghambaan kepada Allah SWT.

Ia mengingatkan bahwa keberhasilan Ramadan tidak hanya diukur dari menahan lapar dan dahaga, tetapi sejauh mana umat mampu memperbaiki diri dan memperkuat kecintaan kepada Allah.

“Takbir yang kita kumandangkan hari ini adalah tanda kemenangan, bukan sekadar karena telah berpuasa, tetapi karena berhasil meningkatkan kualitas ibadah,” ujarnya saat berkhutbah didengar langsung Dialeksis.

Riza juga menekankan prinsip dasar dalam Islam bahwa ilmu harus didahulukan sebelum amal. Menurutnya, setiap ibadah yang dilakukan tanpa landasan ilmu berpotensi menimbulkan kekeliruan dalam memahami hakikat penghambaan kepada Allah.

Ia menjelaskan, banyak aspek ibadah yang membutuhkan ketepatan ilmu, seperti penentuan arah kiblat, waktu salat, hingga tata cara pelaksanaan ibadah sesuai mazhab. Dengan perkembangan ilmu pengetahuan saat ini, umat Islam seharusnya lebih mudah memastikan akurasi dalam beribadah, termasuk dalam menentukan arah kiblat secara tepat hingga mendekati ‘ainul Ka’bah.

Selain itu, ia menyoroti pentingnya pemahaman dalam pelaksanaan zakat, khususnya terkait perhitungan haul. Menurutnya, penggunaan kalender Masehi dalam menghitung zakat berpotensi menimbulkan kekurangan, karena tidak sejalan dengan sistem kalender Hijriah yang menjadi dasar dalam syariat Islam.

“Hal-hal seperti ini sering luput dari perhatian kita. Padahal, ibadah memiliki keterikatan kuat dengan waktu dan ketentuan yang telah ditetapkan Allah SWT,” jelasnya.

Lebih lanjut, Riza menyinggung pentingnya penyatuan kalender Hijriah sebagai upaya menghadirkan keseragaman dalam pelaksanaan ibadah umat Islam di seluruh dunia. Ia menyebut konsep Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) sebagai salah satu solusi yang telah lama dibahas oleh para ulama dan kini mulai diimplementasikan.

Menurutnya, semangat persatuan umat harus dikedepankan dalam menyikapi perbedaan, termasuk dalam penentuan awal bulan Hijriah. Perbedaan yang ada tidak seharusnya menjadi sumber perpecahan, melainkan disikapi dengan ilmu, kedewasaan, dan kebijaksanaan.

“Umat Islam adalah satu kesatuan. Ilmu pengetahuan harus melahirkan ketepatan dalam ibadah sekaligus kebijaksanaan dalam menyikapi perbedaan,” tutupnya. [arn]

Keyword:


Editor :
Indri

riset-JSI