Senin, 14 September 2026
Beranda / Kolom / Seberapa Kenal Kita dengan Sejarah Aceh?

Seberapa Kenal Kita dengan Sejarah Aceh?

Senin, 14 September 2026 12:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Teuku Avicenna Al Maududdy

Teuku Avicenna Al Maududdy, M.Hum; Dosen Tetap Prodi Pengembangan Masyarakat Islam, Universitas Islam Al-Aziziyah Indonesia (UNISAI) Samalanga, Kabupaten Bireun, Aceh. [Foto: HO/dialeksis.com]


DIALEKSIS.COM | Kolom - Seberapa kenal kita dengan sejarah Aceh?

Pertanyaan ini tampak sederhana, tetapi jawabannya tidak sesederhana yang kita bayangkan. Kita mungkin mengenal Sultan Iskandar Muda, Cut Nyak Dhien, Teungku Chik di Tiro, Kesultanan Aceh Darussalam, Samudera Pasai, perang melawan Belanda, hingga konflik dan perdamaian Aceh. Namun, apakah mengenal nama dan peristiwa tersebut sudah cukup untuk mengatakan bahwa kita benar-benar mengenal sejarah Aceh?

Sejarah bukan sekadar kumpulan tahun, nama tokoh, peperangan, dan pergantian kekuasaan. Sejarah adalah ingatan yang membentuk cara sebuah masyarakat memahami dirinya. Ketika masyarakat kehilangan hubungan dengan sejarahnya, yang hilang bukan hanya pengetahuan tentang masa lalu, tetapi juga sebagian dari pemahaman tentang identitas dan arah masa depannya.

Aceh memiliki sejarah yang panjang dan berlapis. Ia bukan hanya sejarah kerajaan dan perang, tetapi juga sejarah ulama, saudagar, petani, nelayan, perempuan, pendidikan, perdagangan, bahasa, sastra, adat, masjid, meunasah, dayah, pelabuhan, dan hubungan dengan dunia luar. Sejak dahulu Aceh bukan masyarakat yang hidup dalam ruang tertutup. Letaknya yang strategis di kawasan Selat Malaka menjadikannya ruang perjumpaan berbagai manusia dan kebudayaan.

Karena itu, berbicara tentang bangsa Aceh tidak semestinya dipahami secara sempit hanya berdasarkan garis keturunan. Sejarah Aceh menunjukkan adanya proses perjumpaan yang panjang dengan Arab, Persia, India, Turki, Tionghoa, Eropa, Melayu, dan berbagai kelompok Nusantara. Di dalam Aceh sendiri terdapat keberagaman etnis dan kebudayaan seperti Aceh, Gayo, Alas, Aneuk Jamee, Kluet, Singkil, Tamiang, Simeulue, dan kelompok masyarakat lainnya.

Keragaman tersebut bukan kelemahan. Justru di sanalah salah satu kekayaan sejarah Aceh.

Kita perlu membedakan antara asal-usul biologis dan identitas kebudayaan. Identitas suatu bangsa tidak hanya dibentuk oleh darah dan keturunan, tetapi juga oleh pengalaman sejarah, nilai, bahasa, kebudayaan, ingatan bersama, dan rasa memiliki. Seseorang dapat memiliki latar keturunan yang beragam, tetapi tumbuh dalam lingkungan sosial dan kebudayaan Aceh. Sebaliknya, kelompok yang memiliki identitas etnis tersendiri tetap dapat menjadi bagian penting dari perjalanan sejarah Aceh.

Maka, menjadi bagian dari bangsa Aceh tidak semata-mata menjawab pertanyaan, “Dari darah siapa kita berasal?” Pertanyaan yang lebih penting adalah: “Warisan sejarah apa yang kita kenal, kita hidupi, dan kita teruskan?”

Pertanyaan ini semakin penting di tengah perubahan zaman. Generasi muda Aceh hidup dalam dunia digital yang memungkinkan mereka mengenal sejarah dunia hanya dalam hitungan detik. Namun, jangan sampai mereka justru tidak mengenal sejarah gampong sendiri, asal-usul nama daerah, tokoh masyarakat, dayah, meunasah, masjid tua, atau tradisi yang diwariskan oleh orang tua mereka.

Kita jangan sampai menghadapi paradoks: Aceh kaya sejarah, tetapi generasinya semakin jauh dari sejarah.

Persoalannya bukan karena sejarah Aceh tidak menarik. Sejarah Aceh justru sangat kaya. Tantangannya adalah bagaimana sejarah tersebut diceritakan. Jika sejarah hanya menjadi hafalan di ruang kelas, ia akan mudah terasa jauh dari kehidupan. Sejarah harus kembali menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.

