Minggu, 30 Agustus 2026
Beranda / Berita / Nasional / BMKG Ungkap El Nino Kuat 2026 Bisa Picu Polusi Udara, Warga Diminta Waspada

BMKG Ungkap El Nino Kuat 2026 Bisa Picu Polusi Udara, Warga Diminta Waspada

Minggu, 30 Agustus 2026 15:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Peta peringatan dini kekeringan meteorologis [Foto: BMKG]


DIALEKSIS.COM | Jakarta - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai potensi memburuknya kualitas udara selama fenomena El Nino kuat yang berlangsung pada 2026.

Kondisi tersebut terjadi karena El Nino menyebabkan hujan di Indonesia berkurang. Akibatnya, proses pencucian atmosfer atau washout menjadi lebih jarang sehingga polutan dapat bertahan lebih lama di udara.

Ketua Tim Informasi Pencemaran Udara Direktorat Layanan Iklim Terapan BMKG, Dwi Atmoko, mengatakan El Nino terjadi ketika suhu muka laut di wilayah Pasifik Tengah dan Timur lebih hangat dari kondisi normal.

Sebaliknya, suhu muka laut di wilayah Indonesia cenderung lebih dingin. Kondisi itu menyebabkan penguapan berkurang dan menghambat pertumbuhan awan.

"Pada saat musim El Nino di Indonesia pertumbuhan awannya tidak masif, sehingga hujannya juga lebih jarang. Potensi kekeringan juga semakin besar," ujar Dwi dalam dialog KemenCast di Jakarta, Sabtu (29/8/2026).

Menurut Dwi, hujan secara alami membantu membersihkan polutan dari atmosfer. Ketika hujan jarang terjadi, sementara sumber emisi tetap aktif, polutan lebih mudah terakumulasi di udara.

BMKG mencatat anomali suhu muka laut pada pemantauan Agustus 2026 mencapai 2,26. Angka tersebut menjadi salah satu indikator terjadinya El Nino dengan intensitas kuat.

El Nino diperkirakan berlangsung hingga sekitar Desember 2026. Dampaknya masih berpotensi dirasakan hingga Januari-Februari 2027, meski intensitasnya mulai melemah.

Dwi menyebut periode September-Oktober-November 2026 berpotensi menjadi masa dengan dampak El Nino tinggi hingga sangat tinggi.

Salah satu dampak yang mulai terlihat adalah munculnya titik panas atau hotspot di sejumlah wilayah Kalimantan. Kondisi tersebut meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan yang dapat memperburuk kualitas udara.

Kebakaran hutan dan lahan menghasilkan sejumlah polutan, termasuk PM2,5 dan karbon monoksida (CO). BMKG mencatat konsentrasi PM2,5 di sejumlah stasiun pemantauan di Pontianak telah berada pada kategori tidak sehat hingga sangat tidak sehat.

Selain kualitas udara, El Nino juga berpotensi berdampak pada sektor pertanian, perkebunan, energi, dan ketersediaan air baku.

Berkurangnya hujan dapat menurunkan debit sungai yang menjadi sumber air sejumlah PLTA. Kondisi serupa juga dapat memengaruhi ketersediaan air untuk kebutuhan masyarakat.

BMKG mengimbau masyarakat terus memantau informasi mengenai El Nino, kualitas udara, kekeringan, dan kondisi iklim melalui kanal resmi BMKG, termasuk situs BMKG, laman informasi iklim, media sosial Info BMKG, serta aplikasi Info BMKG. [*]

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI
pema - damai
dishub