Minggu, 17 Mei 2026
Beranda / Parlemen Kita / Bunda Salma Dinilai Figur Tepat Pimpin DPRA di Tengah Gejolak Politik Aceh

Bunda Salma Dinilai Figur Tepat Pimpin DPRA di Tengah Gejolak Politik Aceh

Jum`at, 10 April 2026 19:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Naufal Habibi

Anggota DPRA, Salmawati atau akrab disapa Bunda Salma. Foto istimewa.


DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Wacana pergantian pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) kembali menghangat dan menjadi perbincangan di berbagai ruang publik. 

Di tengah nama-nama yang beredar, muncul gagasan alternatif yang dinilai dapat menghadirkan warna baru dalam dinamika politik Aceh.

Aktivis Demokrasi Aceh, Sofyan, menilai sosok Salmawati atau yang akrab disapa Bunda Salma sebagai figur yang layak dipertimbangkan untuk memimpin DPRA. 

Gagasan ini, menurutnya, bahkan bisa menjadi langkah berani jika didorong oleh tokoh sentral Aceh, Muzakir Manaf atau Mualem.

“Ini bukan sekadar alternatif, tetapi peluang menghadirkan terobosan dalam kepemimpinan parlemen Aceh,” ujar Sofyan kepada media dialeksis.com, Jumat, 10 April 2026.

Ia menyebut, Bunda Salma berpotensi menjadi perempuan pertama yang memimpin DPRA. 

Lebih dari sekadar simbol, kehadiran perempuan di pucuk pimpinan legislatif diyakini dapat membawa perubahan dalam gaya kepemimpinan yang lebih inklusif dan berorientasi pada kerja nyata.

Di tengah situasi politik Aceh yang kerap diwarnai ketegangan, Sofyan menilai karakter Bunda Salma yang tenang dan akomodatif menjadi keunggulan tersendiri.

“Dalam konteks hari ini, kepemimpinan yang tidak gaduh justru menjadi kebutuhan. Bunda Salma dikenal bekerja tanpa banyak retorika, tetapi fokus pada tindakan,” katanya.

Menurut Sofyan, rekam jejak Bunda Salma di tengah masyarakat juga menjadi nilai tambah. Dalam berbagai momentum sosial, termasuk saat penanganan bencana banjir, ia dinilai hadir dengan pendekatan sederhana namun konkret.

“Di saat kepercayaan publik terhadap politik cenderung menurun, figur yang dekat dengan masyarakat dan mengedepankan kerja lapangan menjadi sangat penting,” ujarnya.

Ia menegaskan, DPRA sebagai lembaga kolektif dan kolegial membutuhkan pemimpin yang tidak hanya kuat secara politik, tetapi juga mampu merangkul berbagai kepentingan. Pendekatan satu arah atau transaksional, kata dia, justru berpotensi memperlebar jarak antar fraksi.

Dalam hal ini, Bunda Salma dinilai memiliki kemampuan untuk menjadi jembatan, baik antar fraksi di parlemen maupun antara lembaga legislatif dengan masyarakat.

“Ia tidak membawa beban konflik besar, tetapi memiliki kedekatan sosial yang kuat. Ini menjadi modal penting untuk menjaga stabilitas dan menciptakan suasana kerja yang kondusif di DPRA,” kata Sofyan.

Meski demikian, ia mengakui bahwa mendorong perubahan dalam politik Aceh bukan perkara mudah. Kompleksitas kepentingan dan dinamika yang ada menjadi tantangan tersendiri.

Namun demikian, Sofyan menilai setiap perubahan selalu dimulai dari keberanian untuk menghadirkan figur yang berbeda.

“Aceh membutuhkan energi baru dalam kepemimpinan parlemen. Dan di tengah berbagai kemungkinan, nama Bunda Salma hadir sebagai simbol harapan bahwa politik Aceh bisa lebih sejuk, inklusif, dan berorientasi pada kerja nyata,” pungkasnya.

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI