Kamis, 08 Oktober 2026
Beranda / Berita / Nasional / The Atjeh Connection, Merawat Rasa dan Budaya Aceh di Perantauan

The Atjeh Connection, Merawat Rasa dan Budaya Aceh di Perantauan

Kamis, 08 Oktober 2026 11:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Ratnalia

Ilustrasi logo The Atjeh Connection. Foto: Ist


DIALEKSIS.COM | Jakarta - Mengenal Aceh bisa dimulai dari meja makan. Secangkir kopi sanger dan sepiring masakan khasnya membuka percakapan tentang rasa, kampung halaman, serta kebiasaan berkumpul yang melekat dalam kehidupan masyarakat Aceh. Pengalaman itulah yang ditawarkan The Atjeh Connection melalui jaringan restoran dan kedai kopinya.

Bagi masyarakat Aceh di perantauan, The Atjeh Connection menjadi tempat menemukan kembali keakraban rasa. Bagi pengunjung dari daerah lain, kehadirannya membuka kesempatan mengenal kekayaan kuliner Tanah Rencong dalam suasana yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Dalam profil yang diterbitkan Dialeksis pada 3 Oktober 2025, The Atjeh Connection digambarkan mempertahankan kekhasan masakan dan racikan kopi Aceh. Identitas tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan usaha yang dibangun Amir Faisal Nek Muhammad bersama istrinya, Anita Amir Faisal.

Usaha ini bermula di Apartemen Slipi, Jakarta, pada 2015. Berangkat dari kegemaran bersilaturahmi, Amir menghadirkan tempat berkumpul dengan suguhan kuliner Aceh. Untuk mengolah makanannya, ia mendatangkan juru masak dari Aceh.

“Kami ingin menjadi duta kuliner Aceh di ibu kota serta menjadikan Aceh menjadi ikon nasional untuk Internasional,” kata Amir bercerita kepada Dialeksis, 8/10/2026.

Dirinya juga menyampaikan, keberadaan The Atjeh Connection harus dapat memberikan dampak kepada masyarakat Aceh khususnya dan nasional sehingga ensensi kami berarti untuk publik.

Semangat tersebut memberi makna pada nama The Atjeh Connection: mempertemukan orang melalui makanan dan kopi. Penggunaan ejaan “Atjeh” serta logo sosok berkupiah meukeutop ikut membawa penanda budaya Aceh ke ruang perjumpaan itu.

Kopi sanger, mi Aceh, ayam tangkap, kue ade, nasi gurih, dan kari kambing merupakan sejumlah sajian yang pernah diperkenalkan dalam pemberitaan mengenai The Atjeh Connection. Ragam tersebut menunjukkan bahwa kuliner Aceh menawarkan banyak pilihan untuk dikenal, dari makanan utama hingga kudapan pendamping kopi.

Dalam konteks pelestarian budaya, keberadaan tempat seperti ini dapat membantu membuat kuliner daerah tetap akrab dengan masyarakat. Hidangan yang terus dimasak, disajikan, dan dinikmati memberi kesempatan bagi generasi berikutnya untuk mengenali kekhasannya. Menjaga karakter rasa menjadi bagian penting dari proses tersebut.

Jangkauan pengenalan itu bertambah dengan kehadiran The Atjeh Connection di Serpong, Tangerang, Banten. Kehadirannya membuka pilihan bagi masyarakat sekitar untuk menikmati kuliner dan kopi Aceh bersama keluarga, sahabat, maupun rekan kerja.

Di Jakarta Pusat, pengunjung dapat menemukan The Atjeh Connection di Jalan Bendungan Hilir Raya No.56. Pilihan lainnya ialah gerai Neo Sabang di Jalan H. Agus Salim No.38, Kebon Sirih, serta The Atjeh Connection Classic di Jalan H. Agus Salim No.26–28.

Di Jakarta Selatan, jaringan gerainya tercantum di kawasan SCBD, tepatnya Jalan Tulodong Bawah No.1, Selong. The Atjeh Connection juga hadir di Jalan Tebet Timur Dalam Raya No.31B dan Jalan Cipete Raya No.8F.

Di luar Jakarta, direktori The Atjeh Connection mencantumkan gerai Solo di Jalan Kutai Utara No.2, Sumber, Surakarta; gerai Surabaya di Jalan Arjuno No.15, Sawahan; serta gerai Jogja di Jalan Nyi Tjondrolukito No.88, Sinduadi, Sleman.

Pengunjung dapat mengakses kanal informasi The Atjeh Connection untuk melihat menu gerai dan menghubungi WhatsApp reservasi. Jam buka, ketersediaan menu, serta kebutuhan kunjungan rombongan dapat ditanyakan melalui kanal tersebut.

Hubungan dengan Aceh juga terlihat melalui kegiatan seni. Dialeksis pada 22 Februari 2026 memberitakan kolaborasi Keubitbit dan The Atjeh Connection dalam pertunjukan musik yang direkam di Dieng. Dalam pemberitaan itu, Amir menyampaikan komitmen menyediakan dukungan dan jejaring agar talenta muda Aceh dapat berkembang.

Kepedulian terhadap tradisi hadir pula melalui Atjeh Connection Foundation. Pada 20 Maret 2026, yayasan tersebut menyalurkan seekor sapi meugang kepada warga terdampak banjir di Desa Sijudo, Kecamatan Pante Bidari, Aceh Timur. Bantuan itu menghubungkan pelaksanaan tradisi dengan solidaritas kepada masyarakat yang sedang memulihkan kehidupan.

Rangkaian kegiatan tersebut memperlihatkan peluang membawa identitas Aceh melalui usaha kuliner, seni, dan kepedulian sosial. Bagi pencinta masakan Nusantara, The Atjeh Connection dapat menjadi pilihan untuk mengenal Aceh dari dekat melalui hidangan yang dinikmati dan percakapan yang tumbuh di sekelilingnya.



Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI