Logo Dialeksis
Beranda / Sosok Kita / Impian Rahmad Melihat Senyum Anak-anak di Aceh, Terbebas dari Bibir Sumbing

Impian Rahmad Melihat Senyum Anak-anak di Aceh, Terbebas dari Bibir Sumbing

Jum`at, 20 Maret 2020 17:25 WIB

Font: Ukuran: - +


Rahmad Maulizar, Korwil Smile Train Aceh usai diwawancara, Rabu (18/3/2020). [Foto: Sara Masroni/Dialeksis.com]


DIALEKSIS.COM | - Banda Aceh - Menapaki diri sebagai pekerja sosial dan kemanusiaan. Pergi dari satu daerah ke daerah lain. Itulah yang ditekuni dan menjadi panggilan jiwa seorang Rahmad Maulizar, Koordinator Wilayah (Korwil) Smile Train Aceh, sejak kuliah dahulu hingga kini.

Cita-citanya mulia sekali. Ingin melihat lebih banyak anak-anak di Aceh yang menderita bibir dan langit-langit sumbing menjadi tersenyum dan percaya diri seperti anak-anak lainnya.

"Modal awal kesuksesan seseorang itu adalah percaya diri. Bayangkan ada banyak anak-anak di luar sana yang merasa minder karena bibir sumbingnya, bagaimana mereka akan pede mengekspresikan dirinya," ungkap Rahmad saat diwawancara Dialeksis.com di salah satu Coffee Shop di Banda Aceh, Rabu (18/3/2020).

Yayasan Smile Train adalah sebuah organisasi nirlaba dan amal dunia yang menyediakan operasi untuk anak-anak dengan bibir dan langit-langit sumbing.

Melalui yayasan tersebut, Rahmad berupaya melihat lebih banyak anak-anak di Aceh tersenyum dan terbebas dari bibir sumbing, terutama bagi mereka yang berada di pelosok daerah dengan segala keterbatasan yang ada.

"Kalau operasi biasa, bisa sampai Rp 25 juta. Sebab operasi bibir sumbing ini jatuhnya ke operasi plastik atau kecantikan. Tapi bersama Smile Train, semuanya gratis," ungkap Rahmad sambil sesekali melahap cemilan di depannya.

Ditangani langsung oleh tim ahli bedah plastik yakni dr Muhammad Jailani, dr Mirna Sari dan dr Syamsul Rizal, hingga kini Aceh sudah 5000-an orang yang melakukan operasi bibir sumbing gratis, melalui Smile Train.

Setiap pekan ada yang datang langsung ke Rumah Sakit Malahayati Banda Aceh, namun ada pula yang mendaftar melalui telpon, terutama masyarakat dari daerah-daerah di Aceh.

"Operasi bersama Yayasan Smile Train, tanpa dipungut biaya sepeserpun. Kamar, obat dan semuanya kita tanggung," jelas Rahmad.

Dipelopori dr Muhammad Jailani bersama tim, Yayasan Smile Train tiba di Aceh sejak 2007 lalu. Rahmad masuk menjadi relawan pada 2010 usai dirinya sendiri mengikuti operasi, dan kemudian terlibat membantu menjadi relawan hingga ditunjuk menjadi Korwil di Aceh.

"Kalau suka duka ya, pernah diejek dan dikata-katain, bahkan pernah dikejar pakai benda tajam juga, soalnya sudah banyak yayasan lain yang menipu mereka," kenang Rahmad saat mencari pasien dan turun ke daerah-daerah.

"Menjadi pekerja sosial itu tidak mudah. Harus tahan banting dalam hujan panas, hinaan dan fitnah. Harus siap-siap tahan kuping dari pembicaraan orang-orang. Tapi abaikan semua itu. Kita harus semangat membantu orang lain supaya lebih banyak senyum di Aceh," tambah Rahmad.

Baginya, masa depan yang cerah bagi anak-anak di Aceh dan tampil percaya diri dalam meraih kesuksesan adalah sebuah keniscayaan.

