Sabtu, 05 September 2026
Beranda / Berita / Aceh / Dua Tahun Jihad Akademik, Mujiburrahman Antar UIN Ar-Raniry Miliki Fakultas Kedokteran

Dua Tahun Jihad Akademik, Mujiburrahman Antar UIN Ar-Raniry Miliki Fakultas Kedokteran

Jum`at, 04 September 2026 11:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Arn

Rektor UIN Ar-Raniry, Prof. Dr. Mujiburrahman, M.Ag bersama Dekan Fakultas Kedokteraan dr. Hendra Kurniawan, M.Sc., Sp.P(K). Foto: Kolase Dialeksis


DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Cita-cita menghadirkan Fakultas Kedokteran di Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh tidak terwujud dalam semalam. Ada perjalanan panjang, kerja senyap, serta serangkaian persyaratan akademik dan kelembagaan yang harus dituntaskan sebelum izin akhirnya berada dalam genggaman.

Di bawah kepemimpinan Rektor UIN Ar-Raniry, Prof. Dr. Mujiburrahman, M.Ag., upaya tersebut mulai digerakkan secara intensif sejak Maret 2024. Tim khusus dibentuk untuk menyiapkan naskah akademik, kurikulum, tenaga pengajar, laboratorium, sistem tata kelola hingga jejaring rumah sakit pendidikan.

Hampir dua setengah tahun kemudian, ikhtiar itu berbuah manis. Pada 31 Agustus 2026, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi menerbitkan Keputusan Nomor 962/B/O/2026 tentang izin pembukaan Program Studi Kedokteran Program Sarjana dan Program Studi Pendidikan Profesi Dokter Program Profesi di UIN Ar-Raniry.

Keputusan tersebut ditetapkan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Khairul Munadi, atas nama Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Kedua program studi itu dinyatakan telah memenuhi persyaratan minimum akreditasi.

Kepada Dialeksis, Jumat (4/9/2026), Mujiburrahman mengenang perjalanan panjang yang harus dilalui hingga izin pendidikan kedokteran itu terbit. Menurutnya, keberhasilan tersebut merupakan hasil kesungguhan seluruh unsur kampus dalam menuntaskan satu demi satu persyaratan yang ditetapkan pemerintah.

“Keputusan ini tidak datang secara tiba-tiba. Sejak Maret 2024, tim bekerja menyiapkan berbagai persyaratan dengan sangat serius. Ada proses panjang, evaluasi, perbaikan dan koordinasi yang terus-menerus. Karena itu, kami menyebutnya sebagai jihad akademik,” kata Mujiburrahman.

Meski berada di pucuk kepemimpinan universitas, Mujiburrahman tidak ingin pencapaian tersebut hanya dilekatkan kepada dirinya. Ia menegaskan, berdirinya Fakultas Kedokteran merupakan buah dari kerja kolektif para wakil rektor, dekan, dosen, dokter, tenaga kependidikan, Lembaga Penjaminan Mutu dan seluruh tim persiapan.

Dukungan juga datang dari Kementerian Agama, Kementerian Kesehatan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Pemerintah Aceh, pemerintah kabupaten/kota, rumah sakit, perguruan tinggi mitra hingga masyarakat.

“Tugas rektor adalah memberikan arah, menyatukan kekuatan dan membuka jejaring. Namun, keberhasilan ini merupakan milik seluruh sivitas akademika dan masyarakat Aceh yang sejak awal memberikan doa serta dukungan,” ujarnya.

Jejak digital yang ditelusuri Redaksi Dialeksis menunjukkan keseriusan tersebut mulai terlihat pada 2024. UIN Ar-Raniry menggandeng Fakultas Kedokteran UIN Syarif Hidayatullah Jakarta untuk memberikan pendampingan.

Kerja sama itu diperkuat melalui Keputusan Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Nomor 146 Tahun 2025. Tim pendamping ditugaskan membantu penyusunan naskah akademik, membangun jejaring kerja sama, serta mendampingi berbagai kebutuhan teknis pembentukan Fakultas Kedokteran UIN Ar-Raniry. Dokumen itu juga merujuk pada tim pendampingan yang telah dibentuk sejak 2024.

