DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Pengetahuan lokal masyarakat Aceh tentang pertanian, lingkungan, dan ketahanan pangan dinilai penting untuk terus diwariskan kepada generasi muda. Salah satunya melalui pemahaman terhadap Meugo Adat, Keujruen Blang, Kenduri Blang, dan Keuneunong.
Hal ini dijelaskan oleh Hasbi, tokoh masyarakat dan adat Gampong Ulee Tuy, Mukim Daroy Jeumpet, Kecamatan Darul Imarah, Aceh Besar, dalam kegiatan “Penguatan Kearifan Lokal Meugo Adat dan Peran Keujruen Blang dalam Menghadapi Bencana Ekologis serta Menjaga Ketahanan Pangan.
Hasbi yang merupakan mantan Keuchik Gampong Ulee Tuy dan pernah menjabat Ketua Majelis Adat Aceh (MAA) Kecamatan Darul Imarah, membagikan pengalaman dan pengetahuan yang diwarisinya mengenai tata kelola pertanian masyarakat Aceh.
Menurutnya, Kenduri Blang tidak sekadar tradisi masyarakat sebelum memulai kegiatan pertanian, tetapi juga menjadi bentuk rasa syukur sekaligus ikhtiar spiritual agar kegiatan bertani berjalan lancar, aman, dan memperoleh keberkahan.
Sementara itu, Keujruen Blang memiliki peran penting dalam mengatur kehidupan pertanian, termasuk menjaga hubungan antarpemilik sawah dan petani agar kegiatan pertanian dapat berjalan secara tertib.
Hasbi juga mengingatkan generasi muda mengenai eratnya hubungan antara hutan, air, dan keberlangsungan pertanian.
“Hutan adalah sumber air bagi sawah. Kalau hutan kita rusak, air akan terganggu. Kalau air terganggu, pertanian juga akan terganggu. Jadi menjaga hutan berarti menjaga sawah dan menjaga ketahanan pangan masyarakat,” ujarnya kepada media dialeksis.com, Minggu (6/9/2026).
Selain Meugo Adat, Hasbi menjelaskan Keuneunong sebagai salah satu pengetahuan lokal masyarakat Aceh dalam membaca kecenderungan musim dan menentukan persiapan dalam kegiatan pertanian.
Dalam pengetahuan yang ia pahami dan gunakan, perhitungan Keuneunong menggunakan kalender Masehi dengan rumus yang dikenal sebagai Pangkal 25.
Ia memberikan contoh perhitungan untuk bulan September. September merupakan bulan ke-9. Angka tersebut dikalikan dua sehingga menghasilkan 18. Kemudian angka 18 dikurangkan dari angka pangkal 25 sehingga menghasilkan angka 7. 9 – 2 = 18 dan 25 - 18 = 7.
Dengan perhitungan tersebut, September berada pada Keunong 7. Menurut Hasbi, dalam pengetahuan yang diwariskan kepadanya, Keuneunong 7 biasanya berkaitan dengan kondisi musim yang cenderung kering atau kemarau.
Ia menilai pengetahuan tersebut memiliki kesesuaian dengan kondisi yang sedang berlangsung saat ini.
Namun, Hasbi menegaskan bahwa Keuneunong bukanlah kepastian mutlak, melainkan prediksi berdasarkan pengetahuan lokal yang dapat digunakan masyarakat sebagai salah satu bahan pertimbangan.
“Memang Keuneunong itu prediksi. Kita tidak mengatakan bahwa hasilnya pasti seratus persen terjadi. Tetapi dari prediksi itu kita bisa melakukan persiapan. Jadi, ini adalah salah satu bentuk kita dalam melakukan mitigasi,” katanya.
Hasbi berpandangan, masa depan pertanian Aceh tidak harus memilih antara adat dan teknologi. Menurutnya, keduanya dapat berjalan bersama selama adat tetap dijadikan sebagai nilai dan pedoman dalam menjaga hubungan manusia dengan alam.
“Pertanian kita jangan meninggalkan adat, tetapi juga jangan menutup diri dari teknologi. Adat tetap menjadi pegangan, lingkungan harus kita jaga, dan teknologi kita manfaatkan untuk membantu petani. Ketiganya harus berjalan bersama,” ujarnya.
Ia juga menjelaskan sejumlah pantangan dalam Meugo Adat, salah satunya larangan melepas ternak secara bebas ketika petani telah mulai turun ke sawah.
Menurutnya, larangan tersebut bukan sekadar aturan adat, tetapi mengandung nilai sosial dan etika. Masyarakat diajarkan untuk menghormati hasil kerja petani dan tidak melakukan sesuatu yang dapat merugikan petani lainnya.
Direktur Nanggroe Institute, Muhammad Zikri, S.IP., M.Kom., menilai Keuneunong masih memiliki relevansi sebagai pengetahuan lokal dalam membaca kecenderungan musim tanam dan dapat menjadi salah satu bentuk mitigasi yang bersumber dari pengalaman masyarakat.
Karena itu, Hasbi bersama Muhammad Zikri dalam waktu dekat berencana mendokumentasikan pengetahuan mengenai Keuneunong dan Meugo Adat dalam sebuah buku.
Dokumentasi tersebut nantinya akan memuat berbagai pengetahuan tentang Kenduri Blang, pantangan dalam Meugo Adat, peran Keujruen Blang, pengetahuan membaca musim, serta hubungan antara hutan, air, pertanian, dan ketahanan pangan.
Hasbi mengatakan dokumentasi penting dilakukan agar pengetahuan yang selama ini diwariskan secara lisan tidak hilang seiring perubahan zaman.
“Kalau hanya disampaikan dari mulut ke mulut, suatu saat bisa hilang. Karena itu harus kita tulis dan dokumentasikan. Anak-anak muda harus tahu bahwa orang Aceh punya pengetahuan sendiri dalam membaca musim, mengatur pertanian, menjaga alam, dan menjaga ketahanan pangan,” pungkasnya. [nh]

