Logo Dialeksis
Beranda / Berita / Nasional / Kisah Mayjen TNI (Mar) Suhartono Merebut MV Sinar Kudus dari Perompak Somalia

Kisah Mayjen TNI (Mar) Suhartono Merebut MV Sinar Kudus dari Perompak Somalia

Senin, 24 Agustus 2020 00:00 WIB

Font: Ukuran: - +


[Foto: Kapal MV Sinar Kudus dikawal 2 KRI menuju Indonesia]


DIALEKSIS.COM | Jakarta - Masih teringat jelas diingatan seluruh rakyat Indonesia insiden pembajakan dan penyanderaan 20 Anak Buah Kapal (ABK) MV Sinar Kudus oleh para perompak bersenjata Somalia. Insiden itu terjadi pada bulan Maret 2011 silam. Kapal kargo MV Sinar Kudus dibajak oleh 35 bajak laut bersenjata asal Somalia ketika melintas di timur laut Pulau Socotra yang terletak sekitar 350 mil laut tenggara Oman, menuju Pelabuhan Rotterdam, Belanda. 

Perompak Somalia ketika itu seperti mendapatkan durian runtuh, bagaimana tidak, MV Sinar Kudus saat dirompak tengah membawa delapan ribu feronikel milik PT Aneka Tambang dengan nilai lebih dari satu triliun rupiah. Maka tidak heran, para perompak Somalia itu kemudian meminta kepada pemilik kapal dan pemerintah Indonesia untuk menebus kapal kargo MV Sinar Kudus sebesar 4.5 juta dollar Amerika atau sekitar 40 miliar dengan kurs rupiah ketika itu.

Komandan Korps Marinir (Dankormar) Mayjen TNI Suhartono mengisahkan, ketika insiden perompakan itu terjadi dirinya baru saja dipercaya ditunjuk kembali sebagai Komandan pasukan Detasemen Jala Mangkara (Denjaka) yang kedua kalinya. 

"Pagi saya serah terima sebagai Komandan Denjaka, malamnya saya mendapat kabar bahwa ada kasus pembajakan kapal. kemudian saya langsung malam itu juga saya panggil semua perwira saya untuk membuat perencanaan cepat," kata Mayjen TNI (Mar) Suhartono dikutip VIVA Militer dari Podcast Dispen TNI AL, Sabtu, 21 Agustus 2020.

Kemudian keesokan harinya, lanjut Mayjen Suhartono, dirinya bersama Komandan Korps Marinir saat itu, Mayjen TNI (Mar) Alfian Baharudin dipanggil oleh Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Soeparno dan Panglima TNI saat itu, Laksamana Agus Suhartono. 

Menurut Mayjen Suhartono, Panglima TNI dan KSAL ketika itu baru saja bertemu dengan Presiden RI saat itu, Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY). 

"Presiden SBY meminta TNI untuk mempersiapkan operasi pembebasan ABK dan MV Sinar Kudus yang disandera para perompak di Somalia," ujarnya.

Dia mengisahkan, Presiden SBY memberikan tiga perintah dalam operasi yang harus dilakukan TNI saat itu. Pertama, Presiden memastikan agar TNI berhasil membebaskan semua ABK yang disandera oleh para perompak Somalia. 

Kedua, Presiden SBY meminta agar TNI dapat membebaskan MV Sinar Kudus agar kapal kargo itu dapat melanjutkan perjalanannya ke negara tujuan. 

"Ketiga, bila diperlukan aksi militer laksanakan pendaratan ke pantai untuk menunjukkan bahwa kita itu punya kedaulatan, bahwa kita tidak bisa diinjak-injak harga diri kita. Sehingga mau tidak mau TNI harus turun tangan," tambahnya.

Lebih jauh Dankormar memaparkan, persiapan yang dilakukan oleh TNI dalam mensukseskan operasi pembebasan sandera dan MV Sinar Kudus berlangsung cukup lama. Menurut Mayjen Suhartono, persiapan dilakukan lebih dari satu minggu untuk mematangkan perencanaan penyerbuan, melakukan latihan teknik pembebasan hingga mengumpulkan seluruh data intelijen terkait dengan keberadaan posisi kapal.

Operasi khusus yang diberi nama sandi Operasi Merah Putih itu berjalan dengan sangat rahasia atau silent. Pengumpulan informasi mulai dari keberadaan posisi kapal, pemerangkatan pasukan elit TNI AL yang melakukan operasai pembebasan, hingga pemetaan camp-camp atau markas para perompak pun dilakukan secara senyap. Bahkan, lanjut Suhartono, masyarakat Indonesia pun tidak banyak mengetahui kapan TNI memberangkatkan pasukannya ke Somalia untuk melancarkan operasi pembebasan tersebut.

Dankormar Mayjen TNI (Mar) Suhartono menyatakan, operasi pembebasan sandera 20 ABK MV Sinar Kudus bukanlah operasi yang mudah. Dia mengungkapkan, dalam proses pembebesan sandera pihaknya mendapatkan sekian banyak kendala yang dihadapi. Mulai dari medan yang tidak dikuasai, hingga ancaman serangan yang sewaktu-waktu dapat dilancarkan oleh para pemberontak Somalia itu.

"Setelah kita mendapatkan data-data intelijen kita berangkat ke perairan Somalia, itu pun kita harus mencari karena lautan itu begitu luas, dan tidak semudah yang kita bayangkan juga yaa. Karena kapal MV Sinar Kudus itu bergerak juga dia, posisi dia tidak diam. mereka dibajak oleh pembajak itu dan kapal itu digunakan untuk membajak kapal-kapal lain," katanya. 

Dia menambahkan, dalam operasi tersebut pihaknya sangat mengandalkan informasi yang dihimpun oleh intelijen TNI. Informasi yang diperoleh oleh intelijen TNI bahwa di pesisir Somalia terdapat banyak camp atau perkampungan-perkampungan perompak yang memang diketahui sangat rawan untuk dimasuki oleh TNI maupun pihak asing lainnya. 

"Di El-Dhanan ada camp atau perkampungan perompak dengan kekuatan sekitar 1000 personil yang dilengkapi dengan persenjataan yang cukup bervariasi. Mereka punya senapan mesin, mereka punya senjata roket launcer itu, ada semuanya," tambahnya.

"Kalau saja para teroris itu mengetahui kita mengirimkan pasukan kesana, mungkin para ABK MV Sinar Kudus tidak akan selamat itu. Sehingga, semua perencanaan operasi pembebasan itu dilakukan betul-betul serahasia mungkin," paparnya.

Melihat potensi yang cukup rawan jika dilakukan pendaratan militer, kemudian, lanjut Suhartono, TNI memutuskan untuk mencari celah lain untuk merebut kembali MV Sinar Kudus yang dijadikan kapal induk untuk merompak kapal-kapal niaga asing oleh para perompak Somalia itu.

Mereka pun mencari tahu kelemahan para perompak yang masih berada di atas kapal kargo di atas perairan Somalia tersebut dengan memperhitungkan persediaan bahan bakar MV Sinar Kudus di atas perairan Laut Somalia.

Selain itu, TNI juga mempelajari potensi perlawanan dari camp-camp di sekitar pesisir El-Dhanan yang memungkinkan melakukan serangan terhadap pasukan TNI yang terlibat dalam operasi pembebasan 20 ABK dan MV Sinar Kudus itu. 

"Karena informasi intelijen yang kita peroleh itu, di sana ternyata ada delapan kapal lain yang dibajak para perompak itu. Bahkan, ada yang lebih dari setahun tidak ditebus oleh pemilik kapal. Nah, informasi intelijen kita, kalau kita bebaskan kapal itu, para perompak dari camp lain itu bisa datang menyerang dan menyandera kembali kapal yang sudah dibebaskan. Makanya kita betul-betul mempelajari medan di sana itu," ungkapnya.

