DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Jajaran alumni Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala (FP USK) menyampaikan keprihatinan mendalam atas insiden bentrok mahasiswa Fakultas Pertanian dan Fakultas Teknik USK yang berujung pada tindakan anarkis hingga pembakaran fasilitas kampus.
Alumni FP USK, Imam Munandar, S.TP, menilai peristiwa tersebut menjadi catatan kelam bagi dunia pendidikan tinggi. Menurutnya, tindakan kekerasan tidak semestinya terjadi di lingkungan kampus yang seharusnya menjadi ruang pembentukan ilmu, karakter, dan peradaban.
“Kami benar-benar menyesalkan insiden yang tidak seharusnya dilakukan oleh personal maupun kelompok terpelajar. Ini sama saja dengan membunuh masa depan rekan-rekan sesama mahasiswa,” kata Imam Munandar kepada Dialeksis, alumni FP USK yang kini menjabat sebagai salah satu pejabat di Pemkab Aceh Besar.
Imam juga menyampaikan rasa prihatin atas peristiwa penyerbuan ke Sekretariat BEM Fakultas Teknik yang disebut turut menyebabkan dua mahasiswa FT USK mengalami luka akibat dugaan sabetan senjata tajam.
Ia berharap kasus tersebut ditangani secara jernih, adil, dan proporsional oleh pihak berwenang. Menurutnya, penyelesaian kasus tidak boleh dilakukan secara emosional, tetapi harus berpijak pada fakta, hukum, dan kepentingan pemulihan suasana akademik di kampus.
“Tanpa bermaksud menuduh ke sana kemari, kami hanya berharap kasus ini diselesaikan secara jernih dan proporsional oleh pihak terkait, sehingga kejadian serupa tidak terulang di masa mendatang. Kampus adalah altar paling mulia untuk mencari ilmu dan mendidik hati, bukan tempat adu otot ala gladiator,” ujar Imam.
Berdasarkan laporan yang diterima alumni dari lapangan, insiden tersebut tidak hanya menghanguskan dua unit laboratorium Fakultas Pertanian beserta peralatannya yang ditaksir bernilai lebih dari Rp100 miliar. Peristiwa itu juga disebut disertai perusakan ruang perkuliahan, pembobolan pintu, hingga dugaan penjarahan sejumlah aset.
Beberapa fasilitas yang dilaporkan rusak dan hilang di antaranya perabot ruang kuliah serta mesin roasting kopi yang nilainya mencapai sekitar Rp100 juta. Selain itu, satu unit mobil dan sepeda motor juga dilaporkan terbakar dalam kejadian tersebut.
“Kami tak habis pikir, serangan juga menimpa pos satpam yang dilempar bom molotov hingga terbakar. Bahkan sepeda motor milik satpam ikut hangus,” kata Imam dengan nada prihatin.
Di sisi lain, beredar pula kesaksian yang menggambarkan rangkaian peristiwa sebelum pecahnya tragedi pada Kamis dini hari. Kesaksian itu menyebutkan ketegangan bermula sejak aksi massa terkait penolakan Pergub Nomor 2 Tahun 2026 tentang pemangkasan Jaminan Kesehatan Aceh atau JKA.
Menurut sumber tersebut, setelah aksi yang berujung pada penarikan pergub, sejumlah massa berkonvoi di kawasan kampus USK. Mereka kemudian berhenti di depan Sekretariat BEM USK dan mempertanyakan sikap BEM USK yang tidak ikut dalam aksi demonstrasi.
“Dari situlah mulai terjadi keributan. Kaca sekretariat rusak dan seorang mahasiswa terkena lemparan. Massa berkonvoi mengatasnamakan aliansi rakyat Aceh dan disebut turut melibatkan unsur eksternal USK,” tutur sumber tersebut.
Imam menilai seluruh pihak perlu menahan diri dan memberi ruang kepada aparat serta otoritas kampus untuk bekerja secara profesional. Ia berharap mahasiswa dapat kembali menjadikan kampus sebagai ruang dialog, bukan arena kekerasan.
Menurutnya, perbedaan sikap, organisasi, maupun pandangan harus diselesaikan dengan akal sehat. Kampus, kata dia, tidak boleh berubah menjadi tempat pelampiasan emosi dan dendam kelompok.
Imam juga menegaskan, siapa pun yang terbukti terlibat dalam tindakan kekerasan, perusakan, pembakaran, maupun penjarahan aset kampus harus dimintai pertanggungjawaban sesuai aturan hukum yang berlaku. Sikap tegas, menurutnya, diperlukan bukan untuk memperuncing keadaan, melainkan untuk memastikan kampus tetap menjadi ruang aman bagi seluruh civitas akademika.
“Ketegasan hukum harus berjalan, tetapi jangan sampai menghilangkan akal sehat dan nurani. Yang salah harus bertanggung jawab, yang menjadi korban harus dipulihkan, dan kampus harus diselamatkan dari budaya kekerasan. Kita ingin USK tetap menjadi rumah ilmu, tempat lahirnya generasi cerdas, bukan ruang yang diwarisi dendam dan permusuhan,” kata Imam.
Ia berharap peristiwa tersebut menjadi pelajaran bersama bagi mahasiswa, alumni, pimpinan kampus, dan seluruh pihak terkait. Konflik, kata Imam, harus diselesaikan melalui dialog, bukan kekerasan.
“Marwah kampus harus dijaga bersama. Perbedaan boleh ada, tetapi kemanusiaan dan masa depan pendidikan tidak boleh dikorbankan,” pungkasnya.