Minggu, 17 Mei 2026
Beranda / Opini / Ketika Khamenei Muda Menjelaskan Bung Karno di Penjara

Ketika Khamenei Muda Menjelaskan Bung Karno di Penjara

Kamis, 05 Maret 2026 21:15 WIB

Font: Ukuran: - +

Penulis :
Airlangga Pribadi

Airlangga Pribadi, Dosen Ilmu Politik FISIP Universitas Airlangga 


DIALEKSIS.COM | Opini - Kekaguman terhadap Sukarno, dengan penyebutan namanya secara penuh hormat, banyak saya temukan secara tidak langsung dalam berbagai literatur para pemimpin dunia. Nama Sukarno disebut oleh tokoh-tokoh besar seperti Nelson Mandela, Yasser Arafat, Jawaharlal Nehru, bahkan Che Guevara.

Ya, Che Guevara yang wajahnya menjadi ikon para aktivis kiri di seluruh dunia pernah menyebut Sukarno sebagai salah satu pemimpin dunia yang paling ia kagumi dalam buku biografi tentang dirinya.

Namun, bagi saya ada satu kisah yang terasa sangat luar biasa dan baru saya temukan ketika membaca memoar Rahbar Iran, Ali Khamenei, berjudul Cell No. 14. Memoar itu saya baca sesaat setelah kabar wafatnya Khamenei akibat serangan rudal yang brutal. Dalam buku tersebut, saya menemukan bagaimana Khamenei menyebut nama Sukarno sebagai figur pemersatu kekuatan anti-imperialisme dunia.

Dalam memoar itu diceritakan pengalaman Khamenei ketika dipenjara oleh rezim Mohammad Reza Pahlavi. Di dalam sel penjara, ia ditempatkan bersama seorang aktivis komunis yang baru saja diseret masuk oleh aparat pada hari itu.

Khamenei melihat bahwa kawan satu selnya itu tampak sangat lemah, seolah tidak diberi makan. Ia kemudian memberikan makanan dari jatah berbuka puasanya. Awalnya sang aktivis komunis hanya diam. Namun karena melihat kondisinya sangat lemas, Khamenei akhirnya menyuapkan makanan itu ke mulutnya.

Setelah beberapa suapan, lelaki itu mulai mendapatkan kembali tenaganya. Khamenei terus menemaninya. Pada malam hari, ketika Khamenei muda hendak melaksanakan salat, tiba-tiba kawannya berkata, “Saya seorang komunis dan tidak mempercayai agama apa pun.”

Khamenei memahami maksud ucapan itu. Dengan identitasnya sebagai aktivis Islam”ditandai dengan turban yang ia kenakan”mungkin kawannya mengira bahwa kebaikan yang ia tunjukkan adalah cara halus untuk mengajak dirinya memeluk Islam.

Khamenei pun menunda salatnya sejenak. Ia berkata kepada kawannya, “Bung, pasti kamu tahu tentang seorang pejuang anti-imperialisme bernama Sukarno.”

Ia kemudian menjelaskan bahwa Sukarno, melalui pikiran dan tindakannya, berusaha menyatukan kekuatan anti-imperialisme Asia dan Afrika melalui Konferensi Asia-Afrika 1955 di Bandung. Persatuan itu, kata Khamenei, bukan didasarkan pada kesamaan ras, suku, etnis, agama, atau ideologi, melainkan pada kesamaan kebutuhan dan aspirasi: merdeka dari penindasan.

“Kita sekarang disatukan oleh nasib,” ujar Khamenei kepada kawannya. “Tentang takdir ke depan, kita sama-sama belum mengetahuinya.”

Setelah percakapan itu, Khamenei melihat kawannya menjadi lebih tenang. Ia kemudian menyarankan lelaki komunis tersebut untuk beristirahat, sementara ia bersama beberapa tahanan lainnya melanjutkan salat malam.

Sukarno melalui gagasan dan teladannya telah mencairkan ketegangan di antara para tahanan yang berbeda keyakinan dan ideologi.

Kini, ketika Khamenei wafat, salah satu putri Sukarno, Presiden Kelima Republik Indonesia, Megawati Sukarnoputri, menyampaikan belasungkawa serta penghormatan setinggi-tingginya atas wafatnya Rahbar Iran tersebut.

Sukarno, Ali Khamenei, dan seorang aktivis kiri dalam satu sel penjara tiga sosok dari latar belakang berbeda dipersatukan oleh satu kehendak yang sama: kemerdekaan.

Penulis: Airlangga Pribadi, Dosen Ilmu Politik FISIP Universitas Airlangga

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI