Sabtu, 23 Mei 2026
Beranda / Berita / Aceh / Banda Aceh Perkuat Gerakan Door to Door Kejar Imunisasi Anak

Banda Aceh Perkuat Gerakan Door to Door Kejar Imunisasi Anak

Jum`at, 22 Mei 2026 20:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Naufal Habibi

Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa'aduddin Djamal bersama Wakil Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Prof. dr. Dante Saksono Harbuwono dan Ketua TP PKK Aceh Ny. Marlina Muzakir pada kegiatan Kunjungan Lapangan Tematik (Kunlaptik) dan Media Briefing “Mengejar Anak Zero Dose Kota Banda Aceh” yang berlangsung di Gedung Bapelkes Aceh, Jumat (22/5/2026). Foto: Naufal Habibi/dialeksis.com.


DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa'aduddin Djamal menegaskan persoalan anak zero dose di Banda Aceh telah menjadi alarm serius bagi masa depan kesehatan generasi muda. 

Pemerintah Kota Banda Aceh pun diminta bergerak lebih agresif, terbuka, dan menyentuh langsung masyarakat untuk mengejar anak-anak yang belum pernah menerima imunisasi dasar.

Hal tersebut disampaikan Illiza pada kegiatan Kunjungan Lapangan Tematik (Kunlaptik) dan Media Briefing “Mengejar Anak Zero Dose Kota Banda Aceh” yang berlangsung di Gedung Bapelkes Aceh, Jumat (22/5/2026).

Di hadapan Dante Saksono Harbuwono beserta jajaran Kementerian Kesehatan RI, jajaran Dinas Kesehatan, tenaga kesehatan, dan awak media, Illiza mengingatkan bahwa imunisasi bukan sekadar program kesehatan rutin, melainkan investasi besar untuk masa depan bangsa.

“Mari bersama saling menolong, wujudkan anak sehat dan kuat di masa depan,” ujar Illiza.

Ia menyampaikan apresiasi kepada Kementerian Kesehatan RI yang terus memberi perhatian terhadap isu kesehatan anak dan menjadikan Banda Aceh sebagai salah satu daerah prioritas percepatan imunisasi.

“Kehadiran Bapak Wakil Menteri Kesehatan hari ini tentu menjadi semangat dan dukungan moral yang sangat berarti bagi kami di daerah,” kata Illiza.

Namun di balik semangat tersebut, Illiza mengakui kondisi imunisasi di Banda Aceh masih memprihatinkan. Berdasarkan data tahun 2025, capaian Imunisasi Dasar Lengkap (IDL) di Banda Aceh baru mencapai 34 persen.

Artinya, sebagian besar anak di ibu kota Provinsi Aceh itu belum memperoleh perlindungan dasar terhadap berbagai penyakit berbahaya.

“Data menunjukkan sekitar 63 persen anak masih berstatus zero dose, atau belum pernah menerima vaksin DPT-HB-Hib sama sekali. Ini tentu kondisi yang tidak bisa kita anggap biasa,” ujarnya.

Menurut Illiza, dampak rendahnya cakupan imunisasi mulai terlihat nyata di lapangan.

Pemerintah menemukan 119 kasus campak, munculnya kasus pertusis atau batuk rejan, hingga tingginya angka Tuberkulosis yang mencapai lebih dari 1.600 kasus.

“Ini menjadi alarm bagi kita semua bahwa rendahnya cakupan imunisasi sangat berpengaruh terhadap meningkatnya risiko penyakit menular di tengah masyarakat,” tegasnya.

Ia juga menyinggung hasil pemetaan UNICEF yang menunjukkan selama lima tahun terakhir cakupan imunisasi di Banda Aceh terus berada di bawah 50 persen.

“Artinya selama bertahun-tahun, dua dari tiga bayi kita belum mendapatkan imunisasi lengkap,” katanya.

Karena itu, Illiza menilai persoalan zero dose tidak bisa lagi ditangani dengan pola kerja biasa. Pemerintah Kota Banda Aceh kini memperkuat berbagai strategi percepatan imunisasi mulai dari penguatan layanan primer di puskesmas dan posyandu hingga pemetaan sasaran anak secara rinci sampai tingkat gampong.

“Data harus benar-benar akurat, by name by address, supaya tidak ada anak yang terlewat,” ujarnya.

Selain itu, Pemko Banda Aceh juga menjalankan strategi jemput bola melalui kader posyandu dan tenaga kesehatan yang turun langsung ke rumah-rumah warga.

Menurut Illiza, pendekatan door to door menjadi penting karena masih banyak keluarga yang sebenarnya tidak menolak imunisasi, tetapi belum mendapatkan informasi yang benar dan utuh.

“Kita sadar sebagian masyarakat masih memiliki keraguan, masih termakan hoaks, atau mendapat informasi yang tidak benar terkait imunisasi. Karena itu kita tidak boleh lelah menjelaskan bahwa imunisasi itu aman, penting, dan menyelamatkan nyawa,” katanya.

Illiza turut menyinggung hasil penelitian Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia yang menunjukkan masih banyak masyarakat belum memahami konsep herd immunity atau kekebalan kelompok.

“Kadang orang berpikir imunisasi hanya melindungi anaknya sendiri, padahal sebenarnya imunisasi juga melindungi lingkungan sekitar,” ujarnya.

Tak hanya masyarakat, Illiza juga mengakui tantangan datang dari internal pelayanan kesehatan sendiri. Ia menyebut masih ditemukan keraguan terhadap imunisasi dari sebagian kecil oknum tenaga kesehatan.

“Padahal tenaga kesehatan adalah ujung tombak edukasi masyarakat. Kalau tenaga kesehatannya ragu, maka masyarakat tentu semakin bingung,” tegasnya.

Karena itu, Pemerintah Kota Banda Aceh terus memperkuat komitmen seluruh tenaga kesehatan agar memiliki pemahaman dan semangat yang sama dalam mendukung program imunisasi.

Dalam upaya mempercepat eliminasi zero dose, Pemko Banda Aceh juga memperkuat kolaborasi lintas sektor. Tidak hanya Dinas Kesehatan, tetapi juga TP-PKK, Dinas Pendidikan, keuchik, tokoh agama, tokoh masyarakat, kader gampong hingga sekolah dilibatkan untuk mengedukasi masyarakat.

“Kami ingin pesan tentang pentingnya imunisasi hadir di mana-mana. Hadir di posyandu, di meunasah, di sekolah, di pengajian, bahkan dalam percakapan sehari-hari masyarakat,” kata Illiza.

Ia juga memberi perhatian khusus terhadap peran media dalam membangun kesadaran publik dan menangkal hoaks vaksinasi di tengah derasnya arus informasi media sosial.

“Teman-teman media punya peran besar dalam membantu menyampaikan informasi yang benar kepada masyarakat. Imunisasi bukan sesuatu yang perlu ditakuti, tetapi sesuatu yang harus kita perjuangkan bersama demi keselamatan anak-anak kita,” ujarnya.

Illiza menegaskan tidak boleh ada anak di Banda Aceh yang kehilangan hak dasar kesehatannya hanya karena belum tersentuh layanan imunisasi.

“Anak-anak zero dose bukan untuk disalahkan, tetapi harus kita cari, kita dekati, dan kita lindungi bersama,” katanya.

Ia optimistis dengan kolaborasi lintas sektor dan semangat gotong royong, Banda Aceh dapat keluar dari stagnasi cakupan imunisasi dan mencapai target eliminasi zero dose.

“Mari kita jadikan momentum hari ini sebagai titik balik untuk memperkuat komitmen bersama dalam melindungi generasi masa depan Banda Aceh agar tumbuh sehat, cerdas, dan tangguh,” tutup Illiza.

Keyword:


Editor :
Alfi Nora

riset-JSI