DIALEKSIS.COM | Bogor - Kementerian Pertanian (Kementan) terus memperkuat penguasaan teknologi laboratorium veteriner sebagai fondasi pengembangan vaksin, peningkatan mutu obat hewan, dan pengendalian penyakit strategis.
Langkah ini dilakukan untuk membangun sistem kesehatan hewan yang lebih modern, mandiri, serta mampu menopang ketahanan pangan nasional melalui penguatan teknologi kultur sel di laboratorium veteriner.
Kepala Balai Besar Pengujian Mutu dan Sertifikasi Obat Hewan (BBPMSOH) Kementan, Hasan Abdullah Sanyata, mengatakan industri obat hewan nasional menunjukkan perkembangan yang signifikan. Menurutnya, produk obat hewan buatan Indonesia kini telah diekspor ke lebih dari 90 negara dan menghasilkan devisa hingga triliunan rupiah.
"Kondisi industri obat hewan kita berkembang dengan sangat baik. Saat ini produk obat hewan Indonesia telah diekspor ke lebih dari 90 negara. Devisa yang dihasilkan sudah mencapai triliunan rupiah," ujar Hasan dalam keterangan resmi yang diterima pada Minggu (19/7/2026).
Hasan menjelaskan, pertumbuhan industri tersebut harus diimbangi dengan penguatan sistem pengujian agar setiap produk yang beredar memenuhi standar mutu, keamanan, dan khasiat. Ia menyebut BBPMSOH menerima sekitar 50 produk obat hewan baru setiap dua pekan yang harus melalui proses pengujian dengan metode yang terus disesuaikan mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan regulasi.
"Sekitar 50 obat hewan baru masuk ke laboratorium kami setiap dua minggu. Ini menjadi tantangan tersendiri karena banyak produk yang sebelumnya belum pernah diuji sehingga membutuhkan inovasi metode pengujian agar tetap sesuai dengan persyaratan ilmiah dan regulasi yang berlaku," katanya.
Menurut Hasan, pemanfaatan teknologi kultur sel menjadi salah satu fondasi laboratorium veteriner modern karena mampu mendukung diagnosis penyakit, penelitian, pengujian keamanan dan efikasi produk, hingga pengembangan vaksin secara lebih akurat dan efisien.
Namun, penerapannya membutuhkan sumber daya manusia yang kompeten, fasilitas laboratorium berstandar biosekuriti, serta sistem pengujian yang tervalidasi.
Senada dengan itu, Pejabat Fungsional Medik Veteriner Madya Kementan, Rahajeng Setiawati, mengatakan kultur sel merupakan teknologi kunci dalam laboratorium veteriner karena berperan sebagai media utama untuk isolasi dan identifikasi virus sekaligus mendukung penelitian serta produksi vaksin.
"Kultur sel berperan penting dalam diagnosis penyakit, penelitian, hingga produksi vaksin di laboratorium veteriner. Teknologi ini memungkinkan proses penelitian dilakukan secara lebih akurat, efisien, dan berkelanjutan," ujar Rahajeng.
Ia menambahkan keberhasilan penerapan teknologi tersebut sangat bergantung pada kompetensi SDM, penerapan Good Cell Culture Practice, serta inovasi berkelanjutan untuk mendukung pendekatan One Health dan memperkuat sistem kesehatan hewan nasional. [in]