DIALEKSIS.COM | Jakarta - Perbincangan santai antara Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh, Prof. Dr. H. Mujiburrahman, M.Ag, dengan Owner Dialeksis, Aryos Nivada di tempat bernama djakarta cafe di Sarinah Jakarta (7/08/2026), mengalir dari persoalan kampus, tradisi menulis, hingga masa depan jurnal ilmiah di Aceh.
Tema jurnal menjadi salah satu pembicaraan menarik. Bukan semata karena publikasi ilmiah menjadi bagian penting dalam kehidupan perguruan tinggi, tetapi karena UIN Ar-Raniry kini memiliki modal besar untuk melangkah lebih jauh dalam percaturan akademik nasional dan internasional.
Mujiburrahman sendiri baru kembali dilantik Menteri Agama untuk memimpin UIN Ar-Raniry periode 2026 - 2030. Kementerian Agama meminta para pimpinan Perguruan Tinggi Keagamaan Negeri yang baru dilantik menghadirkan terobosan sejak 100 hari pertama kepemimpinan.
Dalam perbincangan bersama Aryos, Mujiburrahman memandang pengembangan jurnal tidak boleh hanya berhenti pada target memperoleh status terakreditasi atau berhasil masuk lembaga pengindeks internasional. Jurnal, menurutnya, harus ditempatkan sebagai bagian dari pembangunan ekosistem ilmu pengetahuan di universitas.
“Jurnal itu bukan sekadar tempat menerbitkan tulisan dosen. Jurnal adalah wajah intelektual sebuah universitas. Dari jurnal orang luar dapat melihat apa yang sedang dipikirkan, diteliti, dan dikembangkan oleh komunitas akademik kita. Karena itu, kualitas jurnal harus kita jaga sebagai bagian dari reputasi UIN Ar-Raniry,” ujar Mujiburrahman dalam draf komentar hasil perbincangan tersebut.
Empat Jurnal Sudah Q1
Modal UIN Ar-Raniry untuk bergerak ke arah itu tidak kecil. Kampus berjuluk Jantong Hate Rakyat Aceh tersebut memiliki empat jurnal yang telah terindeks Scopus dan berada pada kuartil pertama (Q1), yakni Samarah, Jurnal Ilmiah Islam Futura, El-Usrah, dan Petita. Data tersebut juga dikonfirmasi Kementerian Agama pada Maret 2026.
El-Usrah: Jurnal Hukum Keluarga bahkan mencatat prestasi menonjol. Dalam pemeringkatan Scimago Journal Rank, jurnal yang dikelola di lingkungan Fakultas Syariah dan Hukum UIN Ar-Raniry tersebut tercatat sebagai jurnal antropologi terbaik di Asia pada pemeringkatan yang diumumkan sebelumnya.
Tiga jurnal Q1 lainnya adalah Samarah: Jurnal Hukum Keluarga dan Hukum Islam, Jurnal Ilmiah Islam Futura, serta Petita: Jurnal Kajian Ilmu Hukum. Keberadaan empat jurnal tersebut menempatkan UIN Ar-Raniry sebagai salah satu PTKIN dengan ekosistem publikasi internasional yang menonjol.
Mujiburrahman menilai pencapaian tersebut tidak boleh membuat pengelola jurnal berpuas diri.
Menurutnya, mempertahankan reputasi justru jauh lebih sulit daripada sekadar mencapainya.
“Masuk Scopus atau Q1 tentu membanggakan, tetapi pertanyaan berikutnya adalah bagaimana mempertahankannya. Kita harus memastikan kualitas artikel, integritas akademik, proses review, ketepatan penerbitan, jejaring editor, hingga kontribusi artikel terhadap perkembangan ilmu. Jadi setelah memperoleh pengakuan, pekerjaan kita justru semakin besar,” katanya.
Jangan Hanya Empat Jurnal
Mujiburrahman ingin keberhasilan empat jurnal tersebut menimbulkan efek berantai terhadap jurnal-jurnal lain di lingkungan UIN Ar-Raniry.
Menurut dia, universitas perlu membangun pola pendampingan sehingga pengelola jurnal yang telah berhasil menembus tingkat internasional dapat berbagi pengalaman kepada jurnal yang sedang berkembang.
Portal Rumah Jurnal UIN Ar-Raniry sendiri telah dibangun sebagai pintu terintegrasi publikasi ilmiah kampus, yang menghimpun jurnal dari beragam rumpun keilmuan, mulai studi Islam, sosial-humaniora hingga sains dan teknologi.
“Kita tidak ingin keberhasilan itu berhenti pada empat jurnal. Harus terjadi transfer pengetahuan. Pengelola yang sudah berhasil membawa jurnalnya ke tingkat internasional perlu menjadi mentor bagi jurnal-jurnal lainnya. Kalau ekosistem itu terbentuk, insya Allah akan muncul jurnal-jurnal baru yang menyusul,” ujar Mujiburrahman.
Ia menyebut peningkatan jurnal perlu dilakukan dari hulu. Artinya, universitas bukan hanya membenahi sistem penerbitan, tetapi juga memperkuat kualitas penelitian para dosen.
Menurutnya, jurnal yang baik tidak mungkin lahir tanpa riset yang baik.
Karena itu, penguatan kapasitas metodologi penelitian, penulisan akademik berbahasa Inggris, kolaborasi riset internasional, pengembangan jejaring reviewer dan editor dari berbagai negara menjadi pekerjaan yang harus dilakukan secara paralel.
“Kalau kita ingin jurnal internasional, maka cara kerjanya juga harus internasional. Penulisnya semakin beragam, reviewernya harus kuat, editor memiliki jejaring global, artikelnya menawarkan kebaruan, dan isu yang dibahas mampu berdialog dengan persoalan dunia. Jangan hanya mengganti bahasa Indonesia menjadi bahasa Inggris lalu kita merasa sudah internasional,” katanya.
