Logo Dialeksis
Beranda / Opini / Meninjau Ulang Pribumisasi Islam ala Gus Dur

Meninjau Ulang Pribumisasi Islam ala Gus Dur

Rabu, 04 September 2019 19:44 WIB

Font: Ukuran: - +

Jabal Ali Husin Sab

Oleh Jabal Ali Husin Sab

DIALEKSIS.COM - Saya melihat ada perbedaan dasar pemahaman tentang apa yang dipahami Gus Dur soal pribumisasi Islam dengan pendukung gagasan ini. 

Gus Dur memasukkan pemahamannya tentang fiqih dan kaidah ushul fiqh dimana adat kebiasaan suatu masyarakat ('urf) punya tempat tersendiri untuk bisa diadopsi dalam dan berjalan seiringan dengan syariat (berdasarkan wawancara dengan Gus Dur yang dimuat di situs nu.or.id). 

Posisi Gus Dur dalam mendudukkan agama yang melebur dalam budaya punya basis dalam tradisi fiqih dan ushul fiqih. Sementara pandangan kebudayaan hari ini yang mewarisi ide pribumisasi Islam oleh Gus Dur cenderung abai akan hal ini.

Pada akhirnya pribumisasi Islam lebih cenderung mengunggulkan budaya ketimbang Islam.

Pada praktiknya hari ini kita lihat ada upaya penolakan ajaran Islam yang dianggap bagian dari warisan budaya Arab. Dengan kata lain, munculnya pertentangan antara budaya Arab vis a vis budaya lokal. 

Contohnya adalah masalah jilbab. Jilbab sebagai media untuk menutup aurat yang jadi kewajiban syariat, dianggap bukan bagian dari ajaran Islam. Melainkan budaya Arab.

Dalam tataran ideal, wacana pribumisasi Islam milik Gus Dur punya fondasi berbasis ajaran Islam yang mengandaikan perpaduan paripurna antara ajaran agama dan eksistensi dan ekspresi kebudayaan.

Namun pada praktiknya, beberapa dekade setelahnya, yang terjadi adalah justru mengarah pada pertentangan agama dan budaya. Juga tak lepas dari lahirnya sikap fanatisme buta terhadap kebudayaan.

Saya menghargai upaya Gus Dur dalam mengapresiasi kebudayaan sekaligus menjaga eksistensi khazanahnya. 

Namun bisa jadi Gusdur tidak menitikberatkan pandangannya pada proses dialektika budaya lokal kita dengan Islam dalam rentang waktu sejarah yang panjang. Dimana agama telah merumuskan ulang falsafah dalam kebudayaan agar bersesuaian dengan Islam.

Budaya yang memang dinamis, telah melalui proses penyesuaian dengan agama sebagai ruh yang memberikan makna baru bagi kebudayaan. Proses ini dilakukan oleh mubaligh Islam dalam rentang waktu yang lama.

Budaya telah direkayasa sedemikian mungkin hingga menjadi wajah manifestasi bagi ruh ajaran agama. Proses inilah yang oleh Sayyid Muhammad Naquib al Attas disebut Islamisasi, khususnya yang terjadi di Nusantara. Hingga akhirnya budaya kita menjadi kompatibel bahkan menyatu dengan Islam.

Proses Islamisasi inilah yang menjadi basis historis bagi pribumisasi Islam. Sinergitas agama dan budaya tersebut melahirkan falsafah kebudayaan lokal yang bisa kita tilik dalam semboyan: "adat basandikan syarak, syarak basandikan kitabullah," (adat bersendikan syariat, syariat bersendikan kitab Allah) di Minangkabau, atau "hukom ngon adat lagee zat ngon sifeut" (hukum dan adat seperti zat dengan sifat) di Aceh.

Apa yang Terjadi di Persia

Di bawah pasukan yang dipimpin oleh sahabat Nabi, Sa’ad bin Abi Waqqash, Persia berhasil ditaklukkan oleh pasukan muslim. Penaklukkan ini telah membuat Persia sebagai sebuah imperium adidaya yang menguasai dunia lama selama ribuan tahun, kandas sudah.

