Dialeksis - Akurat, Tajam, dan Strategis
Beranda / Sosok Kita / Almarhum Profesor Safwan Idris dan Sketsa Wajah Pembunuh

Almarhum Profesor Safwan Idris dan Sketsa Wajah Pembunuh

Selasa, 17 September 2019 12:50 WIB

Font: Ukuran: - +

DIALEKSIS.COM - Dalam bulan September ada dua tokoh Aceh yang meninggalkan alam fana ini terkena desingan peluru. Dua-duanya tokoh sentral pendidikan Aceh, jabatannya rektor. Hembusan nafas terakhir keduanya hanya berbeda tanggal dan tahun.

Kala itu, dalam rentang waktu setahun, ada tiga tokoh Aceh yang bersimbah darah terkena terjangan peluru. Darah mereka membasahi bumi ujung barat pulau Sumatera ini, bersama ribuan korban lainnya. Satu tokoh politik Aceh ( Ketua DPRA), dua lagi rektor ternama di Aceh.

Tuhan sudah menakdirkan akhir perjalanan hidup ketiga tokoh Aceh ini. Mereka jadi amukan konflik. Batu nisan menjadi bukti sejarah, negeri ujung barat Sumatera ini adalah negeri perang.

16 September 2000, Aceh kehilangan tokoh panutan, ilmuwan sekaligus tokoh agama, Prof Safwan Idris, Rektor IAIN (kini UIN) Ar-Raniry. Rektor ini ditembak di kediamanya. 

Delapan bulan kemudian giliran HT Johan, Ketua DPRK Banda Aceh yang menghembuskan napas terakhir terkena letusan peluru. HT Johan, ketika itu baru kembali dari Masjid Baiturahman Banda Aceh, usai melaksanakan shalat Subuh, 10 Mei 2001. 

Empat bulan kemudian, giliran Rektor Unsyiah Prof DR Dayan Dawood yang menjadi sasaran proyektil. Ia dibidik dengan timah panas pada 6 September 2001. 

Ketika itu Dayan Dawood bersama supirnya berada di ruas jalan jalan T. Nyak Arief menuju pulang ke kediamanya di Lampinueng.

Ketiga putra terbaik Aceh ini bersama ribuan korban lainnya telah menjadi saksi sejarah kelam Aceh. Diantara tiga tokoh Aceh ini, nama Safwan Idris kini menjadi pembicaran. Tepat 19 tahun kembalinya ke ilahi rabbi, publik masih bertanya, siapa pelaku penembakan terhadap rektor ini?

Pertanyaan ini memiliki argument, karena sebelumnya pihak kepolisian sudah mengedarkan sketsa wajah pelaku penembakan Safwan. Namun walau sketsa wajah diduga pelaku penembakan ini sudah beredar, siapa penembak Rektor IAIN 19 tahun yang lalu, sampai kini belum terungkap.

Bertepan dengan 19 tahun berpulangnya Safwan Idris, Direktur Koalisi NGO HAM Aceh Zulfikar Muhammad, memberikan keterangan kepada media, seputar kasus penembakan Safwan Idris.

Direktur NGO HAM Aceh ini mendorong pihak berwenang untuk mengusut tuntas kasus penembakan pada 16 September 2000 silam. 

LSM memiliki catatan. Pihak kepolisian sudah berupaya mengungkap kasus ini sejak tahun 2000. Bukan hanya olah TKP yang dilakukan, namun uji balistik terhadap proyektil yang membuat Rektor IAIN Ar–Raniry ini roboh bersimbah darah, juga telah dilakukan. 

Di lain sisi, Polda Aceh mengeluarkan sketsa wajah pembunuh Prof Safwan Idris, berdasarkan keterangan para saksi mata termasuk teman hidup Safwan Idris. Istri korban turut memberikan keterangan tentang raut wajah pelaku penembakan suaminya.

Koalisi NGO HAM Aceh, memiliki catatan, usaha untuk mengungkap siapa pelaku pembunuhan Safwan Idris bukan hanya dilakukan oleh pihak polisi saja. Pihak GAM juga berupaya menemukan siapa penembak rektor ini.