Pada November 2024, Mujiburrahman kepada Dialeksis mengungkapkan UIN Ar-Raniry telah mengantongi rekomendasi Kementerian Kesehatan dan menunggu tahapan visitasi dari kementerian yang membidangi pendidikan tinggi.

Saat itu, ia telah menegaskan bahwa Fakultas Kedokteran UIN Ar-Raniry akan memiliki wajah berbeda. Pendidikan kedokteran tidak hanya bertumpu pada kemampuan medis, tetapi juga mengintegrasikan sains, nilai-nilai Islam, akhlak, dan semangat pengabdian kepada masyarakat.

Menurut Mujiburrahman, standar pendidikan dokter tidak memberikan ruang bagi kampus untuk bekerja seadanya. Setiap dokumen harus dapat dipertanggungjawabkan. Ketersediaan dosen, laboratorium, kurikulum, rumah sakit pendidikan dan sistem penjaminan mutu juga harus dibuktikan secara nyata.

“Pendidikan kedokteran berkaitan langsung dengan keselamatan manusia. Karena itu, tidak boleh ada jalan pintas dan tidak boleh ada kompromi terhadap mutu,” tegasnya.

Salah satu tantangan penting yang harus dijawab UIN Ar-Raniry adalah menyediakan rumah sakit pendidikan dan wahana pembelajaran klinik. Kampus kemudian membangun komunikasi dengan Pemerintah Aceh, Pemerintah Kota Banda Aceh dan Pemerintah Kabupaten Pidie.

Pada 21 Mei 2026, UIN Ar-Raniry dan Pemerintah Kabupaten Pidie menandatangani nota kesepahaman untuk mempersiapkan RSUD Tgk Chik Ditiro Sigli sebagai rumah sakit pendidikan.

Rumah sakit tersebut disiapkan untuk mendukung pendidikan profesi dokter dan kepaniteraan klinik. Kerja sama itu sekaligus membuka peluang penguatan fasilitas, sumber daya manusia dan kualitas pelayanan kesehatan di Kabupaten Pidie.

Pemerintah Aceh turut memberikan dukungan melalui hibah aset Akademi Keperawatan beserta sarana dan prasarananya. Pemerintah Aceh juga menyiapkan lahan sekitar 30 hektare untuk rencana pembangunan Rumah Sakit Pendidikan UIN Ar-Raniry.

Mujiburrahman mengatakan pendidikan kedokteran tidak mungkin berjalan hanya dengan mengandalkan gedung dan ruang kuliah. Fakultas Kedokteran membutuhkan ekosistem yang mempertemukan kampus, rumah sakit, puskesmas, pemerintah daerah, organisasi profesi, tenaga ahli dan masyarakat.

“Semua kekuatan itu harus dirangkul. Kami ingin membangun Fakultas Kedokteran di atas fondasi yang kokoh, bukan sekadar memenuhi syarat administratif untuk memperoleh izin,” katanya.

Perjalanan itu memasuki fase menentukan pada 30 Juli 2026. UIN Ar-Raniry menjalani evaluasi pembukaan Program Studi Kedokteran dan Program Studi Pendidikan Profesi Dokter oleh Direktorat Kelembagaan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.

Tim evaluator memeriksa kesiapan dokumen akademik, kurikulum, sumber daya manusia, fasilitas fisik, laboratorium, tata kelola dan dukungan rumah sakit pendidikan. Evaluasi digelar secara hibrida dengan pusat kegiatan di Auditorium Prof. Ali Hasjmy UIN Ar-Raniry.

Kurikulum yang disiapkan juga telah melalui proses pembandingan dengan sejumlah fakultas kedokteran terkemuka di Indonesia dan Malaysia.

Sekitar satu bulan setelah evaluasi, izin operasional akhirnya diterbitkan. Momentum itu datang tidak lama setelah Mujiburrahman kembali dilantik sebagai Rektor UIN Ar-Raniry untuk masa jabatan 2026“2030.

“Ketika izin itu terbit, tentu kami sangat bersyukur dan lega. Namun, kami juga menyadari bahwa keluarnya izin bukanlah garis akhir. Justru sejak saat itulah tanggung jawab yang sesungguhnya dimulai,” tuturnya.

