Beranda / Berita / Aceh / Dari Ukraina Akhirnya Tiba di Banda Aceh, Ini Cerita Fata dan Sandi

Dari Ukraina Akhirnya Tiba di Banda Aceh, Ini Cerita Fata dan Sandi

Jum`at, 25 Maret 2022 10:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : fatur

Dua warga Aceh yang berada di Ukraina sampai di Aceh. [Foto: Dialeksis/ftr]

DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Dua warga Aceh yang berada di Ukraina akhirnya tiba di Banda Aceh pada Kamis (24/3/2022), pukul 16.00 WIB. Mereka adalah Sandi Putra Kelana warga Paya Bujok Seuleumak, Kota Langsa dan Muhammad Fata Abi Muntaha warga Desa Serba Jadi, Nagan Raya.

Kedatangan mereka langsung disambut oleh Kepala Dinas Sosial Aceh, Yusrizal beserta keluarga mereka. Yusrizal mengatakan, sejauh tidak ada lagi warga Aceh yang berada di Ukraina yang sedang dilanda konflik.
 

“Sejauh ini warga Aceh sudah tidak ada lagi yang berada di Ukraina,” sebutnya.

Dirinya mengatakan, bahwa WNI yang sedang dipulangkan saat ini ada sembilan orang, sisanya sekitar 50 orang memutuskan untuk tidak pulang ke Indonesia.

Saat diwawancarai oleh awak media, Sandi menceritakan saat dirinya tengah melakukan perjalanan menuju titik penjemputan.

“Saya sempat terjebak di Kota Chernivtsi saat terjadi invasi Rusia ke Ukraina. Dari tempat tinggal saya harus menempuh perjalanan lebih kurang 6 jam menuju titik penjemputan oleh tim pemerintah Indonesia, yaitu Kota Barat di Ukraina,” sebutnya.

Lanjutnya, kemudian, disana juga ada jam malam. Oleh karena itu, harus menunggu lebih kurang 6-7 jam dengan kondisi yang cukup ekstrim, tidak ada penghangat atau pemanas sama sekali.

“Saat sudah sampai di titik penjemputan oleh tim Indonesia di Barat Ukraina, kami langsung dituntun menuju perbatasan Polandia dan sampai Warsawa. Lebih kurang memakan waktu perjalanan 2-3 hari, setelah itu kita harus menginap 7-8 hari sampai datangnya jemputan untuk pulang ke Jakarta,” tukasnya.

Dari Warsawa, kata Sandi, harus transit di Dubai, kemudian, di Jakarta kita dikarantina, dan Alhamdulillah kita sudah sampai di Aceh.

Sementara itu, Fata yang tinggal di Kota Ivano-Frankivsk berbatasan dengan Polandia. “Saya sudah 6 bulan di Ukraina, mengajar di salah satu sekolah Islam disana,” sebutnya.

Dirinya menceritakan bahwa perang antara Rusia-Ukraina terjadi secara tiba-tiba. “Tidak pemberitahuan sama sekali, jadi subuh-subuh sudah ada serangan, sehingga masyarakat menjadi panik,” ujarnya.

Fata mengungkap lebih kurang ada sekitar 3 juta penduduk Ukraina sudah pindah ke Polandia, Rumania dan negara Eropa lainnya.

“Sampai hari ini, invasi Rusia terhadap Ukraina masih terjadi,” katanya.

Adapun kekhawatirannya, ketika ada serangan tentu semuanya panik sekali. “Kami harus berlindung di Bunker, saat terjadinya invasi itu, pemerintah Ukraina juga sudah memberitahu banyak sekali informasi, seperti adanya larangan jam malam, misalnya dari jam 8 malam sampai 7 pagi tidak boleh keluar sama sekali, karena akan sangat berbahaya disana,” tukasnya.

“Semoga perang ini segera berakhir, dan juga semoga semua keluarga disana bisa beraktivitas seperti biasanya, kepada teman-teman saya memutuskan untuk menetap di Ukraina semoga sehat selalu,” pungkasnya.

Keduanya, sangat berterima kasih kepada Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI), Pemerintah Indonesia, Pemerintah Aceh, BPPA, FORMAD dan juga Dinsos Aceh, beserta seluruh masyarakat khususnya masyarakat Aceh karena sudah mendoakan dan terus memberi support hingga akhirnya bisa sampai di Aceh kembali. [ftr]

Keyword:


Editor :
Alfatur

riset-JSI
Komentar Anda