Cerita tentang perseteruan Persia sebagai bagian dari dunia Timur dengan Yunani dan Roma mewakili belahan dunia lama, menjadi akhir sejarah bagi Persia.

Namun penaklukan Islam di era Khalifah Umar Al-Faruq ini bukannya memusnahkan Persia sebagai sebuah bangsa dan kebudayaan. Malah sebagai bagian wilayah Islam, Persia mendapatkan hembusan sebuah semangat baru.

Kebudayaan Persia hidup kembali. Ajaran Islam diserap dan menjadi worldview baru bagi kebudayaan Persia. Sementara Islam sebagai sebuah peradaban yang kini mewakili dari bangsa yang beragam, mendapatkan khazanah baru melalui persinggungannya dengan kebudayaan Persia.

Dalam tradisi keilmuan Islam, lahir para ulama-ulama yang berpengaruh dari bangsa Persia. Diantaranya tokoh-tokoh dalam ilmu hadits semisal Imam Bukhari dan Imam Tirmidzi.

Kitab tasawuf yang termasuk kitab paling awal yang pernah ditulis, Kasyful Mahjub, juga ditulis oleh tokoh sufi Persia, Al Hujwiri. Ulama yang paling berpengaruh dalam tradisi keilmuan Islam, Imam Al Ghazali juga seorang Persia. Bahkan para filsuf muslim yang beliau kritik dalam Tahafut Al Falasifah yaitu Ibnu Sina, juga seorang Persia.

Baca juga: Pemimpin Informal dan Perubahan

Di samping itu, di Persia muncul tradisi kesusasteraan sufistik Islam yang khas Persia. Diantaranya diwakili oleh Fariduddin Attar melalui karya fiksinya Mantiq al-Thayr (Conferrence of Birds) dan puisi-puisi Jalaluddin Rumi yang berbahasa Parsi. Seni yang khas Islam juga turut berkembang di Persia melalui arsitektur maupun seni kaligrafi dan ornamen.

Sejarah awal persinggungan antara Islam dan kebudayaan-kebudayaan Ajam (non-Arab), baik di Persia maupun Nusantara, merupakan bukti nyata bahwa Islam dan kebudayaan tidak saling bertentangan.

Keduanya berada pada relasi saling melengkapi satu sama lain. Islam sebagai ruh dan esensi sementara kebudayaan sebagai manifestasi yang menampilkan corak yang khas kebudayaan tertentu.

Apa yang terjadi di Persia terulang kembali di belahan dunia Islam yang lain, termasuk di Nusantara.

Namun apabila kita jeli melihat duduk persoalan dimana agama dipertentangkan dengan kebudayaan, agaknya kita sadar bahwa ide Gus Dur mungkin memang dengan tulus menginginkan terciptanya hubungan harmonis antara agama dengan budaya.

Ia juga menginginkan khazanah budaya serta ekspresinya terjaga keberadaannya. Namun hal ini cenderung disalahpahami hari ini. Bahkan muncul kondisi yang mengatasnamakan kebudayaan, digunakan untuk menyerang ajaran agama. Sehingga seolah agama Islam adalah bagian asing dari kebudayaan kita.

Sebagaimana yang telah dijelaskan, proses penyatuan agama dan budaya di berbagai belahan dunia Islam telah lama terjadi. Upaya menceraikan antara agama dan budaya yang telah lama terjalin mesra di negeri kita tercinta ini setidaknya bisa kita jejak akarnya dari gagasan-gagasan yang mempengaruhi kebijakan pemerintah kolonial Belanda di Hindia (Indonesia dahulu).

Gagasan dan kebijakan kolonial memang telah berupaya mempertentangkan antara agama dan budaya yang telah lama menemukan kesepahamannya di dalam sejarah bangsa kita.()

*Penulis adakah esais, pegiat di Komunitas Kajian Islam dan Peradaban Menara Putih


Editor :
Makmur Emnur

riset-JSI
Komentar Anda