Beranda / Opini / Kepemimpinan Bangsa Pribumi Berlandaskan Nilai Luhur Budaya Bangsa

Kepemimpinan Bangsa Pribumi Berlandaskan Nilai Luhur Budaya Bangsa

Selasa, 12 Desember 2023 20:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Penulis :
Dr Iswadi MPd

Dr. Iswadi, M.Pd., Dosen Universitas Esa Unggul. [Foto: for Dialeksis.com]


DIALEKSIS.COM | Opini - Kepemimpinan generasi milenial saat ini mengacu pada konsep kepemimpinan barat. Padahal, Indonesia merupakan negara yang memiliki beragam nilai-nilai luhur bangsa. Salah satu nilai luhur tersebut, yaitu konsep kepemimpinan Ki Hajar Dewantara dan jauh sebelum itu juga ketika imperium Majapahit yang berpusat di Jawa Timur berdaulat di seluruh Asia Tenggara dan memegang hegemoni di lautan yang luasnya antara Samudera Hindia dengan laut Arafura di utara Australia (1293-1527), kaum kapitalis bangsa Eropa masih sibuk mencari di mana gerangan letaknya India dan perintis mereka Christopher Columbus baru menemukan Amerika yang mereka kira India pada tanggal 14 Agustus 1498. Karenanya penduduk di sana kemudian mereka perkenalkan ke dunia internasional sebagai orang-orang Indian.

Rombongan lain yang juga perintis kaum kapitalis Eropa yang masuk ke Nusantara kita berturut-turut antara lain bangsa Portugis pimpinan Alfonso de Albuquerque pada tahun 1511, rombongan bangsa Spanyol ke Tidore pada tahun 1521 dan bangsa Belanda pimpinan Cornelis de Houtman ke Banten pada tanggal 27 Juni 1596. 

Sejak kedatangan para perintis tersebut yang dilengkapi dengan pasukan bersenjata api untuk mencari kekayaan (Gold), ketenaran nama (Glory) dan penebaran agama Kristen (Gospel) kemudian bergabung dengan para pengkhianat bangsa kita, menerapkan strategi Devide et Empera (adu domba) antara umat beragama Hindu-Budha dengan umat Islam yang agamanya mulai masuk ke Indonesia menurut penelitian ahli sejarah WF Stutterheim sejak abad ke 13.

Semakin gencarnya kedatangan kaum kapitalis bersenjata api dari Eropa tersebut dengan alasan semula untuk berdagang rempah-rempah dan hasil kolaborasinya tersebut, maka kerajaan Majapahit yang merupakan imperium terbesar di Asia Tenggara selama 234 tahun mulai goyah dan akhirnya runtuh sehingga sampai kini nyaris tak berbekas. Kapitalis Belanda yang didominasi oleh perusahaan swasta multinasional V.O.C (Vereenigde Oost-Indische Compagnie) atau kompeni bangsa Belanda dengan kekerasan merebut hegemoni perdagangan di seluruh Nusantara, namun setelah mengalami kebangkrutan pada tanggal 31 Desember 1799 berangsur-angsur secara politik dan kekuatan bersenjata akhirnya Pemerintah Belanda mengambil alih kekuasaan VOC dan menerapkan kolonialismenya di Indonesia.

Mereka menghapuskan adanya kasta-kasta di dalam masyarakat Hindu Indonesia sesuai dengan azas kesetaraan dalam liberalisme, namun ironisnya kasta yang rendah dan terendah yaitu Sudra dan Paria telah dikesankan sebagai masyarakat budak yang biadab di berbagai media internasional. Dengan agitasi dan propaganda demi mengangkat derajat sosial bangsa Indonesia menjadi beradab, pemerintahan Inggris dan Belanda secara bergantian telah mendapatkan pembenaran dunia untuk menerapkan kolonialisme di negara kita (1596-1942) yang mendadak berubah karena digantikan sebentar oleh Jepang (1942-1945) usai Perang Dunia ke 2.

Kolonialis Belanda pada tahun 1848 telah membagi masyarakat Indonesia atas bangsa Eropa dan bangsa pribumi, kemudian diskriminasi tersebut berkembang menjadi bangsa Eropa dan bangsa Timur Asing yaitu bangsa Arab, bangsa China, bangsa India yang datang berdagang ke Indonesia sejak tahun 1920 serta bangsa pribumi Hindia-Belanda yang dinamakannya dengan konotasi direndahkan sebagai bangsa Inlander. Bangsa Pribumi atau Inlander yang kini bernama Indonesia terdiri dari suku-suku bangsa asli mulai dari paling barat yaitu suku bangsa Aceh sampai dengan di paling timur suku bangsa Papua dan mulai dari paling utara suku bangsa Miangas Minahasa sampai dengan yang di paling selatan suku bangsa Rote di Nusa Tenggara Timur.

Suku-suku bangsa pribumi Indonesia tersebut mempunyai hak-hak yang sangat terbatas seperti halnya bangsa Indian di Amerika, bangsa Aborijin di Australia dan bangsa Maori di New Zealand. Bahkan di Indonesia suku-suku bangsa asli Indonesia amat sangat dihina, tercermin dari banyaknya terdapat di ruang publik papan-papan yang bertuliskan: Verboden voor honden en inlander, yang artinya "Dilarang untuk anjing dan pribumi." Di media dunia maupun lokal juga selalu terpampang berita dan foto-foto tentang bangsa Indonesia yang melarat dan terlihat bodoh, seperti yang terpampang pada koran majalah Bintang Hindia terbitan tahun 1905. Orang-orang asing itu ingin melenyapkan bangsa pribumi Indonesia dan menggantikannya dengan bangsa mereka sebagai penduduk yang dominan di Indonesia.

Hal tersebur terbukti oleh sejarah bahwa bangsa Amerika, Australia dan New Zealand yang kita kenal sekarang, sejatinya adalah orang-orang keturunan asing yang bermigrasi dari masa ke masa. Bangsa asing sebagai imigran datang ke Indonesia gelombang demi gelombang dengan perilaku sosial yang berbeda, misalnya bangsa Arab Hadramaut yang berasal dari Yaman yang datang pada abad ke 19 dan juga sesudahnya yaitu imigran Arab gelombang ke tiga.

Mereka tidak banyak yang mau berasimilasi dengan bangsa pribumi Indonesia, sehingga berbeda dengan gelombang migrasi bangsa Arab sebelumnya. Para pendatang gelombang pertama adalah pada abad ke 7, gelombang ke dua pada abad ke 14 dan gelombang ke tiga pada abad ke 18. Bangsa Arab pendatang gelombang ke tiga di abad ke 18 dan sesudahnya, tetap mempertahankan nama-nama marga asli bangsanya seperti nama marga Al-Gadri, Al-Aydrus, Al-Habsyi, Al-Attas, Al-Jufri, Shahab, Syihab, Assegaf, Baswedan dan lain-lain. Namun demikian pengaruh bangsa Arab di bidang kebudayaan cukup signifikan, karena dipermudah dengan kegiatan mereka menebarkan agama Islam, yang sejatinya sudah dianut oleh bangsa Indonesia sejak zaman Wali Songo di abad ke 14.

Kesultanan Arab di zaman kolonial Belanda dengan Sultan ke 7 (tujuh) yang berkuasa di kota Pontianak bernama Hamid Algadri II, diangkat oleh penjajah Belanda sebagai Ajudan Istimewa Ratu Belanda dengan pangkat Jenderal Mayor. Untuk politik adu dombanya pada tanggal 23 Oktober 1771 kolonialis Belanda selain mendukung berdirinya Kesultanan Arab di Pontianak, juga memberi kekuasaan yang semakin besar kepada "Republik Kecil" para Kapitalis bangsa Cina penambang emas di kabupaten Monterado Kalimantan-barat.

Pada tahun 1776 mereka bahkan semakin bebas untuk mengatur Pemerintahan, Keamanan dan Badan Peradilan serta benderanya sendiri. Kompeni atau kongsi Republik Tai Kong bangsa Cina di Indonesia tersebut sangat cepat maju di bidang ekonomi perdagangan dan menantang Belanda sejak 20 Januari 1823 sampai dengan kekalahannya setelah perang Monterado usai pada tahun 1855.

Belanda berhasil menghasut bangsa pribumi Indonesia sehingga membenci bangsa Cina, yang terbukti dari terjadinya beberapa kali bentrokan rasial dalam sejarah Indonesia. Bangsa Cina yang bermigrasi ke Indonesia sejak abad ke-5, pada abad ke-19 semakin banyak yang berasimilasi dengan bangsa pribumi dan merubah namanya atau menambah nama dengan alias ke nama asli Indonesia, sebagaimana yang kini banyak kita saksikan seperti Rudi Hartono, Budi Suraatmadja, Leo Tahir, bahkan nama marga Indonesia seperti Manantu Sitorus, Edi Mantiri, Velix Raweyai dan lain lain.

Dengan perlakuan istimewa yang superior dari kolonialis Belanda selama berabad-abad kepada bangsa-bangsa Eropa dan Timur-Asing serta inferior kepada bangsa pribumi Indonesia, maka rasa rendah diri bangsa Indonesia menjadi demikian berkepanjangan sehingga tidak lagi memiliki rasa kemampuan diri untuk dapat menduduki posisi yang terdepan di dalam memimpin masyarakat bangsanya sendiri. Suatu keadaan yang sangat ironis dibandingkan dengan sejarah peradaban yang cemerlang dari bangsa Indonesia, sebelum bangsa-bangsa Barat dan Timur asing bermigrasi ke Nusantara pada abad ke 16 seiring dengan perkembangan waktu dari imperium majapahit menuju perjuangan Ki Hajar Dewantara.

Menurut konsep Ki Hajar Dewantara, hakikat pendidikan adalah sebagai usaha untuk menginternalisasikan nilai-nilai budaya ke dalam diri anak, sehingga anak menjadi manusia yang utuh baik jiwa dan rohaninya. Tahapan internalisasi tentang nilai nilai budaya ini sangat penting dalam pembentukan karakter generasi milenial sebagai calon pemimpin bangsa. Selain itu, dalam hikayat wayang terdapat nilai-nilai astha brata yang berkorelasi dengan nilai luhur dari Ki Hajar Dewantara. Kedua nilai ini apabila diterapkan akan membentuk karakter pemimpin yang ideal. Sayangnya, nilai kepemimpinan tersebut mulai luntur seiring dengan perkembangan zaman.

Sifat kepemimpinan merupakan aspek penting dalam kehidupan, tidak terkecuali dalam kehidupan bernegara karena sifat kepemimpinan menjadi salah satu faktor dalam pembangunan masyarakat. Saat ini banyak problematika kepemimpinan yang terjadi, seperti kurangnya integritas, tidak dapat memberikan keteladanan, dan tidak memiliki kompetensi dalam bidangnya. Selain itu, era globalisasi saat ini mudah sekali untuk mendapatkan referensi kepemimpinan dari filosofi budaya barat yang tidak sesuai dengan budaya masyarakat Indonesia. 

Filosofi kepemimpinan barat apabila tidak dibarengi dengan pendalaman filosofi kepemimpinan nasional yang berlandaskan nilai luhur budaya maka akan dapat menghilangkan jejak identitas kepemimpinan nasional. Oleh karena itu diperlukan konsep kepemimpinan nasional untuk mengembalikan pada filosofi bangsa sendiri. Filosofi kepemimpinan yang dapat menjadi referensi kepemimpinan nasional adalah Kepemimpinan Bangsa Pribumi Berlandaskan Nilai Luhur Budaya Bangsa seperti filosofi kepemimpinan Ki Hajar Dewantara yang di dalam kepemimpinan tersebut terdapat tiga prinsip mendasar yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin yaitu, “Ing Ngarso Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani". [**]

Penulis: Dr. Iswadi, M.Pd. (Dosen Universitas Esa Unggul)

Keyword:


Editor :
Indri

riset-JSI
Komentar Anda