Fakultas Kedokteran UIN Ar-Raniry hadir dengan keunggulan pada bidang promotif dan preventif penyakit infeksi dalam 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Fokus tersebut menjadi identitas akademik dalam mempersiapkan calon dokter yang memahami pentingnya pencegahan penyakit sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun.

Kurikulum Program Sarjana Kedokteran disusun sebanyak 148 satuan kredit semester yang ditempuh selama delapan semester. Sebanyak 25 SKS atau 16,89 persen di antaranya merupakan mata kuliah unggulan yang mendukung fokus keilmuan 1.000 HPK.

Proses pendidikan menggunakan kurikulum berbasis kompetensi dengan pendekatan Problem-Based Learning dan pembelajaran berbasis komunitas. Fakultas ini juga menerapkan konsep Unity of Sciences yang memadukan ilmu kedokteran dengan keilmuan Islam, spiritualitas dan etika profesi.

Mujiburrahman menekankan integrasi Islam tidak cukup dilakukan dengan sekadar menambah mata kuliah agama. Nilai-nilai Islam harus tercermin dalam kejujuran ilmiah, etika profesi, cara dokter berkomunikasi dengan pasien, penghormatan terhadap martabat manusia serta keberpihakan kepada masyarakat yang membutuhkan pelayanan.

“Kita ingin melahirkan dokter Muslim yang kuat secara akademik, terampil secara klinis, memiliki integritas, empati dan kesadaran bahwa profesi dokter merupakan jalan pengabdian,” jelasnya.

Lulusan Fakultas Kedokteran UIN Ar-Raniry nantinya dipersiapkan menjalankan lima peran, yakni sebagai pemberi pelayanan kesehatan, pengambil keputusan, komunikator, pemimpin masyarakat dan pengelola masalah kesehatan.

Dengan pendekatan tersebut, mahasiswa tidak hanya belajar di dalam kelas dan laboratorium. Mereka juga akan berhadapan langsung dengan persoalan kesehatan di tengah masyarakat.

“Kami ingin dokter lulusan UIN Ar-Raniry memahami keadaan masyarakat hingga ke gampong. Mereka harus mampu mengobati, mengedukasi, mencegah penyakit dan menggerakkan masyarakat agar hidup lebih sehat,” katanya.

Selepas izin diterbitkan, UIN Ar-Raniry bergerak menyiapkan perkuliahan perdana. Para dosen mengikuti enam rangkaian workshop Teaching and Learning selama tiga pekan. Pembekalan meliputi penyusunan Rencana Pembelajaran Semester, modul pembelajaran, microteaching dan facilitator guide.

UIN Ar-Raniry juga membuka pendaftaran mahasiswa angkatan pertama pada 3 - 10 September 2026. Seleksi dilaksanakan melalui Computer Based Test dan pemeriksaan buta warna, sementara hasil seleksi dijadwalkan diumumkan pada 15 September 2026.

Mujiburrahman mengatakan mahasiswa angkatan pertama akan menjadi fondasi penting bagi reputasi Fakultas Kedokteran UIN Ar-Raniry. Karena itu, penerimaan mahasiswa, proses pembelajaran, evaluasi dan penjaminan mutu harus dilaksanakan secara transparan dan bertanggung jawab.

“Tidak ada kompromi terhadap mutu. Kami ingin fakultas ini tumbuh dengan reputasi akademik yang baik, tata kelola yang bersih, dosen yang terus berkembang dan lulusan yang benar-benar dipercaya masyarakat,” ujarnya.

Ke depan, UIN Ar-Raniry akan terus memperluas kerja sama dengan pemerintah, rumah sakit, organisasi profesi, dunia usaha dan lembaga filantropi. Kemitraan itu dibutuhkan untuk memperkuat fasilitas pendidikan sekaligus membuka peluang beasiswa bagi mahasiswa berprestasi dari keluarga kurang mampu.

“Fakultas Kedokteran ini harus menjadi milik masyarakat. Kehadirannya harus memperluas akses pendidikan, memperkuat pelayanan kesehatan dan menghadirkan harapan baru bagi generasi Aceh,” pungkas Mujiburrahman. 

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI
pema - damai
dishub