Rabu, 26 Agustus 2026
Beranda / Berita / Aceh / MAA Aceh Imbau Masyarakat Jaga Sopan Santun Berbahasa Termasuk di Media Sosial

MAA Aceh Imbau Masyarakat Jaga Sopan Santun Berbahasa Termasuk di Media Sosial

Rabu, 26 Agustus 2026 12:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Naufal Habibi

Ketua Majelis Adat Aceh (MAA) Provinsi Aceh, Prof. Dr. Drs. Yusri Yusuf, M.Pd. [Foto: net]


DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Majelis Adat Aceh (MAA) Provinsi Aceh mengimbau seluruh masyarakat untuk menjaga sopan santun dalam berbahasa dan bertutur kata, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun saat berkomunikasi melalui media sosial.

Imbauan tersebut disampaikan MAA Aceh dalam Amaran tentang Sopan Santun Berbahasa dalam Kehidupan Masyarakat Aceh. Amaran itu ditandatangani Ketua MAA Aceh, Prof. Dr. Drs. Yusri Yusuf, M.Pd., bersama Kepala Sekretariat MAA, Muhammad Junaidi, SH, MH.

Prof Yusri Yusuf mengatakan, penggunaan bahasa harus menjadi cerminan akhlak dan kepribadian seseorang. Karena itu, setiap orang perlu mempertimbangkan baik buruk, pantas tidak pantas, serta manfaat dan mudarat dari perkataan yang disampaikan.

"Bahasa merupakan bagian penting dari jati diri, marwah dan kebudayaan masyarakat Aceh. Berbicara bukan sekadar menyampaikan pikiran, tetapi juga mencerminkan akhlak, adab, kehormatan diri, penghormatan kepada orang lain, serta marwah keluarga dan masyarakat," demikian pesan MAA dalam amarannya.

Guru Besar Universitas Syiah Kuala ini mengingatkan masyarakat Aceh agar membiasakan diri berbicara dengan sopan, santun, lemah lembut, jujur dan penuh penghormatan. Sikap tersebut terutama perlu diterapkan ketika berbicara dengan orang tua, ulama, guru, pemimpin, tamu, perempuan, anak-anak dan sesama anggota masyarakat.

Prof Yusri juga menekankan pentingnya menjaga tutur kata di tengah perbedaan pendapat. Perbedaan pandangan, menurut MAA, tidak boleh menjadi alasan untuk menghina, mencaci, mempermalukan atau merendahkan orang lain.

Sebaliknya, perbedaan hendaknya diselesaikan melalui musyawarah, hikmah, kesabaran dan bahasa yang menyejukkan.

"Jagalah lisan karena lisan mencerminkan akhlak. Jagalah perkataan karena perkataan dapat menyatukan dan dapat pula memisahkan," pesan Prof Yusri.

Prof Yusri turut menyoroti perkembangan teknologi komunikasi dan media sosial yang membuat masyarakat semakin mudah menyampaikan pendapat. Kondisi tersebut dinilai perlu diiringi dengan kesadaran untuk menghindari penggunaan kata-kata kasar, penghinaan, fitnah, caci maki, ujaran kebencian dan perkataan yang merendahkan martabat orang lain.

Menurut MAA, kesantunan berbahasa tidak hanya wajib dijaga dalam komunikasi secara langsung, tetapi juga dalam komunikasi digital, termasuk melalui WhatsApp, Facebook, Instagram, TikTok, YouTube dan berbagai media sosial lainnya.

Masyarakat juga diimbau tidak menjadikan media sosial sebagai tempat untuk mencaci, mempermalukan, menyebarkan fitnah, mengadu domba atau menyerang kehormatan seseorang.

Sebelum menyebarkan sebuah informasi atau menyampaikan komentar, Prof Yusri mengajak masyarakat membiasakan diri bertanya kepada diri sendiri, apakah yang disampaikan sudah santun, baik, perlu disampaikan dan apakah cara penyampaiannya sudah tepat.

Selain masyarakat umum, Prof Yusri meminta orang tua, keluarga, guru, tokoh masyarakat, ulama, pemangku adat serta pemimpin gampong menjadi teladan dalam menerapkan sopan santun berbahasa.

"Pembelajaran bahasa yang santun hendaknya dimulai dari rumah, sekolah, masyarakat, tempat pengajian, gampong dan lingkungan," demikian imbauan tersebut.

MAA juga mendorong para orang tua membiasakan anak-anak menggunakan ungkapan sederhana yang mencerminkan kesantunan, seperti mengucapkan salam, meminta izin, mengucapkan terima kasih, berbicara dengan suara dan intonasi yang pantas, tidak memotong pembicaraan serta menghormati pendapat orang lain.

Dalam konteks adat Aceh, Prof Yusri menilai para pemangku adat, seperti keuchik, tuha peut, imum meunasah, ulama, tokoh agama dan tokoh masyarakat, memiliki peran penting dalam membangun budaya bertutur yang santun.

Mereka diharapkan dapat menjadi penengah ketika terjadi perselisihan dengan mengedepankan musyawarah, perdamaian dan pemulihan hubungan sosial.

Prof Yusri juga mengajak generasi muda menjadikan kesantunan berbahasa sebagai bagian dari pendidikan karakter. Sekolah, keluarga dan organisasi kepemudaan dinilai perlu bersama-sama membangun kebiasaan menjaga lisan dan menghormati sesama.

Prof Yusri berharap Amaran tentang Sopan Santun Berbahasa tersebut dapat menjadi pedoman moral dan sosial bagi masyarakat Aceh dalam membangun budaya komunikasi yang lebih beradab, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun di ruang digital.

"Marilah kita membangun kembali budaya Aceh yang menjunjung tinggi adab, akhlak, marwah, rasa hormat, persaudaraan dan perdamaian, dimulai dari cara kita berbicara," ujar Prof Yusri. [nh]

Keyword:


Editor :
Indri

riset-JSI
pema - damai
dishub