Senin, 29 Juni 2026
Beranda / Berita / Aceh / Aktivitas Tambang Emas Ilegal Diduga Cemari Krueng Aceh di Jantho Aceh Besar

Aktivitas Tambang Emas Ilegal Diduga Cemari Krueng Aceh di Jantho Aceh Besar

Senin, 29 Juni 2026 17:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Naufal Habibi

Imum Mukim Jantho, Darwin, dalam konferensi pers bertema "Mengungkap Jejak Tambang Emas Ilegal di Hutan Mukim Jantho" di Sekretariat WALHI Aceh, Senin (29/6/2026). Foto: Naufal Habibi/dialeksis.com.


DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Masyarakat Mukim Jantho, Kabupaten Aceh Besar, mengaku mulai merasakan dampak serius yang diduga ditimbulkan oleh aktivitas tambang emas ilegal di kawasan hulu Krueng Aceh. 

Air sungai yang sebelumnya jernih kini disebut terus keruh, mengganggu aktivitas masyarakat hingga mengancam sumber air yang mengalir ke wilayah hilir, termasuk Banda Aceh.

Hal itu disampaikan Imum Mukim Jantho, Darwin, dalam konferensi pers bertema "Mengungkap Jejak Tambang Emas Ilegal di Hutan Mukim Jantho" di Sekretariat WALHI Aceh, Senin (29/6/2026).

Menurut Darwin, hulu Krueng Aceh berada di kawasan Jalin yang berbatasan dengan Cagar Alam Jantho. Sungai tersebut merupakan salah satu sumber air penting bagi masyarakat Aceh Besar hingga Kota Banda Aceh.

"Air dari kawasan Jalin mengalir sampai ke Banda Aceh. Air yang kita konsumsi sehari-hari berasal dari sana," kata Darwin.

Ia mengatakan, perubahan kualitas air mulai dirasakan masyarakat dalam beberapa tahun terakhir. Jika sebelumnya air sungai hanya sesekali keruh, kini kondisi tersebut terjadi hampir setiap hari.

"Pada tahun 2023 air masih kadang-kadang jernih. Hari Jumat biasanya jernih karena kemungkinan aktivitas tambang berhenti. Tetapi sekarang hampir setiap hari air tetap keruh. Tidak ada lagi waktu air benar-benar bersih," ujarnya.

Kondisi itu, lanjut Darwin, berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat yang selama ini bergantung pada Krueng Aceh. Sungai tidak hanya menjadi sumber air, tetapi juga dimanfaatkan warga untuk mencari ikan.

"Kalau ada kenduri atau ada warga meninggal dunia, biasanya masyarakat mencari ikan di sungai untuk kebutuhan bersama. Sekarang itu sudah sulit karena kondisi sungainya berubah," katanya.

Selain sebagai tempat mencari ikan, sungai juga menjadi lokasi mandi bagi sebagian warga yang belum memiliki sumur di rumah.

"Dulu masyarakat sering mandi di sungai, terutama warga yang tidak memiliki sumur. Sekarang sudah tidak lagi karena airnya keruh," ujar Darwin.

Ia juga mengungkapkan bahwa sektor wisata ikut terdampak. Kawasan wisata sungai di Gampong Jalin yang selama ini menjadi tujuan masyarakat untuk rekreasi mulai kehilangan pengunjung akibat perubahan warna air.

"Di Jalin ada objek wisata sungai dan Jembatan Warna-Warni. Dulu banyak keluarga datang untuk mandi dan menikmati suasana sungai. Sekarang orang datang hanya melihat air keruh sehingga pengunjung semakin berkurang," katanya.

Darwin menambahkan, masyarakat Mukim Jantho telah menyampaikan penolakan terhadap aktivitas tambang emas ilegal kepada aparat penegak hukum dan instansi terkait.

 Warga berharap ada langkah nyata untuk menghentikan aktivitas tersebut agar kerusakan lingkungan tidak semakin meluas.

"Kami berharap ada tindakan tegas karena dampaknya sudah dirasakan masyarakat. Sungai ini menjadi sumber kehidupan warga Jantho dan juga mengalir hingga ke Banda Aceh," tutupnya.

Keyword:


Editor :
Alfi Nora

riset-JSI
dishes