Logo Dialeksis
Beranda / Berita / Pojok Iqbal / E = mc² Teori Relativitas Pemilu

E = mc² Teori Relativitas Pemilu

Kamis, 27 Februari 2020 17:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Albert Einstein saat merayakan ulang tahun ke 72. (Foto: Arthur Sasse /AFP/Getty Images)


TAHUN 1905 Albert Einstein mempresentasikan karya ilmiah revolusioner temuannya, dan kemudian menjadi rumus ilmu eksakta paling terkenal sejagat raya. Yakni persamaan yang menjelaskan jika “E” adalah energi, “m” adalah massa, dan “c” adalah kecepatan cahaya dalam ruang hampa, populer dengan sebutan: E = mc². 

Teori itu tidak hanya sekedar viral, personal yang tanpa latar belakang ilmu fisika pun setidaknya pernah mendengar persamaan ini serta sadar akan pengaruhnya yang luar biasa kepada dunia. Namun, tulisan ini bukan artikel ilmiah ilmu eksakta. Saya ingin meminjam rumus ini untuk menganalisa fenomena politik yang terjadi dalam Pemilu Legislatif 2019.

Pemilu memiliki fungsi sebagai wadah ekspresi politik masyarakat. Selain itu juga untuk memilih perwakilan aspirasi, kepentingan dan legitimasi politik. Kontestan politik akan melakukan pelbagai cara demi mencapai kekuasaan, menuju legislatif maupun eksekutif. 

Para pencari kuasa tersebut melakukan segala jenis upaya mulai dari yang tradisional sampai dengan cara paling mutakhir. Hingga akhirnya sesuai perkembangan jaman, politik dan pemilu kini telah menggunakan pendekatan ilmiah berbasis akademis untuk membantu mereka dalam meraih kekuasaan. 

Banyak strategi telah dikonsepkan oleh para pakar dan praktisi politik pemenangan pemilu. Resep-resep politik ini kemudian akan coba dikomparasikan dengan kenyataan yang terjadi pada Pemilu Legislatif 2019. Konklusi dari semua proses pengkajian tersebut, menurut saya mengerucut pada satu kesimpulan. 

Kemenangan dalam pemilu dapat diraih dengan satu rumus, yakni: E = mc². Dalam penjelasannya, ada dua versi rumus E = mc² dan berlaku kondisional dalam kerja untuk meraih kemenangan. 

Mekanisme Teori Relativitas Pemilu

Teori relativitas pemilu versi pertama, “E” dimaksud untuk menjelaskan electability (tingkat keterpilihan), elektabilitas merupakan tujuan utama setiap peserta pemilu. Kemudian “m” adalah machine politic, mesin politik ini berfungsi vital bagi kerja electoral, biasanya terbagi dalam dua bagian yaitu mesin partai (kader) dan mesin non-partai (relawan). Berikutnya “c²” merupakan kombinasi dua aspek “c”, yakni candidate dan cost politic.

Candidate atau kandidat menjadi penting karena menjadi subjek utama dari proses pemilu. Kandidat yang memenuhi kualifikasi kepemimpinan dibutuhkan dalam urusan menyangkut hajat orang banyak. Setidaknya variabel penilaian kepada kandidat terletak pada curriculum vitae (riwayat hidup dan pengalaman), competence (kompetensi), capacity (kapasitas) character (karakter) dan commitment (komitmen). Lalu cost politic ialah ongkos yang dibutuhkan dalam melaksanakan beberapa agenda kerja politik, semisal: campaign (kebutuhan kampanye) dan crew (kebutuhan tim sukses).

Mekanisme proses kerja versi pertama, elektabilitas (“E”) akan diperoleh jika mesin politik (“m”) digerakkan—baik kader maupun relawan, dan ditambah dukungan finansial (“c kedua”) yang cukup untuk mengadakan prosesi kampanye yang memadai demi dapat memasarkan kandidat (“c pertama”) yang memiliki variabel sebagai figur pemimpin yang pantas (mempunyai pengalaman, kompetensi, kapasitas, karakter dan komitmen). 

Jika versi pertama ini terlaksana maka akan diperoleh keuntungan yang sesuai dengan semangat demokrasi, yaitu proses kepemiluan yang berjalan dengan baik dan benar, serta pemimpin terpilih yang telah melewati tahapan dengan kompetensi yang cukup bagus. 

