DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Pimpinan Dayah Mini Aceh, Tgk. H. Umar Rafsanjani, Lc., MA yang akrab disapa Abi Umar, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-821 Kota Banda Aceh yang berlangsung meriah dan penuh semangat kolaborasi.
Menurut Abi Umar, peringatan HUT tidak hanya dimaknai sebagai seremoni tahunan, tetapi juga harus menjadi momentum muhasabah (introspeksi) bagi seluruh elemen masyarakat dan pemerintah dalam menilai arah pembangunan kota.
“Kita patut bersyukur atas perjalanan panjang Banda Aceh hingga usia 821 tahun. Ini bukan sekadar angka, tetapi sejarah panjang peradaban yang dibangun di atas nilai-nilai Islam dan kearifan lokal,” ujar Abi Umar kepada Dialeksis, Senin (27/4/2026).
Ia menilai, tema “Banda Aceh Kota Kolaborasi” sejalan dengan ajaran Islam yang menekankan pentingnya kebersamaan, persatuan, dan saling tolong-menolong dalam kebaikan. Kolaborasi, kata dia, bukan hanya dalam pembangunan fisik, tetapi juga dalam menjaga akhlak, moral, dan kehidupan sosial masyarakat.
Namun demikian, Abi Umar mengingatkan bahwa pasca peringatan HUT, yang lebih penting adalah implementasi nyata dari semangat yang telah digaungkan. Ia berharap, momentum tersebut tidak berhenti pada kegiatan seremonial, melainkan dilanjutkan dengan kerja nyata yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
“Yang terpenting setelah HUT adalah bagaimana semangat kebersamaan itu diwujudkan dalam pelayanan yang lebih baik, keadilan sosial yang merata, serta kepedulian terhadap kebutuhan dasar masyarakat,” tegasnya.
Abi Umar juga menyoroti pentingnya peningkatan kualitas layanan publik, termasuk layanan air bersih, yang menurutnya merupakan bagian dari hak dasar masyarakat. Ia menilai, pelayanan yang baik adalah cerminan dari amanah yang dijalankan dengan penuh tanggung jawab.
“Dalam Islam, setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas amanahnya. Maka pelayanan kepada masyarakat, termasuk kebutuhan air bersih, harus dijaga dengan sungguh-sungguh, karena itu menyangkut hajat hidup orang banyak,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia mengajak seluruh masyarakat Banda Aceh untuk terus menjaga nilai-nilai syariat Islam yang menjadi identitas kota, serta memperkuat ukhuwah (persaudaraan) di tengah keberagaman.
“Kota ini dikenal sebagai Serambi Mekkah. Maka pembangunan harus seimbang antara kemajuan fisik dan kekuatan spiritual. Jangan sampai kita maju secara infrastruktur, tetapi lalai dalam menjaga nilai-nilai agama,” pesannya.
Di akhir pernyataannya, Abi Umar berharap Banda Aceh ke depan menjadi kota yang tidak hanya maju dan modern, tetapi juga diberkahi, aman, dan nyaman bagi seluruh masyarakat.
“Semoga Banda Aceh menjadi baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur, negeri yang baik dan mendapat ampunan Allah. Ini harapan kita bersama,” tutupnya. [ra]