Beranda / Opini / Ranking Unsyiah Jadi Momen Evaluasi

Ranking Unsyiah Jadi Momen Evaluasi

Minggu, 28 Januari 2018 11:49 WIB

Font: Ukuran: - +

Penulis :
Oleh: Akhyar, ST, MP, MEng


UNSYIAH (Univeritas Syiah Kuala) baru-baru ini masuk dalam salah satu dari lima perguruan tinggi terbaik di Indonesia ( www.dialeksis.com 24/01/2018). Ranking menjadi acuan sekaligus evaluasi suatu institusi; apakah terus berkembang atau mengalami kemunduran.

Peringkat Unsyiah itu diketahui setelah situs webometrics.info memuat hasil survei yang dilakukan satu kelompok riset milik Consejo Superior de Investigaciones Científicas (CSIC), badan penelitian publik terbesar di Spanyol. Mereka melakukan pemeringkatan terhadap lebih dari 21.000 perguruan tinggi seluruh dunia.

Seperti diliris media, pemerangkingan yang dilakukan Webometric didasarkan pada empat indicator, di antaranya presence (kehadiran), impact (pengaruh), openness (keterbukaan) dan excellence (kesempurnaan). Civitas akademika Unsyiah, tentu sangat bangga. Pencapaian ini juga patut diaparesiasi sebagai bagian dari hasil kerja keras dari seluruh pihak.

Sebenarnya masih banyak lembaga yang melakukan riset pemerangkingan terhadap perguruan tinggi (universitas, institur, akademi dana lainnya) yang dapat dijajdikan acuan. Seperti peringjat nasional yang dikeluarkan Ristekdikti (Kementrian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi), peringkat jumlah publikasi internasional indexed Scopus, Peringkat Internasional Simago, dan Sinta. Mereka menggunakan pemeringkatan sesuai dengan indicator dan metodologi masing-masing lembaga riset tersebut.

Khusus untuk Unsyiah, Ristekdikti menempatkan perguruan tinggi jantung hati rakyat Aceh itu justru pada posisi 27 secara nasional. Peringkat ini naik drastis mengingat tahun 2015 Unsyiah berada para peringkat ke-61, dan tahun 2016 di urutan ke-32. Indikator yang digunakan Ristekdikti adalah antara lain meliputi kuwalitas tenaga pengajar atau dosen (12 persen), baik aspek strata pendidikan dengan menghitung jumlah dosen yang berstrata doktor, lektor kepala dan guru besar. Begitu juga kecukupan dosen tetap yang hanya 18 persen.

Indikator lain adalah akreditasi sebesar 30 persen, baik institusi maupun jumlah program studi terakreditasi A maupun B. Kuwalitas atau prestasi kegiatan kemahasiswaan hanya 10 persen, dan terakhir indicator kegiatan penelitian yang hana 30 persen dengan menghitung capaian kinerja penelitian sesuai kreteria yang ditentukan serta jumlah dokumen yang terindeks Scopus.

Sementara, Scopus, pada tahun 2018 yang memerangkin Unsyiah dari aspek jumlah dokumen publikasi internasional (jurnal maupun prosiding) pada peringkat ke-17 dari seluruh perguruan tinggi di Indonesia. Peringkat itu menurun dari sebelumnta yang berada pada urutan 16 secara nasional, dan urutan nomor tiga dari Universitas yang ada di Sumatra, yaitu Unand (Univeritas Andalas) di urutan ke-14 dan USU (Universitas Sumatra Utara) ke-16. USU beberapa tahun sebelumnya masih di bawah posisi Unsyiah.

Unsyiah sedikit bergembira kaetika Institut Rankings Scimago memerangkingan Unsyiah pada urutan 6 (enam) di Indonesia dan 667 tingkat internasional. Unsyiah berada di bawah ITB Bandung), University of Indonesia (UI-Jakarta), Gadjah Mada University (UGM-Yogyakarta), Bogor Agricultural University (IPB-Bogor), dan Udayana University (Bali). Indikator yang digunakan Scimago dibagi tiga kelompok besar yaitu peneltian (research), inovasi (innovation), dan sosial (societal).

Lembaga Sinta (Science and Technology Index) menempatkan Unsyiah pada urutan-15 di Indonesia. Sinta membuat tolok ukur dan analisis, identifikasi kekuatan penelitian masing-masing institusi untuk mengembangkan kemitraan kolaboratif, menganalisa kecenderungan penelitian dan direktori kepakaran. Pemberian skor Sinta berdasarkan jumlah dokumen di Scopus (jurnal, prosiding (conference paper), buku (book) dan (book chapter) serta jumlah sitasi (citation).

Terlepas dari posisi atau ranking yang dicapai Unsyiah, bahwa pemerankingan menjadi acuan dan bahan untuk mengevaluasi diri. Ssejauhmana Universitas Syiah Kuala melakukan perbaikan dan pembenahan kualitas pendidikan yang dilaksanakan. Hal ini harus telah dilakukan secara terus menerus.

Perbaikan fasilitas, mutu pengajaran, akreditasi program studi (prodi), jurusan, dan fakultas yang berada di bawah perguruan tinggi Unsyiah. Misal, bila selama ini masih ada prodi berakreditasi C dapat meningkatkan kualitasnya menjadi akreditasi A. Begitu juga aktivitas penelitian dosen dan mahasiswa, pemberian insentif publikasi baik Nasional maupun Internasional termasuk jasa insentif jurnal, prosiding, paten, buku dan chapter book. Di samping itu fasilitas seperti perpustakaan dan laboratorium dilingkungan Unsyiah saat ini semakin membaik. Semoga!

* Penulis adalah Dosen Teknik Mesin Fakultas Teknik Univesitas Syiah Kuala.

Email: akhyar@unsyiah.ac.id 

Keyword:


Editor :
Ampuh Devayan

Berita Terkait
    riset-JSI
    Komentar Anda