Kamis, 25 Juni 2026
Beranda / Berita / Aceh / Lumpur Bencana Diusulkan Jadi Bahan Bata, Solusi Sawah Rusak Berat di Aceh

Lumpur Bencana Diusulkan Jadi Bahan Bata, Solusi Sawah Rusak Berat di Aceh

Kamis, 21 Mei 2026 11:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Plt Kadistanbun Aceh, Dr Ir Azanuddin Kurnia SP MP, mengusulkan pemanfaatan lumpur bekas bencana pada lahan sawah kategori rusak berat menjadi bahan baku batubata maupun bata ringan saat mengikuti rapat koordinasi pengawalan program rehabilitasi lahan sawah yang digelar Kantor Staf Presiden (KSP), dipimpin langsung oleh Farhan Isma secara daring pada Rabu (20/5/2026) di Medan. [Foto: Doumen dialeksis.com]


DIALEKSIS.COM | Medan - Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan (Kadistanbun) Aceh, Dr Ir Azanuddin Kurnia SP MP, mengusulkan pemanfaatan lumpur bekas bencana pada lahan sawah kategori rusak berat menjadi bahan baku batubata maupun bata ringan.

Usulan tersebut disampaikan Azanuddin dalam rapat koordinasi pengawalan program rehabilitasi lahan sawah yang digelar Kantor Staf Presiden (KSP), dipimpin langsung oleh Farhan Isma secara daring pada Rabu (20/5/2026) di Medan.

Menurut Azanuddin, pemanfaatan lumpur menjadi bahan bangunan dapat menjadi solusi alternatif karena rehabilitasi konvensional membutuhkan biaya sangat besar, sementara lokasi pembuangan lumpur juga menjadi persoalan tersendiri.

Dalam rapat itu, Azanuddin melaporkan progres penanganan sawah terdampak bencana. Untuk kategori rusak ringan seluas 27.071 hektare dari total 27.437 hektare, saat ini sedang dilakukan Survey Investigasi Desain (SID) dan penyusunan Dokumen Rancangan Teknis (DRT) oleh Universitas Syiah Kuala (USK), Universitas Malikussaleh (Unimal), dan Universitas Samudera (Unsam) Langsa.

Sementara itu, rehabilitasi sawah kategori rusak sedang baru mencakup 4.393 hektare dari total 13.651 hektare yang mengalami kerusakan. Sejumlah daerah seperti Pidie Jaya, Bireuen, Aceh Utara, dan Aceh Timur telah memasuki tahap konstruksi.

"Insya Allah akhir Juni seluruh konstruksi selesai dan awal hingga pertengahan Juli lahan tersebut sudah bisa ditanami kembali," ujar Azanuddin.

Adapun sawah kategori rusak berat seluas sekitar 16.276 hektare hingga kini belum tertangani. Karena itu, Azanuddin mendorong pengembangan teknologi pemanfaatan lumpur menjadi bahan bangunan.

Ia menjelaskan, gagasan tersebut juga sedang dikaji Forum Zakat bersama BRIN dan USK. Saat ini tim peneliti tengah melakukan uji laboratorium terhadap sampel lumpur dari Pidie Jaya dan Aceh Tamiang.

Menurut Azanuddin, jika penelitian berhasil, manfaat yang diperoleh cukup besar. Selain mengurangi persoalan penumpukan lumpur, petani juga berpotensi memperoleh pendapatan tambahan dari produksi batubata, sementara pemerintah mendapatkan pasokan bahan bangunan untuk pembangunan hunian maupun fasilitas lainnya.

Usulan tersebut mendapat respons positif dari pimpinan rapat KSP, Farhan Isma. Ia menyatakan gagasan tersebut akan disampaikan lebih lanjut kepada kementerian dan lembaga terkait untuk dikaji dan dikembangkan secara lebih luas. [*]

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI
dishes