DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) meminta agar pelaksanaan Musyawarah Daerah (Musda) Demokrat Aceh berlangsung “kondusif” dan “konsolidatif”, serta menghindari kegaduhan internal yang dapat memecah kekuatan partai.
Pesan tersebut disampaikan melalui Wakil Ketua Umum Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas) saat membuka pertemuan dengan pengurus dan kader Demokrat Aceh, Selasa (10/2/2026).
Dalam arahannya, Ibas menekankan pentingnya etika organisasi dan soliditas kader.
“Kalau ada rencana musyawarah, lakukan dengan konsolidatif. Tidak perlu ada keributan di sana-sini. Saling menghormati, saling merangkul, karena semuanya untuk kebesaran Partai Demokrat,” ujar Ibas menyampaikan pesan Ketua Umum AHY.
Ia menambahkan bahwa keberhasilan partai tidak bisa diraih secara individual. “Kesuksesan partai tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri, tetapi harus bersama-sama dan solid.”
Kutipan pesan tersebut juga dimuat sejumlah media dengan redaksi serupa, menunjukkan konsistensi narasi dan garis komunikasi yang dibangun dari pusat hingga daerah.
Menanggapi hal itu dari perspektif komunikasi politik, Prof. Dr. phil. Saiful Akmal, M.A., Guru Besar UIN Ar-Raniry Banda Aceh, menilai pilihan diksi “kondusif - konsolidatif - jangan pecah” bukan sekadar imbauan normatif, melainkan strategi komunikasi kepemimpinan yang sarat pesan penguatan melalui pesan komunikasi organisasi yang kuat.
Menurut Prof Saiful, rangkaian kata tersebut mencerminkan dua hal. Pertama, ketegasan seorang pemimpin organisasi dalam menjaga stabilitas proses, menjaga legitimasi kepemimpinan, serta memastikan Musda berjalan dengan kredibilitas yang terjaga. Kedua, imbauan untuk semua anggota agar bisa mengedepankan musyawarah sebagai salah satu media komunikasi yang paling egaliter dalam berorganisasi
“Pernyataan AHY adalah ketegasan pemimpin untuk memastikan stabilitas dan kesuksesan Musda; sekaligus menunjukkan kepedulian serius atas jalannya Musda Demokrat Aceh,” ujarnya kepada Dialeksis, saat dihubungi Rabu (11/2/2026).
Ia juga membaca frasa “saling merangkul” sebagai upaya memperluas ruang rekonsiliasi di tengah dinamika kompetisi internal. Sementara kalimat “tidak perlu keributan” menegaskan disiplin komunikasi politik di tubuh partai: perbedaan pandangan adalah hal wajar, namun tata kelola kompetisi harus tetap dalam koridor etika organisasi.
Lebih jauh, Prof Saiful menekankan bahwa Musda bukan sekadar arena kontestasi kepemimpinan, tetapi momentum konsolidasi struktural dan emosional kader. Dalam konteks ini, komunikasi yang terkelola dengan baik akan menentukan apakah kompetisi berujung pada penguatan atau justru residu konflik.
Ia merekomendasikan agar pengurus daerah menyiapkan strategi komunikasi organisasi dan komunikasi politik publik Musda secara sistematis, antara lain melalui kanal resmi untuk klarifikasi isu publik yang berkembang dan tidak tepat dan saluran komunikasi internal yang memastikan komitmen seluruh kandidat untuk menghormati proses dan keputusan forum, serta penguatan pesan bahwa kontestasi adalah mekanisme organisasi, bukan dikotomi antar kubu yang berseteru.
“Kompetisi yang sehat justru bisa menjadi energi pembaruan. Namun tanpa manajemen komunikasi yang matang, ia berpotensi berubah menjadi potensi laten fragmentasi internal” jelasnya.
Dengan demikian, pesan singkat AHY yang disampaikan Ibas tidak hanya berbicara tentang ketertiban acara, tetapi juga tentang bagaimana sebuah partai menjaga marwah, kedewasaan politik, dan soliditas menjelang momentum penting di daerah. [arn]