Jum`at, 26 Juni 2026
Beranda / Berita / Dunia / AS Tuding Iran di Balik Serangan Kapal, IMO Tangguhkan Evakuasi di Selat Hormuz

AS Tuding Iran di Balik Serangan Kapal, IMO Tangguhkan Evakuasi di Selat Hormuz

Jum`at, 26 Juni 2026 12:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Kapal di Selat Hormuz dekat pantai Bandar Abbas, Iran, 11 Juni 2026. [Foto: Amirhosein Khorgooi/isna via Reuters]


DIALEKSIS.COM | Teheran - Organisasi Maritim Internasional (IMO) menghentikan sementara operasi evakuasi kapal-kapal yang terdampar di kawasan Teluk Timur Tengah setelah terjadi serangan terhadap sebuah kapal kontainer di dekat pantai Oman, Kamis (25/6/2026).

Keputusan tersebut diambil untuk memastikan kembali kondisi keamanan bagi kapal-kapal yang masuk dalam daftar evakuasi maupun seluruh armada yang masih beroperasi di kawasan tersebut.

Sekretaris Jenderal IMO, Arsenio Dominguez, mengatakan penghentian sementara dilakukan guna mengevaluasi jaminan keselamatan sebelum operasi kembali dilanjutkan.

"Kami menghentikan sementara rencana evakuasi untuk memastikan bahwa jaminan keselamatan yang diperlukan tetap berlaku bagi kapal-kapal dalam daftar evakuasi maupun seluruh kapal di wilayah tersebut," ujarnya dalam pernyataan resmi.

Serangan itu terjadi setelah sebuah kapal kontainer dihantam proyektil tak dikenal di perairan dekat Oman. Seorang pejabat Amerika Serikat kepada CNBC menyebut Iran diduga berada di balik insiden tersebut, meski penyelidikan masih berlangsung.

"Kami mengetahui laporan tersebut dan sedang melakukan penyelidikan. Presiden Donald Trump telah menegaskan bahwa Iran tidak boleh mengganggu kebebasan arus pelayaran di selat tersebut," kata pejabat AS.

Program evakuasi IMO sendiri baru diluncurkan pada Selasa lalu untuk membantu ratusan kapal beserta ribuan pelaut yang terjebak di kawasan Teluk. Operasi itu dirancang melalui dua jalur, yakni rute utara melewati perairan Iran dan rute selatan melalui perairan Oman yang berada di bawah pengawasan Amerika Serikat.

Sebelumnya, pemilik kapal mulai kembali melintasi Selat Hormuz setelah Amerika Serikat dan Iran menyepakati gencatan senjata sementara selama 60 hari sembari melanjutkan negosiasi menuju kesepakatan damai permanen.

Data Lloyd's List Intelligence menunjukkan sebanyak 125 kapal melintasi Selat Hormuz dalam sepekan setelah gencatan senjata diberlakukan. Jumlah tersebut menjadi tingkat transit mingguan tertinggi sejak konflik pecah pada akhir Februari, meski masih berada di bawah kondisi sebelum perang.

Namun, situasi kembali memanas setelah militer Iran pada Rabu memperingatkan kapal-kapal agar tidak menggunakan rute selatan yang direkomendasikan IMO. Teheran menegaskan setiap jalur pelayaran baru di Selat Hormuz yang dibuat tanpa persetujuannya dianggap tidak dapat diterima dan berbahaya.

Lloyd's juga melaporkan sedikitnya dua kapal memutar balik saat hendak keluar dari Teluk Timur Tengah setelah Iran meminta seluruh kapal menggunakan jalur pelayaran yang disetujui pemerintahnya. Kedua kapal tersebut sebelumnya berlayar melalui rute selatan yang berada paling dekat dengan pantai Oman.

Kapal yang menjadi sasaran serangan diketahui berbendera Singapura dan dimiliki perusahaan pelayaran Evergreen. Menurut IMO, kapal tersebut tidak termasuk dalam program evakuasi yang sedang dijalankan.

Hingga berita ini ditulis, Evergreen, Kementerian Perdagangan dan Industri Singapura, serta Kementerian Luar Negeri Singapura belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar terkait insiden tersebut. [cnbc]

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI
dishes