Sedangkan dalam teori E = mc² versi kedua, kondisi ini terjadi dimana politik transaksional (politik berbayar/ politik uang), telah menjadi wabah perusak asas pemilu yang jujur dan adil. Menjadi faktor mengeliminir candidate (kandidat) sebagai bagian penting yang menjadi subjek dari pemilu itu sendiri. 

Jangan lupa esensi dari pemilu adalah memilih mereka yang terbaik untuk mengurusi kebutuhan dan kepentingan publik untuk lima tahun kedepan. Dalam rumus relativitas pemilu versi kedua, jauh lebih sederhana elemen penyusunnya. “E” tetap bermakna electability. Lalu “m” dalam versi ini adalah money (uang), perbedaan definisi jika cost politic untuk menjelaskan ongkos politik menjalankan rutinitas kegiatan, maka money bersifat maknawi yang berati persedian uang tunai. Secara cash atau kontan. 

Kemudian untuk definisi “c”, faktor candidate diganti dengan constituents (pemilik suara). Dalil penting dalam rumus versi kedua adalah “Jangan perhatikan kandidatnya, tapi fokus pada konstituennya.” Maka, keunggulan kandidat tidak lagi termasuk elemen penting dalam mendulang elektabilitas. Dan “c” satunya lagi untuk components and systems (komponen dan sistem dalam pemilu). 

Mekanisme berjalannya pun sangat praktis, pencapaian elektabilitas (“E”) ditentukan oleh seberapa kuatnya ia menyediakan uang tunai (“m”) sesuai dengan permintaan dari para konstituen (“c pertama”). Tentu jangan lupa sebagai pelengkap, agar kemenangan semakin pasti, komponen sistem pemilu (“c kedua”) yang dihuni oleh penyelenggara dan pengawas penyelenggara juga disiram dengan uang tunai. Simsalabim abracadabra, para penipulah yang menjadi penguasa.

Matinya Politik Gagasan

Maraknya money politic dalam proses pelaksanan Pemilu Legislatif 2019, menghancurkan kualitas demokrasi. Mau kita akui atau tidak, pusaran politik uang oleh para calon legislatif sangat dekat dengan kita. Lepas dari sikap munafik, jika tidak menjadi salah satu penerima “sedekah politik” itu, atau minimal tahu bahwa hal tersebut benar terjadi disekitar lingkungan kita. Satu hal yang harus kita ketahui bersama, politik uang itu membunuh politik gagasan.

Seperti terjelaskan dalam rumus relativitas versi kedua diawal tulisan, masuknya faktor money untuk membeli suara konstituen dan demi mengamankan penyelenggara pemilihan, akan menjadi racun bagi penyelenggaran pemerintahan. Dewan rakyat yang terpilih tidak lagi berlandaskan rekam jejak, pengalaman, kompetensi, kapasitas, karakter dan komitmen. 

Mereka yang terpilih dengan cara curang tidak merasa terikat dengan masyarakat pemilihnya, karena meras a telah membeli suara secara tunai. Lebih parah lagi jika modal mereka berasal dari uang panas narkoba dan hasil kejahatan lainnya. Tentu berdampak lebih buruk diluar perkiraan siapapun.

Maka, jangan terlalu banyak berharap banyak untuk pemenuhan semua janji-janji politik diawal kampanye. Jangan terlalu banyak menuntut hak sebagai warga negara, karena pemimpin yang berasal dari golongan ini merasa bahwa hak rakyat telah diborong murah di awal, sehingga tidak mempunyai kewajiban untuk mendengar dan memenuhi aspirasi rakyat lagi.

Teori relativitas pemilu dapat digunakan untuk membantu kandidat memperoleh kemenangan. Pilihan tergantung pada individu untuk memilih versi yang pertama, versi ideal dan baik bagi kehidupan demokrasi kita. Atau cenderung culas dengan memakai versi kedua, yang hanya tinggal fokus mencari uang sebagai modal dasar kekuasaan. 

Penafsiran terkait dengan elektabilitas lazim bersifat relatif, selaras dengan kehendak pemilik suara yang fluktuatif. Dan kita telah memilih pilihan kita, yang mana baik dan buruknya hasil juga akan kembali kepada kita semua. Karena apapun yang terjadi setelah pemilu, akan selalu berakhir spekulatif.

Editor :
Zulkarnaini

Berita Terkait
    DMPTSP
    riset-JSI
    Komentar Anda