DIALEKSIS.COM | Surabaya - Pemerintah terus mempercepat upaya eliminasi kanker leher rahim dengan memperkuat layanan skrining berbasis DNA HPV yang terintegrasi hingga tingkat layanan primer.
Langkah ini dinilai krusial mengingat sebagian besar kasus kanker serviks di Indonesia masih ditemukan pada stadium lanjut, sehingga menurunkan peluang kesembuhan dan meningkatkan angka kematian.
Wakil Menteri Kesehatan RI Dante Saksono Harbuwono mengatakan, percepatan skrining bukan semata intervensi medis, melainkan investasi negara dalam melindungi perempuan dan generasi masa depan.
“Ketika kita bicara kanker serviks, yang kita lindungi bukan hanya pasien, tetapi peran penting perempuan dalam keluarga dan keberlangsungan bangsa,” ujar Dante dalam kegiatan diseminasi hasil studi implementasi skrining HPV DNA di Jawa Timur.
Menurut Dante, tantangan utama pengendalian kanker serviks terletak pada pendekatan yang belum sepenuhnya sistemik. Akses layanan, kesiapan fasilitas kesehatan, hingga literasi kesehatan perempuan masih menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan secara bersamaan. Karena itu, pemerintah menilai hasil pilot project skrining HPV DNA penting sebagai bahan evaluasi kebijakan sebelum diterapkan secara lebih luas.
Indonesia sendiri telah menyatakan komitmen global dalam World Health Assembly 2020 untuk mengeliminasi kanker serviks, yang kemudian diterjemahkan ke dalam Rencana Aksi Nasional Eliminasi Kanker Leher Rahim 2023-2030. Studi percontohan di Jawa Timur, yang didukung berbagai mitra, diharapkan dapat memberikan gambaran nyata mengenai efektivitas strategi skrining di lapangan.
Dante menegaskan, target eliminasi kanker serviks tidak bisa dicapai oleh sektor kesehatan saja. “Eliminasi kanker serviks adalah agenda bersama. Dibutuhkan kolaborasi lintas sektor yang inklusif agar kita bisa bergerak lebih cepat dan berkelanjutan,” pungkasnya. [in]