"Lahir dalam kondisi bibir sumbing ini sangat tidak enak. Makanya kita harus menciptakan kepercayaan diri anak-anak lain agar mereka bisa meraih kesuksesannya dengan percaya diri, tanpa perasaan minder," ujar Rahmad.

Pihaknya turun ke daerah per tiga bulan sekali dengan titik tumpu ke Aceh bagian Timur, Aceh bagian Tengah, Barat Selatan dan daerah Pulau.

Bila operasi dilakukan di daerah, minimal ada 20 pasien di sana, baru kemudian tim dokter ahli bedah akan turun ke lapangan.

"Angka 20 itu minimal ya, maksimal bisa sebanyak-banyaknya," ungkap Korwil Smile Train itu.

Jika operasi dilakukan di Banda Aceh, maka titik tumpunya di Rumah Sakit Malahayati jalan Cut Nyak Dhien No.498, Lamtemen Tim, Kecamatan Jaya Baru, Kota Banda Aceh.

Pendaftaran dilakukan pada hari Jumat di setiap pekannya. Kemudian Sabtu akan dilakukan cek kesehatan dan Minggu dilakukan operasi.

"Senin atau Selasa biasanya sudah bisa pulang. Namun ketika ada hal-hal di luar dugaan seperti pendarahan dan sebagainya, tetap kita inapkan lagi. Tapi itu jarang ya," jelasnya.

"Bahkan ada beberapa pasien yang kekurangan biaya hidup saat perawatan, kita bantu sebagian. Intinya tidak dipungut biaya sepeser pun dari operasi ini. Tidak perlu pakai rujukan dan BPJS," tambah Rahmad.

Ia juga berujar, mengenai syarat operasi, yang penting kondisi bayi sehat, cukup syarat operasi seperti usia minimal tiga bulan dan berat badan minimal lima kilogram untuk kategori bibir sumbing.

Sedangkan untuk kategori operasi celah langit-langit sumbing yakni usia sembilan bulan, dan berat 10 kilogram.

"Lama operasi sekitar 20 hingga 25 menit saja selesai. Baru kemudian perawatannya. Dua pekan kemudian Insya Allah sudah sembuh total," jelas Rahmad.

Pekerjaan kemanusiaan ini tidak dilakukan Rahmad sendirian. Ia kerap ditemani sang istri yakni Noviani, hingga ke daerah-daerah.

"Istri juga salah satu faktor kunci sukses dalam bekerja. Kami sama-sama relawan mencari pasien. Keliling ke daerah. Saya juga sudah sampaikan tentang aktivitas sosial saya sejak awal, dia (istri) tahu betul dan ikut mendukung," ungkapnya.

"Semoga siapapun yang sudah merasakan manfaat operasi melalui Smile Train ini, agar mengkampanyekan ke daerahnya masing-masing. Kita ingin lebih banyak anak-anak di Aceh bisa tersenyum, percaya diri dan terbebas dari bibir sumbing," kata Rahmad.

"Dan saya pribadi akan terus di sini, komitmen dan berusaha keras tetap terlibat di aktivitas kemanusiaan ini hingga akhir hayat saya nantinya," pungkas Korwil Smile Train Aceh, Rahmad Maulizar. 

Calon pasien dapat menghubungi Rahmad Maulizar untuk pendaftaran operasi bibir dan langit-langit sumbing melalui telepon 0813-6039-5730 atau datang langsung ke Rumah Sakit Malahayati Banda Aceh setiap hari Jumat.

Begitulah sekilas perjalanan, impian sekaligus cita-cita mulia seorang Rahmad Maulizar. Bersama Smile Train, mereka ingin melihat lebih banyak senyum dan kebahagiaan. Kisahnya dapat menjadi pelecut bagi masyarakat untuk terus berbuat kebaikan, bekerja tanpa pamrih, berbuat atas keikhlasan hati tanpa henti. (sm)

Editor :
Sara Masroni

Berita Terkait
    riset-JSI
    Komentar Anda