DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Kepergian mantan Gubernur Aceh periode 2012-2017, dr H. Zaini Abdullah atau yang akrab disapa Abu Doto, meninggalkan duka mendalam bagi masyarakat Aceh.
Bagi banyak orang, Abu Doto bukan hanya sosok pemimpin politik, tetapi juga representasi dari cita-cita besar Aceh pascaperdamaian yang ingin melihat daerah ini bangkit, maju, dan sejahtera.
Salah satu yang menyimpan banyak kenangan tentang kepemimpinan Abu Doto adalah Jabal Ali Husin Sab, aktivis dan analis politik dan kebijakan publik dari Saman Strategic Indonesia (SSI). Jabal pernah menjadi bagian dari lingkungan kerja Pemerintah Aceh pada masa kepemimpinan Abu Doto, tepatnya sebagai staf di Biro Humas Pemerintah Aceh yang bertugas sebagai notulen gubernur sekaligus penyusun rilis kegiatan pemerintahan.
Mengenang sosok yang wafat pada Sabtu (13/6/2026) pukul 12.40 WIB di RSUD dr Zainoel Abidin Banda Aceh itu, Jabal mengatakan dirinya berkesempatan menyaksikan langsung bagaimana Abu Doto memimpin pemerintahan dari dekat.
"Di era Abu Doto menjadi Gubernur Aceh, saat itu oleh Kepala Biro Humas Pak Mahyuzar, saya dipercaya menjadi staf di humas, khususnya sebagai notulen Gubernur Aceh. Di samping itu saya juga menulis rilis kegiatan gubernur," kata Jabal kepada Dialeksis.com, Minggu (14/6/2026).
Menurutnya, berbagai peristiwa penting yang berlangsung di Pendopo Gubernur Aceh masih membekas dalam ingatannya hingga kini. Dari ruang rapat hingga pertemuan dengan investor, Jabal melihat langsung karakter kepemimpinan Abu Doto yang tenang namun memiliki visi besar untuk masa depan Aceh.
"Di sudut-sudut Pendopo Gubernur, saya mengenang bagaimana Abu Doto memimpin rapat bersama jajaran SKPA. Saya juga sering hadir saat pertemuan antara gubernur dan sejumlah investor yang datang ke Aceh," ujarnya.
Salah satu hal yang paling diingat Jabal adalah kemampuan Abu Doto dalam membangun komunikasi dengan tamu-tamu internasional. Meski dikenal sebagai pribadi yang sederhana dan berbicara dengan suara yang tidak terlalu keras, Abu Doto tetap mampu menunjukkan kapasitasnya sebagai pemimpin yang memiliki wawasan global.
"Saya juga ingat bagaimana Abu Doto berdialog menggunakan bahasa asing dengan tamu dari luar negeri, meski suaranya agak kecil dan kadang sulit didengar. Itu menunjukkan beliau memiliki pengalaman dan pergaulan internasional yang luas," katanya.
Jabal menilai, salah satu fokus utama Abu Doto selama memimpin Aceh adalah upaya mendatangkan investasi guna menggerakkan roda perekonomian daerah.
Menurutnya, semangat tersebut terlihat jelas dalam berbagai pertemuan yang melibatkan calon investor dari dalam maupun luar negeri.
"Semangat Abu Doto untuk mendatangkan investor demi menggenjot perekonomian Aceh sangat tinggi. Hanya saja, kita tahu bahwa merealisasikan investasi tidak semudah membalikkan telapak tangan," ujarnya.
Ia kemudian mengenang salah satu proyek besar yang sempat digagas pada masa itu, yakni rencana pembangunan pabrik semen oleh Semen Indonesia di kawasan Laweung, Kabupaten Pidie.
"Salah satu momentum yang masih saya ingat adalah ketika pihak Semen Indonesia menyampaikan kepada gubernur bahwa wilayah Laweung memiliki bahan baku semen yang sangat baik. Saat itu direncanakan akan dibangun pabrik pengolahan semen yang terintegrasi dengan pelabuhan yang dibangun tidak jauh dari lokasi produksi," kenangnya.
Namun, seperti banyak rencana investasi lainnya, proyek tersebut akhirnya tidak berhasil direalisasikan. Meski demikian, Jabal menilai kegagalan tersebut tidak mengurangi besarnya tekad Abu Doto dalam memperjuangkan masuknya investasi yang bermanfaat bagi masyarakat Aceh.
"Walhasil, rencana besar itu dan banyak rencana lainnya gagal terwujud. Tapi semangat dan tekad Abu Doto cukup kuat menginginkan investasi yang bermanfaat bisa masuk ke Aceh," katanya.
Selain pembangunan ekonomi, Jabal juga menyoroti salah satu kebijakan yang sempat menuai kontroversi pada masa kepemimpinan Abu Doto, yakni revitalisasi Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh.
Kala itu, kata dia, tidak sedikit pihak yang mempertanyakan bahkan menolak proyek tersebut. Namun seiring berjalannya waktu, manfaat pembangunan itu semakin dirasakan masyarakat.
"Oya, di masa Abu Doto, Masjid Raya Baiturrahman direhab. Kala itu ada pihak yang protes. Tapi jika kita melihat kondisi Masjid Raya hari ini, niat baik Abu Doto ternyata membawa manfaat yang besar," ujarnya.
Menurut Jabal, perluasan kawasan masjid kini menjadi ruang yang sangat penting bagi jamaah, terutama saat pelaksanaan salat berjamaah pada momentum-momentum besar keagamaan.
"Di momentum besar, wilayah saf salat sampai keluar bangunan masjid, sampai ke area yang direvitalisasi sekarang. Itu menunjukkan bahwa pembangunan tersebut memang dibutuhkan dan memberikan manfaat jangka panjang," katanya.
Abu Doto merupakan salah satu figur penting yang lahir dari semangat perdamaian Aceh. Ia melihat mantan petinggi Gerakan Aceh Merdeka (GAM) itu sebagai representasi generasi pemimpin pasca-MoU Helsinki yang berupaya mewujudkan harapan masyarakat Aceh setelah konflik panjang berakhir.
"Abu Doto adalah satu dari perwakilan cita-cita pascadamai yang ingin mewujudkan Aceh yang lebih baik. Kita berharap niat mulia para tokoh terdahulu dapat dilanjutkan dan diwujudkan oleh pemerintahan sekarang maupun yang akan datang," ujarnya.
Lebih jauh, Jabal mengajak masyarakat untuk melihat pembangunan Aceh dalam perspektif yang lebih panjang. Menurutnya, perjalanan mewujudkan kesejahteraan pascaperdamaian membutuhkan waktu, konsistensi, dan kesinambungan kebijakan lintas generasi.
"Jika memang 20 tahun pascadamai belum mampu mengubah Aceh sebagaimana imaji rakyat Aceh ketika MoU Helsinki diteken, mungkin kita harus menunggu 20 hingga 30 tahun ke depan lagi untuk melihat niat mulia para tokoh terdahulu, salah satunya Abu Doto, benar-benar terwujud," katanya.
Seperti diketahui, Abu Doto meninggal dunia pada Sabtu (13/6/2026) sekitar pukul 12.40 WIB di RSUD dr Zainoel Abidin Banda Aceh dalam usia 86 tahun. Setelah disalatkan di Masjid Raya Baiturrahman, jenazah diberangkatkan dan dimakamkan di kampung halamannya di Gampong Teureubue, Kecamatan Mutiara, Kabupaten Pidie. [nh]