Dialeksis - Akurat, Tajam, dan Strategis
Beranda / Gaya Hidup / Seni - Budaya / Mesjid Tuha Lhokseumawe Menyimpan Berbagai Peradaban

Mesjid Tuha Lhokseumawe Menyimpan Berbagai Peradaban

Jum`at, 28 Desember 2018 16:32 WIB


DIALEKSIS.COM | Lhokseumawe - Bagi sebagian masyarakat Kota Lhokseumawe tidak asing lagi dengan sebutan Masjid Tuha (tua), masjid yang terletak di Desa Meunasah Mesjid Kecamatan Muara Dua, Kota Lhokseumawe merupakan masjid yang paling tua di kota itu dan menyimpan berbagai peradaban.

Namun sayang, kini masjid tersebut sudah mulai tidak digunakan lagi dan bahkan bangunannya pun mulai roboh. Hanya saja beberapa material yang terbuat dari batu yang masih tersisa.

Masjid Tuha itu memiliki ukuran sekitar 15x15 meter persegi, dengan dua tingkat yang mempunyai tinggi sekitar dua meter. Dari sisa bangunannya maka terlihat memiliki satu pintu kecil dan sangat mirip seperti benteng pertahanan pada masa penjajahan.

Sedangkan material bangunan yang masih tersisa, terlihat susunan batu karang yang tersusun rapi dan salanjutnya dibalut dengan semen, sepertinya pernah dilakukan renovasi, serta  di dalamnya terdapat mimbar yang hanya bekasnya saja.

Peneliti Sejarah Aceh, Husaini Usman menyebutkan, apabila secara geografis maka letak masjid itu berada di perairan Krueng (sungai) Cunda yang membentang dari Kuala Meuraksa, hingga ke Kuala Mamplam Ujong Blang, dulunya disekitar areal masjid tersebut dijadikan sebagai pelabuhan untuk barter barang.

Masjid Tuha itu sudah mulai berdiri sejak abad ke 17 dan dibangun di dalam area komplek keraton Maharaja Kutablang. Maharaja tersebut merupakan keturanan sultan dan kini jejak bangunan keraton itu sudah hancur akibat tergerus dimakan zaman.

Pada masa abad ke 17 lalu, masyarakat yang berada di areal Masjid tersebut sudah memiliki peradaban yang tinggi, karena banyak sekali ditemukan makam nisannya berukir, ditemukan tembikar dan berbagai benda lainnya.

“Masjid ini sangat banyak menyimpan peradaban, namun sayang jejak sejarah ini tidak dilestarikan dengan baik dan sekarang menjadi rusak. Pada abad ke 17 lalu, di daerah itu sudah tergolong maju,” ujar Husaini Usman.

Sejarah merupakan peristiwa yang tidak bisa diulang, begitu juga dengan situs-situs sejarah tidak ada yang bisa membuatnya seenak hati. Maka siapa pun harus menjaga dan melestarikan setiap situs sejarah. (agm)


Editor :
Indri

Komentar Anda