Sabtu, 12 September 2026
Beranda / Sosok Kita / Reza Idria, Dari Harvard Mengabdi untuk UIN Ar-Raniry

Reza Idria, Dari Harvard Mengabdi untuk UIN Ar-Raniry

Jum`at, 11 September 2026 22:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Redaksi

Reza Idria dilantik sebagai Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama oleh Rektor UIN Ar-Raniry, Prof. Dr. Mujiburrahman, M.Ag., di Auditorium Prof. Ali Hasjmy, Jumat (11/9/2026). [Foto: dokumen untuk dialeksis.com]


DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Perjalanan panjang Reza Idria di dunia akademik memasuki babak baru. Antropolog lulusan Harvard University itu resmi dipercaya menjabat Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh.

Reza dilantik Rektor UIN Ar-Raniry, Prof. Dr. Mujiburrahman, M.Ag., di Auditorium Prof. Ali Hasjmy, Jumat (11/9/2026). Ia menggantikan Prof. Dr. Mursyid Djawas, M.H.I., yang kini dipercaya memimpin Fakultas Syariah dan Hukum.

Pelantikan tersebut menjadi lompatan penting dalam karier Reza. Sebelumnya, ia menjabat Wakil Dekan III Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Pemerintahan (FISIP) UIN Ar-Raniry sejak 2022. 

Reza bukanlah sosok baru di lingkungan kampus berjuluk Jantong Hatee Rakyat Aceh tersebut. Hubungannya dengan UIN Ar-Raniry telah terbangun sejak masa mahasiswa. Ia menyelesaikan pendidikan sarjana pada Program Studi Perbandingan Mazhab dan Hukum pada 2004, ketika kampus itu masih berstatus IAIN Ar-Raniry.

Keinginan memperluas cakrawala akademik kemudian membawanya ke Belanda. Reza melanjutkan pendidikan di Leiden University dan meraih gelar Master of Arts bidang Studi Islam pada 2010.

Sepulang dari Belanda, ia memulai karier sebagai dosen tetap UIN Ar-Raniry pada 2011. Dari ruang kuliah di Banda Aceh, langkah akademiknya kemudian bergerak menuju salah satu universitas paling bergengsi di dunia.

Pada 2013, Reza memperoleh GSAS Presidential Award dari Harvard University, Amerika Serikat. Kesempatan itu mengantarkannya meraih gelar magister Antropologi Sosial pada 2016 dan doktor pada 2020. Disertasinya berjudul Tales of the Unexpected: Contesting Syari’ah Law in Aceh, Indonesia. 

Kajian tersebut mencerminkan perhatian Reza terhadap relasi antara agama, hukum, negara, dan kehidupan sosial masyarakat Aceh. Bidang keilmuannya mencakup antropologi Islam, antropologi hukum, konflik, keadilan transisi, bencana, resiliensi masyarakat, serta tradisi lisan dan kebudayaan Melayu-Islam.

Jejak internasional Reza tidak berhenti di Harvard. Ia pernah menjadi research fellow di National University of Singapore pada 2022 dan visiting scholar di Stanford University pada 2023. Stanford mencatat Reza sebagai akademisi Antropologi Sosial UIN Ar-Raniry yang menekuni persinggungan antropologi hukum dan hukum Islam. 

Pengakuan terhadap kapasitas akademiknya juga terlihat ketika Reza dipercaya menjadi mentor senior dalam program EuroSEAS PhD Masterclass. Ia turut bergabung sebagai anggota Akademi Ilmuwan Muda Indonesia (ALMI) dan pernah menjadi penguji pada sejumlah program doktoral, termasuk di STIK Lemdiklat Polri.

Sejak 1 Desember 2025, Reza menyandang jabatan akademik Lektor Kepala dalam kajian Antropologi Islam di UIN Ar-Raniry.

Di luar kampus, Reza dikenal aktif membangun ruang pengetahuan yang bersentuhan langsung dengan masyarakat. Bersama Komunitas Tikar Pandan, ia menginisiasi Sekolah Menulis Dokarim bagi anak-anak korban konflik Aceh.

Pada 2011, Reza bersama sejumlah aktivis mendirikan Museum HAM Aceh, museum komunitas yang mengusung agenda memorialisasi dan pemulihan pascakonflik. Ia menjadi direktur eksekutif pertama lembaga tersebut dan turut membantu kerja Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR) Aceh, terutama dalam analisis sosial serta dampak trauma terhadap penyintas konflik. 

Reza juga pernah memimpin Asosiasi Tradisi Lisan Aceh periode 2020–2025. Selain menghasilkan karya ilmiah, ia aktif menulis opini di berbagai media nasional, seperti Tempo, Kompas, Gatra, Esquire, dan Tirto.id.

Dalam bidang pengelolaan riset, Reza dipercaya sebagai Direktur Eksekutif International Center for Aceh and Indian Ocean Studies (ICAIOS) sejak 2022. Lembaga tersebut menjadi ruang kolaborasi Universitas Syiah Kuala, UIN Ar-Raniry, dan Universitas Malikussaleh dalam mengembangkan penelitian serta jejaring akademik internasional.

Sehari sebelum dilantik sebagai wakil rektor, Reza masih hadir sebagai Direktur ICAIOS dalam seminar kesehatan mental pascabencana bersama IAIN Takengon. Ia menekankan pentingnya agar pengetahuan tidak berhenti di ruang akademik, tetapi diteruskan ke ruang publik sehingga memberikan manfaat bagi masyarakat. 

Kini, pengalaman akademik, jejaring global, dan rekam jejak pengabdiannya diuji dalam ruang kepemimpinan yang lebih luas. Sebagai Wakil Rektor III, Reza akan menangani pengembangan potensi dan prestasi mahasiswa, konsolidasi alumni, serta perluasan kerja sama UIN Ar-Raniry di tingkat nasional dan internasional.

Rektor UIN Ar-Raniry, Mujiburrahman, mengingatkan bahwa jabatan yang diberikan bukan sekadar posisi birokrasi, melainkan instrumen pengabdian yang membutuhkan kerja keras, kerja cerdas, dan kerja tuntas.

Dengan perpaduan pengalaman lokal dan internasional, Reza Idria membawa modal kuat untuk membuka lebih banyak kesempatan bagi mahasiswa UIN Ar-Raniry. Penunjukannya bukan hanya menandai puncak baru dalam perjalanan kariernya, tetapi juga menghadirkan harapan agar kampus tersebut semakin terbuka, kolaboratif, dan diperhitungkan dalam percaturan akademik dunia. [red]

Keyword:


Editor :
Indri

riset-JSI