Minggu, 17 Mei 2026
Beranda / Berita / Aceh / Dua Ramalan Terbukti, Satu Lagi Menunggu

Dua Ramalan Terbukti, Satu Lagi Menunggu

Senin, 09 Maret 2026 19:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Ratnalia

Pengajar dan pengelola pendidikan dayah, Dr. H. Teuku Zulkhairi, MA. Foto: doc pribadi/Dialeksis


DIALEKSIS.COM | Aceh - Pengajar dan pengelola pendidikan dayah, Dr. H. Teuku Zulkhairi, MA, menilai ramalan seorang akademisi Tiongkok terkait dinamika politik global layak menjadi bahan refleksi serius bagi pengamat hubungan internasional.

Ramalan tersebut disampaikan pada 2024 oleh seorang profesor bernama Jiang Xueqin yang memprediksi tiga hal meliputi Donald Trump akan memenangkan pemilihan presiden Amerika Serikat, Trump akan menyerang Iran, dan Amerika Serikat pada akhirnya akan kalah dalam perang.

“Menariknya, dua dari tiga prediksi itu kini disebut-sebut telah terjadi. Trump kembali memenangkan pemilihan, dan ketegangan militer dengan Iran meningkat hingga terjadi serangan,” kata Zulkhairi dalam keterangannya kepada Dialeksis, Senin (9/3/2026).

Menurut Zulkhairi, fenomena ini tidak perlu dilihat sebagai sesuatu yang mistis atau sekadar ramalan spekulatif. Ia menilai prediksi tersebut kemungkinan lahir dari pembacaan geopolitik yang tajam terhadap pola kekuatan global.

“Para akademisi seringkali mampu membaca arah peristiwa berdasarkan tren sejarah, dinamika militer, dan perubahan keseimbangan kekuatan dunia,” ujarnya.

Zulkhairi menjelaskan bahwa dalam banyak konflik modern, kekuatan militer besar tidak selalu berujung pada kemenangan strategis. Ia mencontohkan pengalaman Amerika Serikat di Vietnam dan Afghanistan, di mana keunggulan teknologi militer tidak otomatis menghasilkan kemenangan politik.

“Perang modern sangat kompleks. Negara yang kuat secara militer belum tentu mampu memenangkan perang secara strategis, apalagi jika menghadapi perlawanan yang berlapis, panjang, dan mendapat dukungan regional,” katanya.

Selain faktor militer, Zulkhairi juga menyoroti tekanan politik domestik yang sering muncul ketika perang berlangsung lama. Menurutnya, konflik berkepanjangan dapat memicu kelelahan publik, beban ekonomi, serta perdebatan politik di dalam negeri.

“Dalam sejarah Amerika, dukungan publik sering menjadi faktor penentu apakah sebuah perang bisa dilanjutkan atau justru dihentikan,” ujarnya.

Ia juga menilai faktor diplomasi global akan memainkan peran besar. Jika konflik meluas, tekanan internasional dan perubahan sikap negara-negara sekutu dapat memengaruhi posisi Amerika Serikat di panggung dunia.

Karena itu, Zulkhairi menilai prediksi ketiga dari profesor tersebut bahwa Amerika bisa saja kalah dalam perang tidak mustahil terjadi jika dilihat dari perspektif geopolitik yang lebih luas.

Namun ia menekankan bahwa yang paling penting bukanlah apakah ramalan itu akan terbukti sepenuhnya, melainkan bagaimana dunia belajar dari potensi konflik tersebut.

“Ramalan seperti ini seharusnya menjadi peringatan bagi dunia bahwa perang besar selalu membawa risiko kemanusiaan yang sangat besar,” kata Zulkhairi.

Sebagai pendidik di lingkungan dayah, ia mengajak masyarakat untuk melihat dinamika global dengan lebih bijak dan tidak sekadar mengikuti arus informasi di media sosial.

“Kita berharap para pemimpin dunia lebih mengedepankan diplomasi dan dialog. Sejarah telah berulang kali menunjukkan bahwa perang sering kali meninggalkan luka yang jauh lebih besar daripada kemenangan itu sendiri,” ujarnya.

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI