Logo Dialeksis - Masker
Beranda / Berita / Pojok Iqbal / Pola “Ad Infinitum” Para Aktivis Mahasiswa

Pola “Ad Infinitum” Para Aktivis Mahasiswa

Minggu, 12 Juli 2020 23:23 WIB

Font: Ukuran: - +


Gambar: AFP/ Kemal Jufri


Sejarah panjang kegiatan aktivisme telah menjadi subjek penelitian para akademisi ilmu sosial sejak lama, mencoba memahami proses perubahan yang ada pada sikap, pola dan tujuan gerakan. Hingga banyak juga pembahasan tematik tentang, "pasca aktivis, lalu apa?" Siklus perjalanan "pejuang dari rasa ketidakadilan" ini juga diminati ceritanya oleh masyarakat Indonesia secara umumnya.

Salah satu mantan aktivis paling tersohor dunia, mungkin karena ia menuliskan memoar jujur terhadap perjalanan karir "ke-aktivis-an" yang dijalani, Jerry Clyde Rubin (1938-1994) seorang aktivis sosial Amerika, pemimpin gerakan anti-perang, dan ikon counterculture (anti kemapanan) selama 1960-an dan 1970-an.

Ia penulis buku DO IT!: Scenarios of the Revolution (1970), yang terkenal sebagai "kitab suci" aktivis muda pada saat itu. Rubin juga salah seorang pendiri The Youth International Party, yang biasa dikenal dengan Yippies, komunitas lintas negara bermazhab anti perang, pejuang kebebasan berpendapat dan anti-otoritarianisme. Sebuah paham paling nge-trend bagi kalangan generasi baby-boomer pada era Perang Vietnam.

Rubin pernah mengeluhkan sesuatu mengenai ketenaran, menjadikan image seseorang beku dalam satu bingkai. Tidak ada yang bisa dilakukan untuk mengubah sifat hal tersebut. Seorang yang terkenal”terutama dari kalangan aktivis, harus mau mengorbankan kehidupan pribadinya dengan tetap mempertahankan gambaran citra dirinya menurut persepsi publik.

Pada umur empat puluhan, Rubin telah menjadi pengusaha kaya, namun dicerca oleh penggemarnya karena aktivitas politik pragmatis dan opportunis. Realitasnya para aktivis terperangkap dengan kutukan image mereka sendiri, membatasi kemungkinan niatan gerak langkah yang salah dikemudian hari. Dengan kata lain, masyarakat ingin menginginkan jika hari ini menjadi aktivis, maka puluhan tahun selanjutnya tetap aktivis!

Generasi Aktivis Indonesia

Indonesia pasca kemerdekaan mempunyai setidaknya tiga generasi aktivis yang dikenang oleh masyarakat. Misalnya, angkatan ’66 yang berperan besar dalam mempercepat suksesi kekuasaan dari Orde Lama ke Orde Baru. Tokohnya seperti Cosmas Batubara, Sofyan Wanandi, Yusuf Wanandi, Akbar Tanjung dan lainnya. Kebanyakan dari mereka kemudian masuk kedalam rezim pemerintahan. Sebagian kecil dari mereka tetap konsisten berada pada jalur idealisme, yang paling terkenal seperti Soe Hok Gie.

Masa Orde Baru sebenarnya tidak ada tahun khusus yang dapat disebut sebagai penanda waktu spesisik. Tapi periode tersebut disibukkan dengan gerakan mahasiswa yang muncul teratur sepanjang dekade ‘70-an. Isu muncul seperti gerakan Golput (golongan putih), kalangan aktivis yang kecewa terhadap demoralisasi prilaku kekuasaan. Gerakan dengan inisiator seperti Arif Budiman, Adnan Buyung Nasution, Asmara Nababan dan kawan-kawan. Arif Budiman juga salah satu yang tetap aktif di dunia aktivisme pasca angkatan ’66, bahu-membahu dengan Soe Hok Gie yang merupakan adik kandungnya.

Event besar lain para aktivis generasi ini ialah Peristiwa Malari (Malapetaka Lima Belas Januari) pada 1974. Protes mahasiswa yang dimotori Hariman Siregar dan kawan-kawan mengkritik kebijakan investasi asing dalam pembangunan nasional. Para tokoh aktivis generasi dekade ’70-an tidak terlalu banyak melebur dalam kekuasaan, sebagian bertahan dan konsisten dengan idealismenya.

Setelahnya ada generasi Aktivis ’98 yang menuntut berakhirnya kepemimpinan otoriter penuh skandal korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) yang dijalankan Presiden Soeharto selama 32 tahun. Dalam pergerakan masa ini, banyak tindakan represif terhadap mahasiswa dari pihak militer sebagai penjaga kekuasaan rezim. Nama-nama beken yang terlibat pada saat itu, seperti Budiman Sujatmiko, Faisol Reza, Adian Napitupulu, Desmon Mahesa, Fahri Hamzah, Fadli Zon hingga Anas Urbaningrum. Masih banyak lagi aktivis ’98 dalam daftar yang kebanyakan diantara mereka saat ini menjadi elit politik baru, duduk di lembaga legislatif maupun menyatu dengan kekuatan eksekutif.

Tiga angkatan aktivis di Indonesia memberikan kita gambaran yang utuh bagaimana sikap, pola, dan tujuan pergerakan mereka. Tambahan lain yang bisa ikut serta kita ketahui, ialah letak dimana “posisi sikap dan keberpihakan” mereka berdiri setelah perjuangan.

Masa pasca aktivisme sekurang-kurangnya terbagi tiga: pertama, masuk kedalam sistem dan berhasil merubahnya menjadi lebih baik. Kedua, memilih diluar sistem dan tetap menjadi kritis. Ketiga, masuk ke dalam sistem dan berubah jatidirinya menjadi seperti apa yang ia kritisi dimasa menjadi aktivis.

Dua yang pertama, sedikit jumlahnya. Kategori yang paling banyak, ialah jenis yang terakhir. Parahnya, ketika para aktivis ini berada dalam kekuasaan, mereka bahkan sanggup bertindak lebih kasar menghadapi aktivis muda. Mungkin lantaran mereka pernah mengalaminya, sehingga mereka paham betul cara mematahkan ranting dan cabang yang akan menghalangi kecurangan yang akan dilakukan. Karena jika tidak punya motif jahat, mereka pasti akan sepakat oleh aktivitas penerus mereka.

Siklus Pasca Aktivisme

Kenyataan tersebut menyimpulkan sebuah hipotesis, bahwa pola yang dijalani aktivis ialah satu pola yang bersifat Ad Infinitum, dalam frasa Latin yang berarti "hingga tak terbatas" atau "selamanya". Dalam konteks, sering digunakan untuk menggambarkan proses yang tidak berhenti, proses berulang yang tidak berakhir. Siklus lazim yang terjadi pada aktivis, yakni; paham idealisme merasuki; menjadi aktivis; ditindas kekuasaan; terkenal dan menjadi ikon; masuk politik dan berkuasa; mengadaikan idealisme dan menyelewengkan kekuasaan; membungkam dan menindas aktivis pengkritik. Begitulah berulang-ulang, dalam proses yang sama, persis sesuai pengertian pola Ad Infinintum.

Hasil obvervasi sejauh ini menunjukkan bahwa sebagian besar "sifat idealisme" hanya berlaku pada saat "muda" dan "mahasiswa." Selepas itu, ketika memasuki umur dewasa, sikap realistis dan opportunis memupus habis konsep idealisme yang pernah bersarang di kepala. Mengingatkan kita pada slogannya Jerry Rubin yang paling terkenal yakni, "Jangan pernah percaya kepada siapapun yang berumur diatas 30 tahun.” Jadi, penggolongan kata "aktivis" bukan sebagai kata sifat, yang mendeskripsikan kualitas permanen. Melainkan kata kerja, menjadi predikat bagi siapa saja yang melakukan tindakan.

Terlalu jauh untuk berbicara benar dan salah untuk menilai proses transformasi para aktivis. Predikat ini berlangsung alamiah, secara estafet kepada siapa yang menyambutnya. Dan mati muda seperti yang dialami Soe Hok Gie, adalah kemewahan yang sepatutnya. Andai saja Gie masih hidup dan menjadi (katakanlah) Menteri di umur 40-an atau 50-an, siapa yang bakal tahu jika ia kena operasi tangkap tangan kasus suap pengadaan KTP (misalnya). Orang-orang akan mengingatnya sebagai pendusta yang munafik. Mahasiswa akan membakar buku "Catatan Sang Demostran" bikinannya, dan siapa mau memakai baju dengan sablon wajahnya. Publik akan melupakannya dengan cepat, atau mengingatnya sebagai koruptor.

Sungguh beruntung hidup Gie berakhir diumur 26 tahun. Ia pernah menulis “Bahagialah mereka yang mati muda" di buku catatan hariannya. Saat ini mahasiswa tetap mengingatnya sebagai ikon, pemikirannya dalam buku-buku yang ia tulis tetap jadi incaran mahasiswa millenial. Tidak seperti beberapa Aktivis '98 yang kini menghabiskan waktu di penjara, terbelit kasus rasuah. Tidak seperti Rubin yang berumur panjang, menulis dengan lirih sepenggal kalimat dalam autobiografinya yang kurang laku, buku Growing (Up) at 37, "Aku merasa telah mati pada umur tiga puluh empat."

Iqbal Ahmady M Daud  (Pengajar di Ilmu Politik FISIP UNSYIAH)



Editor :
Nasrul Rizal

Berita Terkait
    riset-JSI
    Komentar Anda