Beranda / Berita / Aceh / Butuh Regulasi Antisipasi Dampak Negatif Kecerdasan Buatan

Butuh Regulasi Antisipasi Dampak Negatif Kecerdasan Buatan

Senin, 21 Agustus 2023 09:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Auliana Rizky


Wakil Menteri Komunikasi dan Informatika, Nezar Patria 


DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Perkembangan Artificial Intelligence (AI) level global, regional, dan nasional. Pengembangan kecerdasan buatan (AI) bergerak semakin cepat dan mengalami kemajuan pesat dalam setiap bidang kehidupan manusia mulai dari perawatan kesehatan, pendidikan hingga kontrol iklim dan hasil panen. Dengan menggabungkan AI dengan kecerdasan alami manusia, potensi individu dapat menjadi lebih maksimal dan memungkinkan pencapaian yang luar biasa.

Potensi negatif dari AI adalah data yang diambil dari AI besar kemungkinan akan terdeteksi plagiat. Sebab teknologi mencomot data dari berbagai sumber tanpa menyebutkan sumber datanya. Sementara unsur plagiarisme itu menyangkut pengambilan atau penggunaan pemikiran, tulisan, invensi atau ide kepunyaan orang lain.

Penggunaan chatbot berbasis AI untuk pengambilan data dapat melanggar aturan Permendiknas Nomor 17 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Penanggulangan Plagiat di Perguruan Tinggi. Bahwa plagiarisme merupakan kegiatan yang sengaja atau tidak sengaja untuk mendapat nilai dari sebuah karya ilmiah dengan mengutip sebagian atau seluruh karya atau karya ilmiah pihak lain.

Wakil Menteri Komunikasi dan Informatika, Nezar Patria mengatakan, sejauh ini, perkembangan AI di tahun 2022, yakni Meta meluncurkan CICERO yang merupakan Al pertama yang bermain dalam gim bernama Diplomacy dan menunjukan kemampuannya meyakinkan orang lain dan menghasilkan strategi didukung alasan tertentu dan Open Al meluncurkan Chat GPT ialah generative artificial intelligence yang dapat memfasilitasi penggunanya menghasilkan teks, kode, atau hasil lain berbasis teks berdasarkan perintah yang dimasukan.

Ia juga menyampaikan, lainnya yang lebih signifikan adalah bagaimana AI ini digunakan oleh teknologi deepfake, artinya informasi bisa dimanipulasi sedemikian rupa sehingga otensitasnya pun nyaris terancam. Bisa dilihat dari konflik antara Rusia dan Ukraina, masyarakat menyaksikan video deepfake saat Presiden Ukraina menyerahkan diri. Ini salah satu AI yang digunakan dalam bentuk visual.

Sementara itu, bentuk lain lebih dikenal sebagai generative AI, di mana AI menciptakan sesuatu yang baru dari data-data yang diolahnya, baik gambar suara, maupun teks. Terjadi peningkatan 26 kali lipat inside terkait Al sejak tahun 2012 berdasarkan data AlAAIC(Algorithmic, and Automation Incidents and Controversies). 

"KehadiranDeepFake presiden Ukraina di tahun 2022 meniadi salah satu insiden yang paling signifikan," ucapnya saat diskusi "Regulasi dan Etika Kecerdasan Buatan" dalam rangka Dies Natalis ke-56 Fakultas Filsafat UGM yang turut diikuti Tim Dialeksis.com melalui zoom meeting, Minggu (20/8/2023).

Wakil Menteri juga menyebut, kontemporer pada pemanfaatan AI perlu dilatih terus menerus berpotensi menimbulkan kesalahan hasil analisis yang mengakibatkan misinformasi, kekeliruan, dan pemberian informasi tanpa niatan jahat. Kemudian, AI memerlukan akses informasi untuk memberikan hasil analisis, tetapi data dan informasi yang disimpan dapat melangggar perlindungan privasi dan rahasia suatu entits.

Lanjutnya, kemampuan AI dalam mengolah informasi dalam bentuk lain berupa gambar dan video yang seolah nyata sehingga dapat menimbulkan disinformasi, lingkungan yang toxic, dan terancam siber. Akses AI berpotensi melanggar hak cipta pihak lain, pembuatan karya derivatif dari ciptaan milik pihak lain tanpa izin merupakan pelanggaran hak cipta.

"Informasi dan data yang diproses Al merupakan olahan manusia sehingga memiliki bias, bahkan bersifat diskriminatif," jelasnya.

Di sisi lain, AI memerlukan kemampuan menerjemahkan perintah pengguna agar dapat bermanfaat secara produktif. Selain pemberian perintah yang jelas, batasan AI yang bersifat harmless dan helpful perlu diatur kembali. 

Keyword:


Editor :
Zulkarnaini

riset-JSI
Komentar Anda