Jum`at, 21 Agustus 2026
Beranda / Berita / Dunia / Super El Niño 2026 Bisa Pecahkan Rekor

Super El Niño 2026 Bisa Pecahkan Rekor

Jum`at, 21 Agustus 2026 08:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Arn

Prakiraan suhu permukaan laut di kawasan Pasifik Ekuatorial menunjukkan penguatan El Niño pada Agustus–Oktober 2026. Foto: Severe Weather Europe.


DIALEKSIS.COM | Jakarta - Dunia menghadapi ancaman episode El Niño yang berpotensi menjadi salah satu yang paling kuat dalam catatan modern. Pusat Iklim Nasional China atau National Climate Center (NCC) memperkirakan pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik terus meningkat dan dapat mencapai puncaknya pada November hingga Desember 2026.

Peringatan itu menjadi perhatian setelah sebuah video berjudul China Warns of Potential for Strongest El Nino in History beredar di YouTube. Penelusuran Dialeksis terhadap sejumlah sumber resmi menunjukkan kekhawatiran tersebut bukan sekadar prediksi sepihak. Data dari China, Amerika Serikat, hingga Indonesia sama-sama memperlihatkan penguatan El Niño yang sangat signifikan.

National Climate Center China mencatat suhu permukaan laut di kawasan Pasifik ekuatorial bagian tengah dan timur meningkat tajam sejak El Niño mulai berkembang pada Mei 2026.

Indeks suhu laut tiga bulanan di kawasan Niño 3.4 mencapai sekitar 2,09 derajat Celsius di atas normal pada Juli. Pada paruh pertama Agustus, pemanasan bahkan disebut telah mencapai 2,64 derajat Celsius.

Jika tren tersebut bertahan, rata-rata tiga bulanan diperkirakan dapat melewati 2,5 derajat Celsius. Level itu dikategorikan otoritas iklim China sebagai El Niño ekstrem atau Super El Niño. Puncak pemanasan diperkirakan berlangsung pada akhir tahun ini.

China bahkan memperkirakan episode kali ini berpotensi melampaui sejumlah El Niño besar sebelumnya, termasuk periode 1982-1983, 1997-1998, dan 2015-2016.

Namun, prediksi tersebut belum berarti El Niño 2026 sudah resmi menjadi yang terkuat sepanjang sejarah. Kepastian baru dapat diketahui setelah episode ini mencapai puncak dan data suhu laut selama beberapa bulan dihitung secara keseluruhan.


NOAA Ikut Mendeteksi Sinyal Rekor

Prediksi China diperkuat oleh Climate Prediction Center, lembaga di bawah National Oceanic and Atmospheric Administration atau NOAA Amerika Serikat.

Dalam pembaruan 13 Agustus 2026, NOAA menyebut El Niño tengah menguat dan memiliki peluang lebih dari 90 persen berkembang menjadi episode sangat kuat pada musim gugur hingga musim dingin Belahan Bumi Utara 2026-2027.

NOAA juga memperkirakan terdapat peluang sekitar 69 persen bahwa kekuatan El Niño pada Oktober-Desember 2026 mencapai kategori historis dan melampaui episode-episode yang tercatat sejak 1950.

Meski demikian, NOAA mengingatkan bahwa El Niño kuat tidak otomatis menimbulkan dampak yang sama di seluruh wilayah dunia. Pengaruhnya berbeda bergantung pada kondisi atmosfer regional dan faktor iklim lainnya.

Di China, tanda-tanda anomali iklim disebut sudah terlihat. Hujan ekstrem, banjir, gelombang panas, serta aktivitas topan mewarnai musim panas tahun ini. Pemerintah China mencatat bencana alam sepanjang Juli menyebabkan ratusan orang meninggal atau hilang serta kerugian ekonomi bernilai miliaran dolar Amerika Serikat.


BMKG: El Niño di Indonesia Sudah Sangat Kuat

Bagi Indonesia, ancaman tersebut bukan lagi sekadar prediksi akhir tahun.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat pada Dasarian I Agustus 2026, anomali suhu permukaan laut di kawasan Niño 3.4 telah mencapai +2,77 derajat Celsius, naik dari +2,20 derajat Celsius pada Juli.

BMKG mengklasifikasikan kondisi itu sebagai El Niño dengan intensitas sangat kuat.

Penguatan El Niño berlangsung ketika sebagian besar Indonesia berada dalam musim kemarau. BMKG mencatat hingga awal Agustus, 535 Zona Musim atau sekitar 76,5 persen wilayah Indonesia telah mengalami musim kemarau.

Sekitar 90,79 persen wilayah Indonesia pada Dasarian I Agustus juga mencatat curah hujan kategori rendah. Kondisi tersebut meningkatkan ancaman kekeringan meteorologis, keterbatasan air, dan kebakaran hutan serta lahan di sejumlah daerah.

Sejak Juni, BMKG sebenarnya telah mengingatkan bahwa puncak musim kemarau 2026 akan banyak terjadi pada Agustus. Sebanyak 369 Zona Musim atau hampir separuh luas daratan Indonesia diperkirakan mengalami puncak kemarau pada bulan tersebut.

Dampak El Niño juga menjadi perhatian bagi sektor pangan. Fenomena ini secara umum menekan curah hujan di sebagian wilayah Asia Tenggara, termasuk Indonesia, sehingga dapat memengaruhi produksi pertanian dan komoditas seperti kopi serta tanaman pangan apabila kekeringan berlangsung panjang.


Aceh Juga Perlu Waspada

Aceh tidak bisa sepenuhnya mengabaikan perkembangan ini. BMKG sebelumnya telah melakukan Operasi Modifikasi Cuaca di Aceh pada 20-26 Juli 2026 sebagai bagian dari mitigasi risiko kebakaran hutan dan lahan.

Operasi serupa dilakukan di sejumlah wilayah Indonesia untuk memanfaatkan potensi awan sebelum kondisi kering semakin berat. BMKG juga menyiapkan langkah mitigasi untuk menjaga ketersediaan air di daerah tangkapan air strategis.

Meski El Niño umumnya identik dengan berkurangnya curah hujan di Indonesia, bukan berarti hujan lebat sama sekali tidak dapat terjadi. BMKG bahkan masih mencatat potensi hujan lebat dan angin kencang di Aceh pada pertengahan Agustus.

Artinya, anomali iklim dapat menghasilkan kondisi yang kompleks periode kering dapat berlangsung lebih panjang, tetapi pada waktu tertentu hujan ekstrem tetap mungkin muncul akibat dinamika atmosfer regional.

Perkembangan beberapa bulan mendatang akan menjadi penentu.

Jika pemanasan Pasifik terus meningkat hingga November-Desember seperti diprediksi, dunia dapat menghadapi salah satu episode El Niño terkuat dalam catatan modern. Bagi Indonesia, ancamannya bukan hanya cuaca panas, https://dialeksis.com/polkum/kodam-im-sebut-kericuhan-15-agustus-dipicu-provokasi-pengibaran-bendera-bulan-bintang/ juga menyangkut cadangan air, produksi pangan, kebakaran hutan, kesehatan masyarakat hingga stabilitas harga komoditas.

Karena itu, peringatan dari China kini bukan lagi persoalan China semata. Data BMKG menunjukkan gejalanya telah hadir di Indonesia dan sedang menguat. [*]

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI
pema - damai
dishub