Sabtu, 13 Juni 2026
Beranda / Berita / Aceh / Saya Tetap Mencium Tangannya

Saya Tetap Mencium Tangannya

Sabtu, 13 Juni 2026 16:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Arn

Murthalamuddin, S.Pd., MSP bersama dr. Zaini Abdullah atau Abu Doto. Foto: Kolase Dialeksis


DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Wafatnya mantan Gubernur Aceh, dr. Zaini Abdullah atau Abu Doto, menyisakan duka mendalam bagi banyak tokoh Aceh. Salah satunya datang dari Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Murthalamuddin, S.Pd., MSP.

Dalam catatan berjudul *In Memoriam Abu Doto*, Murthalamuddin mengenang Abu Doto bukan hanya sebagai mantan pemimpin Aceh, tetapi juga sebagai sosok yang pernah memberi warna kuat dalam perjalanan hidup dan kariernya.

“Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Insya Allah Abu Doto husnul khatimah,” tulis Murthalamuddin, Sabtu, 13 Juni 2026.

Murthalamuddin menceritakan, sekitar dua minggu sebelum Abu Doto wafat, ia sempat menjenguk Ketua Fraksi PA, Tgk Anwar Ramli, di ruang Zamzam 2 RSUDZA Banda Aceh. Saat itu, ia baru mengetahui bahwa Abu Doto juga sedang menjalani perawatan di rumah sakit yang sama.

Ia kemudian menyempatkan diri menjenguk Abu Doto. Dalam pertemuan itu, Ustaz Muzakir memperkenalkan dirinya kepada Abu Doto.

“Humas masa pajan gata?” tanya Abu Doto.

“Masa droeneuh, Abu,” jawab Murthalamuddin.

Percakapan singkat itu membawa Murthalamuddin kembali ke masa lalu. Abu Doto, kata dia, masih mengingat dirinya. Bahkan, Abu sempat bertanya dengan gaya khasnya.

“Ooo gata yang khuen-khuen keulon, dudoe gata pinah u Pidie?” kenang Murthalamuddin menirukan ucapan Abu Doto.

Murthalamuddin mengaku mengenal Abu Doto sejak awal masa perdamaian Aceh. Ketika itu, ia masih aktif sebagai wartawan. Interaksi keduanya semakin intens menjelang kepulangan Wali Nanggroe Hasan Tiro ke Aceh pada 2008.

Dalam kenangannya, Abu Doto memiliki panggilan khusus untuk dirinya. “Beliau memanggil saya Tgk Rasa Su,” tulis Murthalamuddin.

Namun, hubungan itu sempat terputus setelah juru bicara KBS meninggal dunia. Pada 2013, Murthalamuddin kemudian pindah menjadi Kabag PK Biro Isra Setda Aceh. Sejak saat itu, ia mengaku jarang bertemu lagi dengan Abu Doto.

Pertemuan kembali terjadi saat apel Idul Fitri 2013. Ketika giliran bersalaman, Abu Doto melihatnya mengenakan seragam PNS.

“Sinoe lago gata? Pakon baje PNS?” kenang Murthalamuddin menirukan ucapan Abu Doto.

Murthalamuddin hanya terdiam dan mengangguk. Setelah itu, ia diminta berdiri di belakang dan tidak melanjutkan bersalaman.

Keesokan harinya, Murthalamuddin dipanggil ke Meuligoe Anjong Mon Mata. Dari sanalah perjalanan birokrasi dan kedekatannya dengan pusaran pemerintahan Aceh kembali berubah.

Ia mengenang, pada awal 2014 terjadi peristiwa penyanderaan Kantor Gubernur Aceh oleh sekelompok ibu-ibu akibat salah pengertian terhadap rilis Kepala Biro Humas saat itu, Nurdin F. Jos.

Murthalamuddin yang awalnya akan dimutasi menjadi Sekretaris Dinas Pengairan, kemudian diminta pindah ke Biro Humas. Ia menjabat sebagai Kabag Pidato dan Risalah Pimpinan, sekaligus Pelaksana Tugas Kepala Biro Humas.

Pada April 2014, ia dilantik menjadi Kepala Biro Humas Pemerintah Aceh. Masa itu, menurut Murthalamuddin, merupakan periode penting, berat, dan penuh tantangan.

“Saya terjepit, dituduh sebagai orang Mualem. Sehingga dalam situasi apa saja saya diserang para pembisik,” kenangnya.

Murthalamuddin juga mengenang salah satu fase paling sulit saat Aceh membahas perubahan PT Arun menjadi fasilitas regasifikasi. Saat itu, Aceh mendapatkan 30 persen saham participating interest PT Perta Arun Gas.

Menurutnya, masa tersebut menjadi ujian besar bagi Abu Doto dan jajaran Pemerintah Aceh. Banyak dinamika terjadi, termasuk upaya mencari mitra dan tekanan dari berbagai pihak.

Dalam catatan itu, Murthalamuddin mengaku pernah berada pada titik paling sulit secara pribadi. Ia bahkan sempat berselisih dengan Ustaz Muzakir di lobi Hotel Pan Pacific, Jakarta, di hadapan beberapa tokoh Aceh.

“Saya minta dipecat saja,” tulis Murthalamuddin.

Tidak lama setelah itu, pada 20 Oktober 2014, bertepatan dengan pelantikan Presiden Joko Widodo, Murthalamuddin dicopot dari jabatan Kepala Biro Humas. Ia kemudian bertugas sebagai Kepala Dinas Pendidikan Pidie.

Sejak saat itu, Murthalamuddin mengakui hubungannya dengan Abu Doto tidak lagi sehangat sebelumnya. Namun, rasa hormatnya tidak pernah hilang.

“Sejak itu hubungan saya dengan beliau hambar. Tapi saya tetap mencium tangannya setiap perjumpaan,” tulisnya.

Bagi Murthalamuddin, Abu Doto adalah sosok yang memiliki ketulusan dan niat baik untuk Aceh. Meski perjalanan politik dan pemerintahan tidak selalu mudah, ia memilih mengenang Abu Doto melalui sisi kemanusiaan dan amal baiknya.

Ia menyebut, banyak pelajaran yang dapat dipetik dari perjalanan Abu Doto. Tentang kekuasaan, kepercayaan, kesetiaan, dan beratnya menjadi pemimpin di tengah berbagai kepentingan.

Di akhir catatannya, Murthalamuddin menyampaikan doa mendalam untuk almarhum Abu Doto.

“Semoga Allah tempatkan beliau di surga atas seluruh amal baiknya. Dan Allah ampuni beliau. Amin,” tulis Murthalamuddin.

Kepergian Abu Doto menjadi duka besar bagi Aceh. Bagi Murthalamuddin, almarhum bukan sekadar mantan gubernur, tetapi juga bagian dari perjalanan hidup yang meninggalkan luka, pelajaran, sekaligus penghormatan yang tak pernah putus.

Sebab pada akhirnya, meski hubungan pernah hambar, adab tetap ia jaga.

Ia tetap mencium tangan Abu Doto setiap kali berjumpa.

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI