Logo Dialeksis
Beranda / Berita / Aceh / Kenduri “Memek” Simelue Jadi satu menu khas dalam Aceh Culinary Festival 2018

Kenduri "Memek" Simelue Jadi satu menu khas dalam Aceh Culinary Festival 2018

Jum`at, 04 Mei 2018 18:36 WIB

Font: Ukuran: - +


DIALEKSIS.COM, Banda Aceh - Festival Kuliner Aceh (Aceh Culinary Festival) 2018 yang digelar di Blang Padang Banda Aceh, Jumat (4/5) malam akan dibuka Gubernur Yusuf. Festival yang mengusung tema "New traditional: look good, taste good" ini adalah salah satu unggulan dalam 100 even wisata wonderful Indonesia yang diluncurkan Kementerian Pariwisata.

Disbudpar Aceh dalam siaran pers, menyebutkan, lebih dari 100 pelaku usaha kuliner, pengamat, serta komunitas penikmat dan hobi, akan berpartisipasi dalam even tahunan itu. Tujuannnya, untuk melestarikan budaya kuliner Aceh, berbagai menu inovasi cita rasa Aceh yang diramu dengan berbagai unsur kuliner dunia, akan ditampil. Sederet chef ternama hadir unjuk kebolehan. Paduan inovasi dan kreasi mengolah kuliner khas Aceh menjadi sajian yang memiliki tampilan yang lebih premium, dalam balutan konsep fine dining akan manarik para penggila kuliner. 

Berbagai menu tradisional Aceh disajikan, di antara makanan khas Simelue ‘Memek’ yang mengundang chef Simeulue menjadi menu paling "mesum" dalam festival yang berlangsung tiga hari (4-7 Mei) tersebut. Ada kopi menu signature sanger espresso blang, hasil racikan anak muda pejuang yang lagi hit di era third wave sekarang.Sanger blend adalah menu yang menjadi ciri khas dari kedai kopi itu sendiri.

Selain menu-menu tradisional Aceh, festival juga memberikan perhatian khusus pada fusion food atau perkawinan citarasa Aceh dengan berbagai jenis kuliner dari seluruh belahan dunia. Tercatat 36 tenant yang akan menawarkan inovasi menu Aceh di zona Fusion Food Market, zona dengan daya tampung terbesar di Aceh Culinary Festival tahun ini.

"Di zona ini, pengunjung bisa menikmati ragam inovasi rasa seperti leughok keju, pie asoe kaya, kimbap sunti, roti canai kuah pliek u, nasi goreng, kopi, smoothie bowl pisang thok, sushi engkot tumeh, klapertart boh nipah, turn over keumamah, dan bermacam kelezatan lainnya," tulis Disbudpar Aceh dalam rilisnya.

Selanjutnya, terdapat 30 tenant khas Aceh di Zona Aceh Traditional Market, 12 tenant yang menyajikan penganan khas nusantara di Zona Nusantara Delight, 12 tenant kopi, coklat dan minuman segar, 10 tenant jajanan kekinian, serta 12 tenant asosiasi komunitas hobi dan pemerhati kuliner. Karena keterbatasan kapasitas, dari 138 tenant yang mendaftar, panitia menyeleksi dan meloloskan 120 tenant untuk mengisi Aceh Culinary Festival 2018.

Skill memasak ala chef dengan kemampuan gastronomy molecular hingga standar Michelin Star (penghargaan di bidang kuliner kelas dunia) akan disuguhkan dalam Festival Kuliner Aceh atau Aceh Culinary Festival 2018,

Dalam acara tersebut juga ada sejumlah kegiatan lain dan aneka lomba. Di antaranya Workshop food stylist, food photography, dan food preneur yang menghadirkan pakar dan praktisi yang ahli di bidangnya. Workshop itu digelar secara gratis bagi pengunjung yang mendaftar.

"Selain itu, kenduri tetap menjadi suguhan wajib. Bagi pengunjung yang beruntung, aneka ragam hidangan khas Aceh dapat dinikmati secara gratis, selama persediaan masih ada," tulis Disbudpar Aceh dalam pers rilisnya.

Bagi yang ingin menjajal kemampuan food photography dan food stylist, jangan lewatkan berbagai kompetisi food photography tematik dan food styling challenge. Lomba yang digelar di lokasi acara setiap hari itu memperebutkan hadiah jutaan rupiah. Tahun ini, para tenant pengisi stand pameran juga akan memperebutkan gelar tenant terbaik pelestari budaya kuliner dan tenant dengan inovasi kuliner terbaik dengan hadiah total Rp 10 juta.

Festival tiga hari itu makin meriah dengan penampilan berbagai pertunjukan seni budaya Aceh. Penyanyi dan penulis lagu berbakat Indonesia, hingga kelompok musik Fusion Ethnic yang kiprahnya sudah sampai ke panggung Java Jazz yang diluncurkan Kementerian Pariwisata juga akan memeriahkan even tersebut.(*)


Editor :
Ampuh Devayan

riset-JSI
Komentar Anda