Logo Dialeksis
Beranda / Tajuk / Kesadaran Menjaga Persatuan

Kesadaran Menjaga Persatuan

Selasa, 20 Februari 2018 14:35 WIB

Font: Ukuran: - +

Pimpinan Pesantren Dayah Al-Muhajirin, Tgk. Ahmad Tajuddin yang akrab disapa Abi Lampisang, Hari Jumat (16/2), menerima kunjungan dari rombongan dari Yayasan Budha Tzu Chi Indonesia, dan aktivis Aksi Kesetiakawanan Sosial Indonesia Raya (DPD AKSIRA) Provinsi Sumatera Utara. Seperti diliris media, pertemuan tersebut berlangsung akrab.

Pada kesempatan itu, Abi Lampisang menjelaskan bahwa itu bukan hanya memimpin dalam hal keagamaan tetapi juga pemimpin dalam kegiatan sosial. Menurutnya, kesalehan social berupa saling pengertian dan pemahaman menjadi sangat penting untuk menciptakan suasana yang aman dan damai . Karena itu merupakan salah satu esensi ajaran Islam yang menjadi rahmatan lil alamin  

Abi Lampisang mengingatkan, bahwa dalam tahun politik sekarang ini, termasuk beberapa daerah di Aceh akan melakukan Pemilihan Kepala Daerah, maka tokoh pemuda dan ulama diharap bergandengan tangan guna terciptanya kehidupan yang nyaman dan tenteram bagi masyarakat Aceh

Pesan ulama Abi Lampisang itu singkat. Namun dapat kita takwil secara dalam, sebuah pesan seorang arif  untuk pemahaman terhadap perilaku ‘keberagamaan" kita-- ketika akhir-akhir  ini adanya kecenderungan retak dan muncul stigma negative. Misalnya, bagaimana saat ini gerakan anti etnis dan keyakinan yang berbeda ditiupkan secara gencar lewat media social juga gerakan "diam-diam" dengan sarkasme yang rasis dan sara. Dalam pilkada 2017 DKI gerakan atasnama anti etnis dan agama itu begitu anyir, dan hingga saat ini masih tetap diawetkan.

Kata-kata Soekarno berpuluh tahun silam semakin terasa kebenarannya sekarang. Betapa kita sebagai bangsa yang besar, yang terdiri dari beragam suku bangsa dan agama, justru sering terkoyak dan dikoyak-koyak karena kebesaran itu sendiri, karena tidak asa saling memahami atas keragaman sebagai bangsa.

Tentu, situasi dulu berbeda dengan zaman now yang makin rumit, karena justru makin sering bertengkar antar-sesama – untuk berbagai topik, di berbagai kesempatan. Musuh kita bukan lagi penjajah dari negeri seberang yang hendak mengambil kekayaan bumi Nusantara. Musuh kita sekarang adalah hoax – kabar bohong yang dengan mudah tersebar luas, yang seringkali mempertegas batas antara ‘kami’ dan ‘kalian’. Bahkan hoax telah menjadi bisnis menggiurkan, karena dapat mengambil untung dari perpecahan bangsa sendiri.

Di sinilah pentingnya kesadaran setiap orang merefleksikan keberagaman kita, juga kesadaran untuk memilih menjadi satu bangsa dengan kemajemukan tersebut. Sebagaimana diisyarakat Abi Lampisang, agar tokoh pemuda dan ulama diharap bergandengan tangan guna terciptanya kehidupan yang nyaman dan tenteram bagi masyarakat Aceh

Inti dari imbauan pimpinan Dayah Al Muhajirin Abi Lampisang itu adalah adanya kesadaran dan kesediaan saling menerima perbedaan, dan ini menjadi fondasi utama persatuan satu negara majemuk seperti Indonesia. Identitas kebangsaan diperkuat melalui semangat toleransi dan persatuan agar semakin kokoh menghadapi tantangan di era global saat ini. Arus globalisasi yang dipahami sebagai proses westernisasi telah berdampak pada penghancurkan integritas budaya, sosial dan terkoyaknya persaudaraan antarsesama bangsa. Kesadaran akan perbedaan adalah modal dasar untuk menerima keberagaman di Indonesia, melebur untuk saling menghargai perbedaan satu sama lain. Sebab tidak ada yang menghendaki kita hidup bercerai berai hanya karena alasan kita berbeda satu sama lainnya dalam hal berbeda etnis, bahasa, keyakinan, kebiasaan, makanan, dan lain-lain.

Alhamdulillah, dalam caruk-maruk soal perbedaan itu, gerakan anti etinis yang selama ini terjadi di Indonesia cenderung mengkhawatirkan, masyarakat Aceh secara umum tidak tergelincir oleh provokasi yang ditiupkan pihak-pihak baik melalui media sosial maupun gerakan "diam" dengan sarkasme rasialis terbut. Inilah beda Aceh yang notabene masyarakat Islam, namun menjadi paying bagi etenis yang memiliki keyakinan dan budaya berbeda untuk saling memahami dan mendukung, sehingga memperkaya keberagaman Aceh.

Di daerah lain boleh berteriak-teriak perdamaian, kerukunan umat beragama, perbedaan kulit, suku dan ras, tapi sesungguhnya di Aceh sudah terjalinn dengan khidmat sejak berates-ratus tahun lamanya. Sejarah Aceh dan cacatan para pengembara menuliskan haln itu, sehingga Aceh pernah menjadi pewaris Malaka dan menjadi pusat perabadan dunia. Masyarakat Aceh adalah bangsa yang dinamis akan perubahan demi kebaikan kelangsungan peradabannya. Semoga ini memantik kesadaran generasi Aceh saat ini. (redaksi)


Editor :
Ampuh Devayan

riset-JSI
Komentar Anda