Ternyata benar saja, lanjut Suhartono, pantauan intelijen TNI, MV Sinar Kudus sempat merapat ke pesisir El-Dhanan lalu kemudian kembali melakukan moving ke perairan laut lepas. Mendapatkan informasi itu, Mayjen Suhartono pun langsung bergerak cepat turun ke laut dengan menggunakan tiga buah Sea Reader dari atas KRI Yos Sudarso-353 dan KRI Halim Perdanakusuma-355 yang menjadi pusat komando kekuatan pasukan marinir dari satuan khusus Denjaka dalam melancarkan operasi pembebasan sandera dari tangan perompak Somalia.

"Ketika melakukan aksi pengejaran, waktu itu saya turun dengan tiga sea reader, dan kebetulan ombak waktu itu sangat besar. Saya pimpin sendiri ketika itu, saya di Sea Reader satu, kemudian di Sea Reader dua itu ada Pasops Marinir Letkol (Mar) Bramantyo yang sekarang menjadi Danpus Kopaska, kemudian Sea Reader tiga itu ada Kolonel Samson Sitohang, yang sekarang jadi ADC nya Presiden RI," kisahnya.

Aksi penyerbuan pun dilakukan, lanjut Suhartono, dengan tantangan ombak yang besar tiga rombongan Sea Reader penyerbu merebut kembali MV Sinar Kudus dari tangan para perompak bersenjata Somalia. 

Tidak sampai di situ, lanjut Suhartono, setelah TNI berhasil mendapatkan MV Sinar Kudus, kelompok perompak lainnya dari arah pantai kembali mendatangi MV Sinar Kudus. Sehingga Suhartono dan dua Sea Reader lainnya segera melakukan manuver untuk menghadang kedatangan beberapa perahu motor yang datang mengarah MV Sinar Kudus. 

Aksi tembak-tembakan di tengah malam dalam kondisi ombak besar pun tak dapat dihindarkan di atas perairan Somalia. Pada akhirnya pasukan TNI dari satuan Denjaka Korps Marinir berhasil melumpuhkan para pemberontak Somalia itu. Empat perompak Somalia dikabarkan tewas akibat diterjang timah panas TNI. Perahu cepat para perompak pun sempat dikuasasi pasukan Denjaka TNI. 

Dari atas kapal motor para perompak itu, TNI berhasil mengamankan sejumlah barang bukti diantaranya satu unit GPS Garmin 72, amunisi peluru tajam kaliber 7.62 mm dan 5.56 mm, serta satu buah jaket loreng gurun. 

Akhirnya, TNI berhasil merebut kembali MV Sinar Kudus berikut 20 ABK termasuk nahkoda asal Indonesia yang sempat disandera oleh para perompak Somalia itu. Lalu, MV Sinar Kudus langsung bergerak meninggalkan perairan Somalia menuju pangkalan aju Salalah Oman dengan pengawalan KRI Yos Sudarso dan KRI Halim Perdanakusuma. 

"Jadi, proses mulai persiapan hingga pembebasan itu tidak sesederhana seperti yang kita pikirkan. Yang mana juga stamina dari prajurit juga harus kita jaga betul. Nah, disini lah gunanya kenapa kita melatih pasukan di situ, agar kita bisa terbiasa menghadapi ombak yang besar, cuaca di laut yang berubah-ubah, stamina harus kuat. Dan tugas-tugas operasi di laut tentunya harus melalui sebuah proses yang panjang. Pembinaan yang dilakukan secara berkesinambungan, bertahap dan berlanjut. Tidak bisa itu terpotong-potong itu, sekarang latihan, besok tidak, tidak bisa seperti itu. Harus dilatih terus menerus," tutupnya [Rifki Arsilan/Viva].

Editor :
Redaksi

riset-JSI
Komentar Anda