DIALEKSIS.COM | Lhokseumawe - Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendikbudristek) menilai kolaborasi antara perguruan tinggi dengan Tentara Nasional Indonesia (TNI) membuka peluang besar dalam pengembangan riset dan teknologi strategis. Empat inovasi utama yang menjadi fokus meliputi microchip untuk sistem kendali dan IoT, kendaraan taktis listrik Maung EV, Propelan Merah Putih berbasis bahan lokal, serta teknologi optronic untuk sensor presisi tinggi. Langkah ini diyakini akan mempercepat kemandirian teknologi nasional.
Tindakan kerjasama kementerian dan TNI sudah terlebih dahulu dilakukan Universitas Malikussaleh (Unimal) menjadi salah satu pionir sekaligus kolaborasi nyata dalam menjalin kemitraan dengan TNI.
Rektor Unimal, Prof. Dr. Herman Fithra, S.T., M.T., mengungkapkan kerja sama telah berjalan sejak 16 Februari 2022. “Alhamdulillah, kolaborasi ini mencakup bidang pendidikan, bela negara, hingga pengembangan sumber daya,” ujarnya kepada Dialeksis saat diminta keterangan, Jumat (04/04/2025).
Prof Herman merincikan bentuk kemitraan bersama TNI sudah berjalan penerimaan mahasiswa asal Papua bekerja sama dengan Kodam Iskandar Muda, Penyusunan Sistem Informasi Desa (SID) dan pembibitan tanaman tahunan di Fakultas Pertanian bersama Korem 011 Lilawangsa (2024-2025), Pelatihan Bela Negara untuk mahasiswa Pertanian bersama Denrudal Lhokseumawe, dan Retreat peningkatan kedisiplinan dan cinta tanah air bagi pimpinan Unimal bersama Lanal Lhokseumawe.
Hal lain disampaikan Prof Herman secara lebih mendalam, ia menerangkan ruang lingkup lebih jauh kerjasama bersama TNI mulai dari penyelenggaraan kerja sama akademik, peningkatan kualitas Pendidikan, pengkajian penerapan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, Pengembangan Sumber Daya Manusia, perekrutan mahasiswa papua, papua barat dan mahasiswa yang berasal dari Daerah Tertinggal, Terdepan dan Terluar (3T) diseluruh Wilayah Indonesia, untuk studi kelanjutan (D3, S1 dan S2) di Universitas Malikussaleh, dan bidang-bidang lain yang dianggap perlu untuk dikerjasamakan
Menurut Herman Fithra, perluasan kerja sama kampus - TNI sejalan dengan agenda Presiden Prabowo Subianto dalam memperkuat ketahanan pangan dan energi.
“Kampus memiliki SDM unggul di bidang riset, sementara TNI memiliki infrastruktur dan jaringan untuk implementasi. Ini kombinasi ideal,” paparnya.
Ia mencontohkan, riset Propelan Merah Putih yang memanfaatkan selulosa dan gliserin lokal bisa menjadi solusi mengurangi impor bahan peledak. Sementara teknologi microchip dan optronic akan memperkuat sistem pertahanan berbasis inovasi dalam negeri.
Sebagai penutup komentarnya Prof Herman menyampaikan, riset pertahanan rawan politisasi. Untuk itu penting memastikan hasilnya benar-benar untuk kepentingan publik, bukan segelintir pihak, serta membutuhkan pendanaan besar dan keberlanjutan. Jangan sampai kerja sama hanya bersifat seremonial.
“Dengan komitmen universitas dan TNI, kolaborasi akademisi-militer ini diharapkan tak hanya melahirkan teknologi mutakhir, tetapi juga memperkuat fondasi kemandirian Indonesia di era persaingan global,” pungkasnya.