Namun sampai dengan 17 September 2019, siapa yang melepaskan peluru dari mesin pembunuh, sehingga anak ulama Aceh Besar ini (Tgk Idris) menghembuskan napas terahir, tidak juga terungkap. Sketsa wajah yang sudah diedarkan pihak kepolisian, hanya menjadi catatan.

Safwan Idris, seorang lelaki kelahiran 5 september 1949 di Desa Siem, Kecamatan Darussalam, Aceh Besar. Anak ketiga dari enam bersaudara, merupakan buah hati dari pasangan Tgk H Idris Mahmud dengan Hj Siti Hafsah Ali.

Ayahnya seorang ulama besar di Kabupaten Aceh Besar. Dari berbagai sumber yang dihimpun Dialeksis.com, Safwan dibesarkan dan mengecap bangku pendidikan dengan berlatar agama, mulai dari MIN, hingga menjadi guru (PGA).

Almarhum setahun setelah menyelesaikan PGA, menjadi guru di MIN Suka Damai, Banda Aceh, pada tahun 1968-1973. Dia juga merupakan alumni IAIN Ar-Raniry yang kemudian dia menjadi rektor ke-7. Jurusannya Bahasa Ingris, dia berhasil meraih gelar BA. Kemudian dia melanjutkan pendidikan dengan jurusan yang sama di Unsyiah. 

Safwan bekerja sebagai tata usaha di Kantor Departemen Agama, Banda Aceh selama tiga tahun (1973-1976).

Pada tahun 1977, dia menimba ilmu ke negeri Paman Sam, Amirika Serikat di University of Wiconsin Medison. Safwan mendapatkan beasiswa dari Mobil Oil Indonesia. Kembalinya dari menimba ilmu di Negeri Apache ini, dia dipercayakan menjadi Pembantu Dekan 1 Fakultas Tarbiah IAIN Ar-Raniry.

Karirnya terus menanjak, kemampuanya diakui. Dia bukan hanya ilmuan, namun tokoh agama yang menjadi panutan. Dia ahli hukum Islam. Pada tahun 1996 Safwan diberikan mandat sebagai Rektor ke tujuh IAIN Ar- Raniry.

Safwan dikenal humanis, bukan hanya ahli dalam hukum Islam, dia juga seorang budayawan dan ahli sejarah Islam. Wajar bila Safwan dipercayakan memegang jabatan sebagai Wakil Direktur Pusat Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Islam di Aceh (1989-2000).

Selain itu Safwan juga ahli dalam kehidupan politik. Safwan akhirnya menjadi orang yang diperhitungkan oleh politisi, baik di Aceh dan Jakarta, walau Safwan sendiri bukanlah orang politik. Dia tetap dengan dunianya di akademis.

Ketika konflik Aceh, Safwan Idris dipercayakan sebagai Wakil Ketua MUI Aceh (kini MPU). 

Alumnus Lemhanas singkat ini memposisikan diri sebagai orang netral. Dia sering bersuara, menyampaikan apa adanya, menyangkut persoalan Aceh ketika itu.

Presiden BJ Habibie bahkan mempercayakannya sebagai anggota independen pengusut tindak kekerasan di Aceh. Segudang aktifitas lainya juga dilakukan Safwan. 

Dia telah mengukir sejarah Aceh semasa hidupnya. Namun ketika Aceh dibalut konflik, Yang Maha Kuasa memanggilnya.

Kepergian Safwan Idris hingga kini masih menjadi topik pembahasan. Apalagi ketika tanggal berpulangnya kembali hadir. Upaya untuk mengungkap siapa pelaku penembakan sehingga rektor ketujuh UIN Ar-Raniry ini meninggalkan alam fana, kembali digaungkan.

Namun walau uji balistik sudah dilakukan, sketsa wajah pelaku juga sudah disebarkan, olah TKP sudah menjadi dokumen, akan tetapi misteri itu tetap belum terungkap. 

Kepergian Safwan Idris masih menyimpan pertanyaan. Pusara tokoh intelektual Aceh ini menjadi saksi bersama ribuan pusara lainya, konflik itu bagai air bah, dia akan menyapu apa yang dilaluinya. (Bahtiar Gayo)


Editor :
Redaksi

Berita Terkait
    Komentar Anda