Rabu, 09 September 2026
Beranda / Opini / Ketika Dosen Menjadi Red Flag: Gelar Tinggi Tak Selalu Berarti Keteladanan

Ketika Dosen Menjadi Red Flag: Gelar Tinggi Tak Selalu Berarti Keteladanan

Rabu, 09 September 2026 09:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Penulis :
Iswadi

Dr. Iswadi, M.Pd, Dosen Magister Pendidikan Dasar Universitas Esa Unggul Jakarta. Foto: doc Dialeksis


DIALEKSIS.COM | Opini - Perguruan tinggi semestinya menjadi ruang untuk menumbuhkan ilmu pengetahuan, daya kritis, integritas, sekaligus kematangan manusia. Di dalamnya, dosen bukan sekadar penyampai materi kuliah. Dosen adalah pendidik, pembimbing, sekaligus figur yang perilakunya ikut membentuk budaya akademik mahasiswa.

Karena itu, menjadi dosen hebat tidak cukup hanya dengan memiliki gelar panjang, publikasi yang banyak, jabatan akademik tinggi, atau penguasaan teori yang mumpuni. Ada kualitas lain yang sering kali tidak tercantum dalam curriculum vitae, tetapi justru sangat menentukan: bagaimana seorang dosen memperlakukan orang lain.

Istilah red flag yang populer dalam percakapan sehari hari dapat menjadi metafora yang menarik untuk melihat berbagai perilaku yang patut diwaspadai dalam kehidupan akademik. Tentu, tidak berarti semua perilaku tersebut terjadi pada setiap dosen. Namun, ia dapat menjadi bahan refleksi tentang bagaimana relasi kuasa, kompetisi, ego, dan integritas dikelola di lingkungan perguruan tinggi.

Salah satu tanda yang patut diwaspadai adalah menjatuhkan rekan sejawat.

Dunia akademik memang penuh persaingan. Dosen berlomba menghasilkan penelitian, memperoleh hibah, menerbitkan artikel, meningkatkan jabatan akademik, dan membangun reputasi. Persaingan semacam itu sesungguhnya sehat apabila mendorong peningkatan kualitas.

Masalah muncul ketika kompetisi berubah menjadi kebiasaan meremehkan, mengambil kredit atas kontribusi orang lain, atau bahkan mempermalukan kolega. Keberhasilan pribadi seharusnya tidak perlu dibangun dengan cara menjatuhkan orang lain.

Kampus membutuhkan budaya kolaborasi, bukan arena untuk membuktikan siapa yang paling unggul dengan membuat orang lain terlihat lebih rendah.

Hal berikutnya adalah gemar bergunjing dan membangun kubu.

Dalam organisasi, perbedaan pandangan merupakan sesuatu yang wajar. Namun, perbedaan tersebut menjadi berbahaya ketika persoalan profesional berubah menjadi gosip personal, konflik kelompok, atau politik internal yang tidak sehat.

Seorang akademisi semestinya memiliki keberanian untuk menyampaikan kritik secara langsung, terbuka, dan argumentatif. Jika terdapat persoalan dengan kolega, forum akademik dan mekanisme organisasi seharusnya menjadi tempat penyelesaian.

Membicarakan seseorang di belakangnya mungkin terasa mudah, tetapi dampaknya dapat merusak kepercayaan dan menciptakan lingkungan kerja yang penuh kecurigaan.

Merasa paling hebat dan paling pintar juga merupakan jebakan yang berbahaya.

Ironisnya, semakin tinggi seseorang berada dalam dunia keilmuan, semestinya semakin besar pula kesadarannya bahwa pengetahuan tidak pernah selesai.

Dosen memang dituntut memiliki kompetensi. Namun, kompetensi bukan alasan untuk menutup diri terhadap kritik. Mahasiswa dapat memiliki pertanyaan yang tidak terduga. Rekan sejawat bisa menawarkan perspektif berbeda. Bahkan akademisi yang lebih muda dapat membawa gagasan yang lebih relevan dengan perkembangan zaman.

Akademisi yang matang tidak takut mengatakan, Saya belum tahu.

Justru kalimat tersebut menunjukkan kerendahan hati intelektual. Sebab, ilmu pengetahuan berkembang karena manusia bersedia bertanya, menguji, mengoreksi, dan bahkan mengakui bahwa pemahamannya sebelumnya mungkin belum sempurna.

Persoalan lain yang tidak kalah penting adalah mengutamakan emosi daripada nalar akademik

Dalam proses pendidikan, dosen tentu memiliki perasaan. Dosen juga manusia yang bisa lelah, kecewa, marah, atau tersinggung. Akan tetapi, posisi sebagai pendidik menuntut kemampuan mengelola emosi agar tidak menjadi dasar dalam mengambil keputusan profesional.

Penilaian mahasiswa, evaluasi penelitian, pemberian kesempatan akademik, maupun keputusan lainnya semestinya didasarkan pada indikator yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan.

Jangan sampai mahasiswa atau kolega diperlakukan berbeda hanya karena hubungan personal, ketidaksukaan, atau konflik sebelumnya.

Di sinilah pentingnya profesionalitas.

Adil bukan berarti harus menyukai semua orang. Adil berarti mampu memperlakukan orang berdasarkan prinsip dan aturan yang sama.

Kemudian ada persoalan penggunaan jabatan untuk menunjukkan kekuasaan

Jabatan akademik pada hakikatnya adalah amanah, bukan alat untuk membuat orang lain tunduk. Seorang ketua program studi, kepala departemen, profesor, atau pejabat struktural memang memiliki kewenangan tertentu.

Namun, kewenangan tersebut semestinya digunakan untuk memfasilitasi, melindungi, dan mengembangkan institusi.

Ketika jabatan digunakan untuk mengintimidasi bawahan, mempermalukan mahasiswa, membungkam kritik, atau memaksakan kehendak, maka jabatan telah kehilangan sebagian makna pendidikannya.

Kekuasaan yang sehat justru membuat orang lain berkembang, bukan mengecil.

Hal yang sama berlaku terhadap ketidakmauan melihat orang lain berkembang

Seorang dosen semestinya merasa bangga ketika mahasiswa berhasil melampauinya dalam bidang tertentu. Demikian pula ketika kolega yang lebih muda menghasilkan karya yang baik.

Keberhasilan orang lain tidak otomatis mengurangi nilai diri kita. Sebaliknya, kemampuan menciptakan generasi yang lebih hebat merupakan salah satu bentuk keberhasilan seorang pendidik.

Karena itu, dosen tidak seharusnya pelit berbagi informasi, jaringan, peluang penelitian, maupun pengalaman hanya karena takut tersaingi.

Ilmu pengetahuan berkembang melalui pertukaran, bukan monopoli.

Integritas juga harus tampak dalam konsistensi antara apa yang dikatakan dan apa yang dilakukan.

Dosen yang berbicara tentang etika tetapi memperlakukan mahasiswa secara tidak adil sedang mengajarkan sebuah kontradiksi. Dosen yang berbicara tentang transparansi tetapi mengambil keputusan secara tertutup juga sedang memberikan pelajaran meskipun bukan pelajaran yang tertulis dalam silabus.

Mahasiswa belajar bukan hanya dari slide presentasi dan buku teks. Mereka juga belajar dari cara dosennya berbicara, menyelesaikan konflik, menerima kritik, menghargai perbedaan, dan menggunakan kekuasaan.

Inilah yang disebut sebagai kurikulum tersembunyi dalam pendidikan: nilai nilai yang dipelajari mahasiswa melalui pengalaman dan keteladanan, bukan semata mata melalui materi pembelajaran.

Terakhir, ada fenomena berhenti belajar karena merasa sudah jadi

Ini mungkin salah satu red flag terbesar dalam dunia akademik.

Gelar, jabatan, pengalaman, dan reputasi adalah pencapaian yang layak dihargai. Namun, semua itu tidak boleh menjadi alasan untuk berhenti memperbarui pengetahuan.

Ilmu berkembang. Teknologi berubah. Metodologi penelitian diperbarui. Cara belajar generasi mahasiswa juga mengalami perubahan. Karena itu, dosen yang ingin tetap relevan harus terus belajar.

Seorang dosen tidak pernah benar benar selesai menjadi pembelajar.

Pada akhirnya, dosen hebat bukanlah dosen yang paling banyak gelarnya, paling tinggi jabatannya, atau paling sering berbicara tentang dirinya sendiri.

Dosen hebat adalah mereka yang ilmunya membuat orang lain bertumbuh, sikapnya membuat orang lain merasa dihargai, dan kehadirannya menciptakan ruang yang sehat untuk berpikir serta berkembang.

Kampus membutuhkan dosen yang kuat secara keilmuan sekaligus matang secara emosional. Tegas, tetapi tidak merendahkan. Kritis, tetapi tidak sinis. Berwibawa, tetapi tidak haus kuasa. Kompetitif, tetapi tidak menjadikan orang lain sebagai korban.

Dan yang paling penting, berintegritas bukan hanya ketika diawasi, melainkan dalam keseharian.

Sebab pada akhirnya, warisan seorang dosen bukan semata mata jumlah publikasi atau panjang daftar jabatannya.

Warisan terbesar seorang pendidik adalah manusia manusia yang menjadi lebih baik karena pernah belajar dan berinteraksi dengannya.

Jika sebuah kampus ingin membangun budaya akademik yang sehat, pembenahan tidak cukup dilakukan melalui aturan dan dokumen kebijakan. Budaya itu harus dimulai dari manusia yang menjalankannya.

Dan bagi para dosen, mungkin pertanyaan paling penting bukanlah, Seberapa hebat saya dibandingkan orang lain?

Melainkan: Apakah kehadiran saya membuat orang orang di sekitar saya ikut bertumbuh?

Jika jawabannya iya, maka di situlah sesungguhnya wibawa akademik menemukan maknanya.

Sebab wibawa tidak lahir dari suara yang paling keras, jabatan yang paling tinggi, atau gelar yang paling panjang. Wibawa tumbuh dari keteladanan. Ia hadir ketika seorang dosen mampu menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan berjalan beriringan dengan kerendahan hati, kekuasaan dengan tanggung jawab, dan kecerdasan dengan kemanusiaan.

Jangan sampai seorang dosen memiliki segalanya secara akademik, tetapi kehilangan sesuatu yang paling penting sebagai pendidik: keteladanan.

Pada akhirnya, publik mungkin akan lupa berapa banyak gelar yang pernah kita raih, berapa banyak jabatan yang pernah kita duduki, atau berapa banyak artikel yang pernah kita publikasikan.

Tetapi orang akan mengingat bagaimana kita memperlakukan mereka ketika berada dalam posisi yang lebih lemah, bagaimana kita merespons ketika dikritik, dan apakah kehadiran kita membuat mereka merasa dihargai atau justru direndahkan.

Dosen hebat bukan mereka yang membuat orang lain merasa kecil agar dirinya terlihat besar. Dosen hebat adalah mereka yang membuat orang lain tumbuh tanpa merasa kehilangan kebesarannya sendiri.

Itulah barangkali ukuran paling sederhana untuk membedakan antara dosen yang sekadar memiliki jabatan akademik dan dosen yang benar benar menjadi pendidik

Penulis: Dr. Iswadi, M.Pd,  Dosen Magister Pendidikan Dasar Universitas Esa Unggul Jakarta

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI