Beranda / Opini / Buku dan Kemerdekaan Berfikir

Buku dan Kemerdekaan Berfikir

Sabtu, 13 Mei 2023 16:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Penulis :
Muazzah

Muazzah, S.Si.,M.A, Guru SMA Sukma Bangsa Pidie, Aceh. [Foto: for dialeksis.com]


DIALEKSIS.COM | Opini - Jika dulu kita sering mendengar kata-kata bijak “Buku adalah jendela dunia,” maka rasanya kini kata-kata tersebut tidak lagi relevan. Terjadi pergeseran realita akibat perkembangan teknologi yang kian pesat. Sekarang dunia dengan mudah dijelajahi oleh mesin pintar dan kecanggihan perangkat komunikasi. Hanya dengan satu sentuhan jari melalui gawai yang kita miliki, kita telah mampu menjelajahi dunia. Tak perlu lagi membuka lembaran-lembaran buku untuk menemukan informasi. Cukup tanyakan pada mesin pencarian, maka berbagai informasi terkait akan tersaji dalam hitungan detik. Maka, buku menjadi tak penting lagi bagi pencari informasi instan.

Perubahan teknologi membawa banyak kemudahan pada manusia, namun juga menggeser banyak hal baik dalam kehidupan. Kemudahan yang diperoleh melalui teknologi menjadikan generasi instan terbentuk. Apa-apa ingin cepat, apa-apa ingin mudah. Sehingga, generasi yang terbentuk tak suka menunggu, mencerna, dan mengolah terlebih dahulu sebelum memutuskan dan menyimpulkan.

Dengan perubahan yang ada, ada banyak penerbit yang terpaksa gulung tikar. Majalah, koran, dan tabloid tak lagi dengan mudah kita temui karena mereka terpaksa berhenti menerbitkannya. Angka publikasi buku juga masih terbilang rendah. Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2020 dan kajian penerbitan mencatatkan jumlah terbitan sejak 2015-2020 sebanyak 404.037 judul buku dengan penerbit aktif secara nasional sebanyak 8.969 penerbit. Angka ini masih terbilang minim jika kita bandingkan dengan rasio jumlah penduduk Indonesia. Perbandingan tersebut ialah 1:514 dan menunjukkan belum cukupnya jumlah terbitan secara nasional dibandingkan dengan jumlah penduduk di Nusantara.

Meski jumlah terbitan masih kurang, pemerintah tak tinggal diam. Perpustakaan nasional mengatasi masalah tersebut dengan layanan sumber elektronik dan digital online, e-Resources dan iPusnas, aplikasi perpustakaan digital yang berbasis media sosial. Artinya, kendala sumber bacaan bisa ditangani jika akses internet dan perangkat elektronik sudah memadai di perpustakaan. Namun nyatanya, ada masih banyak perpustakaan daerah yang belum mampu menyediakan layanan seperti perpustakaan nasional. Bahkan, fisik perpustakaan pun masih menjadi kendala di beberapa wilayah pelosok negeri.

Masyarakat Indonesia terbilang rendah minat bacanya berdasarkan survei PISA pada tahun 2018 yang memosisikan kita di urutan kedua terendah dari 70 negara yang ikut. Hasil ini menunjukkan betapa kemampuan analisa masyarakat Indonesia yang masih sangat rendah. Padahal, berbagai program peningkatan kemampuan literasi terus diupayakan oleh pemerintah.

Nasib buku

Selain perpustakaan, keberadaan buku juga memberi andil dalam peningkatan minat baca. Banyak buku yang diterbitkan tidak melewati proses yang benar atau serba tergesa-gesa, asal bisa terbit. Hal ini juga menyebabkan buku tersebut tak diminati untuk dibaca.

Apakah buku kini tak lagi diminati? Tentu saja tidak! Masih ada banyak orang yang lebih suka menikmati membaca dengan menyentuh fisik buku daripada membaca dalam bentuk buku elektronik. Buku yang mampu memenangkan hati banyak orang lah yang tetap akan dinanti kehadirannya, dinikmati setiap rangkai katanya.

Genre buku juga perlu diperhatikan dalam penyajian buku di perpustakaan. Semakin variatif buku yang disediakan, maka akan semakin memfasilitasi kebutuhan dan kegemaran pembacanya. Sebagai contoh, perpustakaan sekolah yang hanya menyediakan buku teks pelajaran akan sepi dari pengunjung dibandingkan perpustakaan yang juga menyediakan buku-buku nonfiksi seperti cerpen, novel, kumpulan puisi, dan berbagai buku motivasi.

Penyediaan buku baru juga perlu menjadi perhatian pengelola perpustakaan agar kebutuhan buku dapat terus terpenuhi. Pustakawan harus memiliki kemampuan literasi yang baik dulu sebelum memfasilitasi pengunjungnya untuk membaca. Ia harus mampu mencari buku-buku hebat dan menyediakannya untuk pembaca.

Anak-anak yang biasa dibacakan buku sejak dini menunjukkan kemampuan bicara, memilih kosa kata, dan bernarasi lebih baik dibandingkan anak yang tidak pernah dibacakan buku. Hal ini menunjukkan betapa buku memberi dampak pada perkembangan neuron di otak anak. Anak-anak yang sering membaca buku dengan berbagai genre, akan memiliki latar belakang pengetahuan yang lebih luas sehingga mempengaruhi kemampuan menganalisa dan melihat dari berbagai sudut pandang.

Dalam buku Mind Power for Children (2020) karya Nancy Fischer dan John Kehoe dinyatakan bahwa dengan majunya teknologi modern, anak-anak kita sekarang bisa mengakses beragam opini, gambar, dan gagasan jauh melampaui apa yang kita alami sendiri. Kita tidak perlu takut jika kita mendidik anak dengan baik. Kita masih bisa mengajarkan nilai-nilai positif yang kita percayai seperti kejujuran, keadilan, dan hormat pada diri sendiri dan orang lain. 

Kekuatan berfikir bisa dilatih sejak dini melalui pembiasaan mendengarkan cerita, membaca buku, dan diskusi bersama orangtua. Itulah mengapa anak-anak dengan kebiasaan dibacakan buku sebelum tidur memiliki kemampuan analisa dan berfikir kritis yang lebih tinggi. Membaca banyak referensi memberikan pengetahuan dasar yang menyebabkan otak akan menyintesis informasi baru yang diterima melalui bacaan, tontonan, maupun pembicaraan dengan membandingkan pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya. Hal inilah yang menyebabkan seseorang tidak mudah percaya dan termakan isu-isu hoaks.

Mengasah kemampuan otak

Otak manusia tersusun dari ribuan neuron (saraf) yang akan terhubung jika diberikan rangsangan yang tepat. Membaca merupakan kegiatan yang mampu menghubungkan titik-titik saraf tersebut. Kegiatan membaca disini tidak sekedar mengeja huruf menjadi kata hingga paragraf, namun lebih dalam lagi hingga mampu menemukan ide pokok dan menganalisa bacaan yang dibaca. Kegiatan membaca seperti ini tidak dapat dicapai dengan pemaksaan dan secara instan. Butuh pembiasaan dan ketekunan hingga menjadi budaya yang melekat pada diri seseorang. Karena mampu membaca belum tentu mampu meliterasi dan memahami makna yang dibaca.

Butuh peran orangtua dalam pembiasaan membaca di rumah, peran guru semua bidang studi di sekolah, dan masyarakat di lingkungan tempat tinggal agar budaya membaca bisa mengakar pada semua anak. Orangtua perlu membiasakan diri sebelum membiasakan anaknya membaca. Karena memberi contoh dengan perbuatan akan lebih berdampak pada anak, ketimbang sekedar menyuruh mereka untuk mau atau gemar membaca.

Perubahan kurikulum di Indonesia menjadi kurikulum merdeka mengharapkan perubahan pada pola belajar dan pola pikir peserta didik. Hal ini harus dimulai dari perubahan pola pikir dan pola didik guru di sekolah dan orangtua di rumah. Guru perlu menyediakan berbagai bahan bacaan dalam mata pelajarannya yang kontekstual dan kekinian agar mampu merangsang rasa ingin tahu siswa dan mengasah daya analisanya. Guru perlu lebih kreatif dan mau berkolaborasi dengan teman sejawatnya untuk memberikan pengetahuan multidisiplin ilmu yang menunjukkan keterkaitan semua bidang studi sebagai pembiasaan untuk berfikir kritis guru dan siswa.

Dengan berbagai pendekatan metode mengajar, guru harus mampu menunjukkan bahwa buku dan kegiatan membaca adalah hal yang harus menjadi bagian diri untuk memberikan ruang berfikir yang lebih luas, lebih merdeka bagi setiap insan. [**]

Penulis: Muazzah, S.Si.,M.A (Guru SMA Sukma Bangsa Pidie, Aceh)

Keyword:


Editor :
Indri

riset-JSI
Komentar Anda