Jum`at, 31 Juli 2026
Beranda / Berita / Nasional / Wamenag: Bentengi Anak dari LGBTQ dengan Alquran

Wamenag: Bentengi Anak dari LGBTQ dengan Alquran

Jum`at, 31 Juli 2026 08:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Wakil Menteri Agama Romo Muhammad Syafi'i ketika membuka Muharam Islamic Literacy Festival (Milfest 1448H) di halaman Gedung Unit Percetakan Al-Qur'an (UPQ), Pusat Literasi Keagamaan Islam (PLKI) Ciawi, Bogor. [Foto: Humas Kemenag]


DIALEKSIS.COM | Bogor - Al-Quran bukan sekedar kitab suci untuk dibaca dalam berbagai ritual keagamaan maupun diperlombakan melalui ajang MTQ. Lebih dari itu, Al-Qur'an adalah petunjuk dan pedoman hidup serta sumber berbagai bidang ilmu pengetahuan. 

Hal ini diungkapkan Wakil Menteri Agama Romo Muhammad Syafi'i ketika membuka Muharam Islamic Literacy Festival (Milfest 1448H) di halaman Gedung Unit Percetakan Al-Qur'an (UPQ), Pusat Literasi Keagamaan Islam (PLKI) Ciawi, Bogor.

"Al-Quran itu kan petunjuk (hudan), petunjuk yang tidak terbatas pada bidang-bidang tertentu, apakah bidang politik, bidan ekonomi, sosial, budaya, teknologi, pertahanan, keamanan," ungkap Wamenag di Bogor, Kamis (30/7/2026).  

Romo menuturkan jika seseorang memiliki pemahaman Al-Qur'an yang baik, itu akan mendatangkan kehidupan yang bermartabat dan memberikan kebahagiaan. Oleh karenanya, ia mengapresiasi Milfest 1448H yang juga menghadirkan rangkaian kegiatan bagi anak-anak. 

"Saya kira sudah saatnya, anak-anak kita terutama, mendapatkan pemahaman bahwa Al-Qur'an tidak hanya tadarusan, bukan sekedar MTQ, khataman, tapi Al-Qur'an merupakan pedoman dalam berbagai bidang kehidupan yang dibutuhkan oleh manusia," tuturnya.

"Milfest ini merupakan satu rangkaian kegiatan untuk memberikan pemahaman tentang Al-Qur'an tentang pedoman dan petunjuk dalam kehidupan yang ternyata bila diterjemahkan memiliki keluasan makna dan sangat tidak terbatas jika kita mau pakai batasan pikiran manusia saat ini. Semua kegiatan yang meramaikan ini satu judul yang sama pada satu pemahaman sosialisasi Al-Qur'an," imbuhnya.

Wamenag juga mengajak untuk senantiasa memperhatikan, memberikan perhatian yang serius, memberikan fasilitas yang cukup kepada anak-anak untuk memastikan masa depan yang lebih baik. 

Ia berharap, di masa mendatang Unit Percetakan Quran (UPQ) menghadirkan wisata religi, seperti menonton film dengan tema Al-Qur'an di Taman Mini, selain melihat percetakan mushaf dan pulang membawa Al-Qur'an, para pengunjung termasuk anak-anak juga mendapat mendapat kisah-kisah inspiratif dan pengetahuan mengenai berbagai bidang keilmuan.

"Sumbernya ada di sini (Al-Qur'an), yang penting ini kalian baca, kita data namanya dan kita undang tiga bulan lagi atau enam bulan lagi secara berkala, agar mereka memaparkan apa yang bisa dia baca, apa yang bisa dia utarakan dari Al-Qur'an itu. Saya kira ini yang harus kita ciptakan untuk menumbuh kembangkan minat dan membuka cakrawala berpikir bahwa Al-Qur'an bukan hanya untuk tadarusan, bukan hanya untuk MTQ, tapi ini adalah memang tuntunan kehidupan sebagaimana hakikat Al-Qur'an itu," tutur Romo.

Mengutip pesan Presiden, Romo mengingatkan bahwa kualitas masa depan Indonesia sangat ditentukan oleh bagaimana memperlakukan dan mempersiapkan anak-anak saat ini, mulai dari kesehatan, kecerdasan, hingga perlindungan dari berbagai ancaman global, termasuk penguatan kurikulum penangkal pengaruh negatif seperti budaya Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender dan Queer (LGBTQ) yang tertuang dalam Perpres No. 111 Tahun 2025.

"Sekarang Indonesia sedang melakukan program GERNAS RANA, gerakan nasional ruang aman, nyaman bagi anak-anak. Di mana? Di rumah, di sekolah, di ruang publik, dan di ruang digital. Anak kita harus bebas dari pengaruh-pengaruh negatif yang sekarang begitu dahsyat termasuk program penyebaran budaya LGBTQ," ungkapnya.

Romo menegaskan bahwa Kemenag bergerak cepat, menghadapi ancaman LGBTQ, hal ini dibuktikan dengan penyusunan kurikulum yang ditujukan bagi semua pendidikan keagamaan, akan segera rampung. 

"Kementerian Agama telah menyusun kurikulum yang akan diinsert ke kurikulum yang berjalan untuk memberikan pemahaman kepada anak-anak didik agar tidak terpapar oleh budaya LGBTQ, karena LGBTQ itu juga pengingkaran terhadap Al Quran. Lagi-lagi itu merupakan sosialisasi dari pengamalan Al Quran," imbuh Romo.

"Mungkin tahun ajaran ini akan mulai diinsersi ke kurikulum yang berjalan agar anak-anak tidak terpapar dengan budaya LGBTQ. Untuk sementara ini kurikulumnya masih di Kemenag, tapi kita sudah sounding ke Kemendikdasmen," pungkasnya. [*]

Keyword:


Editor :
Indri

riset-JSI