Jurnal Harus Melahirkan Mazhab Pemikiran
Dalam bincang tersebut, Aryos Nivada juga menyinggung bahwa kemajuan jurnal seharusnya mempunyai korelasi dengan meningkatnya pengaruh pemikiran akademisi Aceh dalam diskursus nasional maupun global.
Mujiburrahman sepakat.
Baginya, target akhir pengembangan jurnal bukan sekadar angka sitasi atau pemeringkatan, melainkan kemampuan universitas menghasilkan gagasan yang menjadi rujukan.
Aceh, menurutnya, memiliki laboratorium sosial dan intelektual yang sangat kaya. Islam, hukum, perdamaian, masyarakat pascakonflik, syariat Islam, antropologi, pendidikan, ekonomi syariah, sejarah Samudera Hindia hingga mitigasi bencana merupakan sebagian tema yang dapat dikembangkan menjadi kajian berkelas dunia.
“Kita memiliki Aceh sebagai laboratorium ilmu yang luar biasa. Banyak persoalan lokal kita sesungguhnya mempunyai relevansi global. Tugas akademisi adalah mengubah pengalaman lokal itu menjadi pengetahuan yang dapat dibaca, diuji dan diperdebatkan masyarakat ilmiah dunia,” katanya.
Ia berharap pada masa mendatang orang tidak hanya mengenal UIN Ar-Raniry karena memiliki jurnal Q1, tetapi juga karena jurnal-jurnal tersebut melahirkan teori, gagasan serta pemikiran yang berpengaruh.
“Cita-citanya lebih jauh. Jangan sampai kita hanya bangga karena jurnal kita masuk database dunia, tetapi pemikiran yang lahir dari Aceh tidak ikut mewarnai dunia. Saya ingin UIN Ar-Raniry menjadi salah satu pusat produksi pengetahuan dari kawasan ini,” ujarnya.
Jejak Jurnal Ilmiah Peuradeun
Perbincangan juga menyentuh Jurnal Ilmiah Peuradeun (JIP), jurnal yang diterbitkan SCAD Independent tetapi mempunyai kedekatan akademik dengan komunitas UIN Ar-Raniry.
Hubungan tersebut memiliki jejak tersendiri. Ketika Jurnal Ilmiah Peuradeun berhasil terindeks Scopus pada 2023, UIN Ar-Raniry turut mempublikasikan pencapaian tersebut. Pada 2024, UIN Ar-Raniry bahkan memasukkan Jurnal Ilmiah Peuradeun bersama Samarah dan Jurnal Ilmiah Islam Futura dalam pemberitaan tentang tiga jurnal berkualifikasi Q1 yang terkait dengan ekosistem akademiknya. Sejumlah akademisi UIN Ar-Raniry juga secara konsisten menjadi kontributor dalam JIP.
Mujiburrahman memandang hubungan semacam itu penting dipertahankan. Kampus, menurutnya, tidak seharusnya membangun tembok dalam pengembangan ilmu pengetahuan.
“Jurnal independen yang tumbuh dari lingkungan akademik Aceh dan memiliki hubungan historis dengan UIN Ar-Raniry adalah mitra strategis. Dunia akademik justru berkembang melalui kolaborasi. Semakin banyak jurnal berkualitas lahir dari Aceh, semakin kuat pula posisi Aceh dalam peta keilmuan nasional dan internasional,” katanya.
Menurut dia, UIN Ar-Raniry membuka ruang kolaborasi dengan lembaga penerbit jurnal, perguruan tinggi, asosiasi keilmuan, hingga peneliti dari berbagai negara.
Dari Banda Aceh untuk Dunia
Mujiburrahman ingin penguatan jurnal berjalan beriringan dengan transformasi UIN Ar-Raniry menuju universitas berkelas dunia.
Prestasi jurnal, katanya, merupakan salah satu pintu. Namun di belakangnya harus terdapat budaya akademik yang sehat: dosen rajin meneliti, mahasiswa terbiasa membaca dan menulis, diskusi ilmiah hidup, kritik dihargai, serta integritas akademik dijaga.
“Universitas besar bukan hanya karena bangunannya besar. Universitas menjadi besar karena tradisi ilmunya. Jurnal merupakan rekaman dari tradisi ilmu tersebut,” ucapnya.
Karena itu, ia menginginkan Rumah Jurnal UIN Ar-Raniry berkembang bukan sebatas portal yang menghimpun berbagai publikasi, melainkan menjadi sebuah ekosistem pengembangan jurnal: tempat berbagi pengalaman, meningkatkan kapasitas editor, mempertemukan peneliti, membangun kolaborasi dan menyiapkan jurnal-jurnal potensial menuju indeks bereputasi internasional.
“Empat jurnal Q1 adalah modal, bukan garis akhir. Setelah empat harus muncul lima, enam, tujuh dan seterusnya. Tetapi yang paling penting bukan jumlahnya. Kita harus memastikan kualitas, integritas dan manfaat ilmu yang dihasilkan tetap menjadi fondasinya,” kata Mujiburrahman.
Bincang santai itu pada akhirnya sampai pada satu kesimpulan: reputasi akademik tidak dibangun dalam semalam. Ia tumbuh dari penelitian yang tekun, pengelolaan jurnal yang konsisten, keberanian membuka jejaring, serta kesediaan sebuah universitas untuk terus memperbaiki dirinya.
Dari Banda Aceh, UIN Ar-Raniry kini mempunyai modal untuk membawa tradisi intelektual Aceh berbicara lebih lantang di panggung ilmu pengetahuan dunia.