Minggu, 17 Mei 2026
Beranda / Berita / Aceh / Muhammadiyah Aceh Pastikan Salat Idulfitri Jumat, Prof Al-Yasa’ Abubakar Ingatkan Sikap Bijak Hadapi Perbedaan

Muhammadiyah Aceh Pastikan Salat Idulfitri Jumat, Prof Al-Yasa’ Abubakar Ingatkan Sikap Bijak Hadapi Perbedaan

Kamis, 19 Maret 2026 19:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Arn

Prof. Dr. H. Al-Yasa’ Abubakar, M.A., menegaskan bahwa warga Muhammadiyah di Aceh akan melaksanakan Salat Idulfitri pada hari Jumat. [Foto: net]


DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Tokoh intelektual dan akademisi terkemuka Aceh, Prof. Dr. H. Al-Yasa’ Abubakar, M.A., menegaskan bahwa warga Muhammadiyah di Aceh akan melaksanakan Salat Idulfitri pada hari Jumat. Kepastian itu, menurutnya, merupakan bagian dari keputusan dan instruksi resmi Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang harus diikuti oleh seluruh struktur dan warga persyarikatan.

Muhammadiyah lebarannya hari Jumat, karena itu sudah merupakan keputusan dan instruksi pimpinan pusat Muhammadiyah. Jadi semua organisasi Muhammadiyah akan mengerjakan Salat Idulfitri pada hari Jumat,” ujar Prof. Al-Yasa’ saat diwawancarai Dialeksis, Kamis (19/3/2026).

Terkait lokasi pelaksanaan Salat Idulfitri di Banda Aceh, Prof. Al-Yasa’ menyebut kemungkinan akan ada beberapa titik. Namun, ia mengaku tidak mengetahui secara pasti seluruh lokasi yang disiapkan panitia.

“Direncanakan bagaimana di Banda Aceh? Mungkin ada beberapa tempat, tapi saya tidak tahu persis. Kalau pimpinan wilayahnya itu ada di Kampus Universitas Muhammadiyah Aceh di Banda Aceh. Mungkin pimpinan daerah mungkin ada, tapi saya kurang tahu,” tuturnya.

Prof. Al-Yasa’ juga menyampaikan pesan kepada kader Muhammadiyah agar tetap berpegang pada arahan organisasi, sekaligus menyikapi perbedaan penetapan hari raya dengan bijak dan penuh penghormatan.

Menurutnya, Pimpinan Pusat Muhammadiyah telah mempertimbangkan keputusan tersebut dengan menggunakan metode hisab dalam kerangka Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT). Karena itu, ia berharap seluruh kader dan simpatisan Muhammadiyah dapat menjalankannya secara konsisten.

“Kalau untuk kader Muhammadiyah, tentu PP mengharapkan mengikuti instruksi pimpinan pusat. Jadi itu untuk kader, karena pimpinan pusat sudah mempertimbangkan keputusannya. Muhammadiyah mengikuti HISAB KHGT, jadi HISAB yang digunakan sekarang ini, HISAB dengan kriteria kalender hijriah global tunggal. Itu yang dipakai oleh Muhammadiyah, jadi itu mengharapkan seperti itu,” jelasnya.

Meski demikian, Prof. Al-Yasa’ menegaskan bahwa Muhammadiyah memahami perbedaan dalam penentuan awal bulan hijriah, termasuk penetapan hari raya, sebagai bagian dari wilayah ijtihad. Menurutnya, persoalan tersebut bukan ranah ibadah murni, melainkan ibadah yang juga melibatkan pemikiran dan penalaran.

“Muhammadiyah memahami, menyatakan secara jelas masalah penentuan awal tanggal hijriah, termasuk hari raya dan yang lain-lain itu masalah ijtihadiah. Jadi masalah ijtihadiah, jadi itu bukan masalah ibadah murni. Itu masalah ibadah yang bercampur dengan pemikiran. Jadi karena hal tersebut, kalau ada yang berbeda pendapat ya disilahkan saja sesuai dengan keyakinannya secara pribadi,” katanya.

Ia menambahkan, sikap terbuka menjadi ciri Muhammadiyah dalam menyikapi perbedaan pandangan di tengah masyarakat. Karena itu, siapa pun yang ingin mengikuti pelaksanaan Salat Idulfitri Muhammadiyah dipersilakan hadir.

“Jadi secara pribadi seperti itu. Disilahkan saja, karena Muhammadiyah terbuka, jadi kalau ada yang mau ikut Muhammadiyah silahkan saja. Tempat salatnya kalau di Banda Aceh, seperti saya katakan tadi, di pimpinan wilayah itu di Kampus Universitas Muhammadiyah Aceh di Banda Aceh. Kalau salatnya itu dimulai jam 7.30 pagi,” pungkasnya.

Dengan penegasan tersebut, Muhammadiyah Aceh memastikan kesiapan menjalankan Salat Idulfitri sesuai keputusan organisasi, sembari tetap mengedepankan sikap saling menghormati di tengah perbedaan penetapan 1 Syawal di masyarakat. [arn]

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI