Rabu, 08 Juli 2026
Beranda / Ekonomi / KADIN Aceh: Kendalikan Inflasi Lewat Produksi Lokal, Bukan Sekadar Rapat Koordinasi

KADIN Aceh: Kendalikan Inflasi Lewat Produksi Lokal, Bukan Sekadar Rapat Koordinasi

Selasa, 07 Juli 2026 21:00 WIB

Font: Ukuran: - +

High Level Meeting (HLM) TPID dan Tim Percepatan dan Perluasan Digitalisasi Daerah (TP2DD) se-Aceh di Hotel Harmoni, Kota Langsa, Senin (6/7/2026). [Foto: dok. Kadin Aceh]


DIALEKSIS.COM | Langsa - Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Aceh mendorong penguatan koordinasi Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) hingga tingkat kabupaten/kota sekaligus mempercepat pengembangan sektor produksi lokal sebagai strategi jangka panjang menjaga stabilitas harga di Aceh.

Dorongan tersebut disampaikan Direktur Eksekutif KADIN Aceh, Teuku Jailani, saat menghadiri High Level Meeting (HLM) TPID dan Tim Percepatan dan Perluasan Digitalisasi Daerah (TP2DD) se-Aceh di Hotel Harmoni, Kota Langsa, Senin (6/7/2026). 

Ia hadir mewakili Ketua Umum KADIN Aceh bersama para kepala daerah, jajaran Bank Indonesia, Badan Pusat Statistik (BPS), Perum Bulog, Bank Aceh Syariah, dan organisasi perangkat daerah yang membidangi pangan, perekonomian, serta keuangan.

Menurut Teuku Jailani, keberhasilan pengendalian inflasi tidak cukup mengandalkan forum koordinasi yang bersifat seremonial. Yang lebih penting adalah komunikasi yang berlangsung secara aktif, terstruktur, dan berkelanjutan antarpemangku kepentingan sehingga setiap kebijakan dapat saling mendukung.

"Kolaborasi hanya akan efektif jika dibangun di atas koordinasi yang kuat dan pertukaran informasi yang berjalan baik, mulai dari perencanaan hingga langkah antisipasi di lapangan," ujarnya.

Ia juga menilai kelembagaan TPID di daerah perlu diperkuat dengan melibatkan pemerintah daerah, Bank Indonesia, BUMN, BUMD, pelaku usaha, serta KADIN kabupaten/kota. Sinergi tersebut dinilai akan mempercepat respons terhadap potensi gejolak harga kebutuhan pokok.

Selain memperkuat koordinasi, KADIN Aceh menilai peningkatan kapasitas produksi dalam daerah menjadi langkah strategis untuk menekan inflasi. Selama ini, komoditas seperti telur ayam dan daging ayam masih bergantung pada pasokan dari luar Aceh sehingga rentan terhadap kenaikan biaya distribusi dan logistik.

Menurut Teuku Jailani, posisi geografis Aceh yang relatif jauh dari sentra produksi nasional menyebabkan biaya angkut menjadi lebih tinggi dan berpengaruh langsung terhadap harga di tingkat konsumen. 

Karena itu, Aceh dinilai perlu mempercepat pembangunan industri peternakan ayam petelur dan ayam pedaging agar kebutuhan masyarakat dapat dipenuhi dari produksi lokal.

Ia meyakini penguatan sektor produksi akan memperpendek rantai pasok, meningkatkan ketahanan pangan, menjaga stabilitas harga, sekaligus membuka peluang investasi dan lapangan kerja baru.

KADIN Aceh, kata dia, siap menjadi mitra strategis pemerintah dalam memperkuat investasi, distribusi, perdagangan, dan pengembangan sektor-sektor produktif.

"Pengendalian inflasi tidak cukup dilakukan melalui intervensi jangka pendek. Fondasi ekonomi daerah harus diperkuat melalui peningkatan kapasitas produksi agar stabilitas harga dapat terjaga sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan," kata Teuku Jailani. [*]

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI