Beranda / Berita / Aceh / Ketua PEUSABA: Setara Institute dan Walikota Harus Belajar Lagi tentang Sejarah Banda Aceh

Ketua PEUSABA: Setara Institute dan Walikota Harus Belajar Lagi tentang Sejarah Banda Aceh

Rabu, 12 Desember 2018 08:42 WIB

Font: Ukuran: - +

Mawardi Usman, Ketua Lembaga Penyelamat Sejarah dan Budaya Aceh (Peusaba).

DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Menyikapi Indeks Kota Toleran 2018 yang dikeluarkan Setara Institute pada Juma'at (7/12) lalu, Ketua Lembaga Penyelamat Sejarah dan Budaya Aceh (Peusaba) Mawardi Usman mengaku tidak terkejut sama sekali atas dinobatkannya Banda Aceh sebagai Kota Toleran terendah nomor 2 di Indonesia dengan indeks  2.830.

Menurutnya, ada beberapa hal yang menyebabkan penelitian tidak independen seperti ini. Dari kebanyakan itu terjadi karena peneliti umumnya memiliki phobia atau ketakutan yang berlebihan terhadap Islam.

"Padahal Islam adalah Rahmatal Lil Alamin, tanpa Islam manusia masih dalam keadaan Jahiliyah dan tidak akan bisa  merasakan peradaban modern," ujarnya melalui rilis yang diterima Dialeksis.com pada Selasa (11/12) malam.

Ketua Peusaba Aceh juga meminta Setara Institute belajar sejarah terkait Kota Banda Aceh lebih banyak lagi.

"Banda Aceh didirikan oleh Sultan Johan Syah 22 April 1205, sekarang sudah berusia 813 tahun. Cobalah pergi ke Banda Aceh anda akan mendapatkan Lonceng Cakra Donya pemberian Cheng Ho dari Kaisar Yong Le Dinasti Ming tahun 1412," tambahnya.

Ia juga menjelaskan banyak gampong di Banda Aceh yang menjadi ikon bagi toleransi itu sendiri, seperti Gampong Peunayong yang banyak komunitas Cina hidup rukun dan damai mencari rezeki di Aceh, menurutnya itu adalah negeri Ideal yang Baldatun Tayyibatun Warabbul Ghafur.

Kemudian, sambungnya lagi, Gampong Keudah, dan Gampong Jawa adalah tempat jamaah haji dari Pulau Jawa belajar di Aceh pada  masa lalu sebelum berhaji ke Mekkah, juga keberadaan Gampong Bitay yang menjadi kediaman Perwira Turki masa lalu saat melawan Portugis, serta Gampong Surien menjadi tempat kediaman para perwira Suriah di Aceh yang membantu melawan Portugis di Malaka.

"Silahkan meneliti secara ilmiah di Aceh jangan meneliti jarak jauh seolah-olah sudah memiliki kemampuan Dr Stephen Strange (tokoh Avengers yang bisa menembus dimensi)," lanjut pria yang akrab disapa Agam itu.

Ketua Peusaba Juga mengkritik Walikota yang tidak serius menjaga situs Sejarah yang ada di Banda Aceh, dikatakannya malah Walikota lebih jauh ikut terlibat aktif mencari Donatur membuat Proyek IPAL dan PLTSa di Gampong Pande dan Gampong Jawa yang akan memusnahkan sejarah Aceh. Padahal disana terkubur 500 Ulama dari Turki Seljuq Bagdad.

"Supaya Walikota sadar inilah implikasi dari meninggalkan adat dan sejarah Negeri sendiri. Betapa Walikota habis-habisan melobi pusat untuk melanjutkan IPAL dan PLTSa (Pembangkit Listrik Tenaga Sampah) di Kompleks makam Ulama, apa balasan yang diterima Banda Aceh? yaitu menjadi negeri nomor 2 yang tidak memiliki toleransi," ketusnya

Pada kesempatan itu, Ketua Peusaba mengatakan masih berharap kepada Walikota Banda Aceh agar menyadari kesalahannya dan bertingkah laku terpuji selayaknya pemimpin dari Kota Banda Aceh yang menjadi kota Tua setara London dan Istanbul.

"Agar terus melaksanakan Syariat Islam dengan melindungi Makam para Ulama dan Raja serta menjauhkan proyek IPAL dan PLTSa Sampah di Gampong Pande dan Gampong Jawa serta mendengarkan arahan para Ulama Aceh," harapnya seperti yang tertulis dalam rilis. (rel)

Keyword:


Editor :
Indri

riset-JSI
Komentar Anda