Meunasah, dayah, masjid, gampong, museum, sekolah, kampus, keluarga, kedai kopi, media massa, dan media sosial dapat menjadi ruang untuk menghidupkan sejarah. Anak muda dapat memulai dari sesuatu yang sederhana: menanyakan sejarah kampung kepada orang tua dan tokoh masyarakat, mencatat cerita lisan, mendokumentasikan makam dan bangunan bersejarah, menulis tentang tradisi lokal, atau membuat konten digital mengenai bahasa Aceh, hadih maja, hikayat, adat, kuliner, kesenian, dan tokoh lokal.

Dengan demikian, sejarah tidak hanya tersimpan dalam buku, tetapi hidup dalam ingatan masyarakat.

Namun, mengenal sejarah bukan berarti memuja masa lalu tanpa kritik. Bangsa yang bermartabat bukan bangsa yang menganggap seluruh masa lalunya sempurna. Bangsa yang bermartabat adalah bangsa yang berani melihat kejayaan sekaligus kekurangannya.

Dari kejayaan kita belajar tentang kemampuan membangun peradaban. Dari penjajahan kita belajar tentang pentingnya kedaulatan. Dari konflik kita belajar tentang akibat perpecahan. Dari perdamaian kita belajar bahwa masa depan dapat dibangun melalui dialog dan persaudaraan.

Sejarah seharusnya membuat kita lebih dewasa, bukan lebih mudah membenci.

Karena itu, mengenal sejarah Aceh tidak boleh berhenti pada romantisme Kesultanan Aceh Darussalam atau heroisme perang melawan penjajah. Kita perlu bertanya lebih jauh: bagaimana ulama membangun pendidikan? Bagaimana gampong mengatur kehidupan sosial? Bagaimana perdagangan menghubungkan Aceh dengan dunia? Bagaimana berbagai kelompok etnis dan kebudayaan hidup berdampingan? Nilai apa yang membuat masyarakat Aceh mampu bertahan menghadapi perubahan zaman?

Jawaban atas pertanyaan tersebut jauh lebih penting daripada sekadar menghafal tanggal.

Generasi muda juga perlu mengambil peran. Tidak harus menjadi sejarawan untuk menjaga sejarah. Mulailah dengan membaca, bertanya, mencatat, meneliti, mendokumentasikan, dan menceritakan kembali. Kenali sejarah keluarga dan gampong sendiri. Jadikan sekolah dan kampus sebagai ruang penelitian sejarah lokal. Manfaatkan teknologi untuk menyebarkan pengetahuan, bukan hanya mengikuti tren sesaat.

Yang paling penting, jangan menjadikan sejarah sebagai alasan untuk merasa paling Aceh atau merendahkan kelompok lain. Keberagaman etnis dan kebudayaan adalah bagian dari perjalanan sejarah Aceh. Merawat Aceh berarti merawat keberagaman yang telah tumbuh bersama dalam perjalanan panjang bangsa ini.

Pada akhirnya, sejarah Aceh bukan hanya milik masa lalu. Ia adalah cermin bagi masa kini dan kompas menuju masa depan.

Kita boleh berbeda keturunan, bahasa ibu, daerah, dan latar kebudayaan. Namun, sejarah telah mempertemukan kita dalam ruang kehidupan yang sama. Di sanalah identitas bersama dibangun: bukan dengan menghapus keberagaman, melainkan dengan merawatnya.

Maka, seberapa kenal kita dengan sejarah Aceh?

Pertanyaan ini akhirnya kembali kepada diri kita sendiri. Sebab jika kita tidak mengenal sejarah dan kebudayaan kita, bagaimana kita berharap generasi berikutnya mampu menjaga martabat Aceh?

Aceh tidak kekurangan sejarah. Aceh hanya membutuhkan generasi yang mau mengenalnya kembali, menjaganya dengan kritis, dan menceritakannya dengan jujur. Sebab bangsa yang mengenal sejarahnya akan lebih memahami siapa dirinya, menghargai keberagamannya, dan lebih siap menentukan masa depannya.

Orang Aceh memiliki pesan yang sangat kuat: “Mate aneuk meupat jeurat, mate adat hana pat tamita.” Anak yang meninggal masih dapat ditemukan kuburnya, tetapi jika adat mati, ke mana mencarinya? Hadih maja ini mengingatkan bahwa kehilangan budaya berarti kehilangan arah identitas.

Karena itu, generasi Aceh harus berani menjadi pewaris sekaligus penjaga sejarah: membaca, meneliti, mendokumentasikan, dan memperkenalkan kembali budaya Aceh melalui pendidikan dan teknologi. Harapannya, sejarah tidak berhenti sebagai cerita masa lalu, tetapi menjadi kekuatan untuk membangun Aceh yang berilmu, bermartabat, bersatu, dan menghargai keberagaman. Sejarah adalah warisan; menjaganya adalah tanggung jawab kita bersama. [**]

Penulis: Teuku Avicenna Al Maududdy, M.Hum (Dosen Tetap Prodi Pengembangan Masyarakat Islam, Universitas Islam Al-Aziziyah Indonesia (UNISAI) Samalanga, Kabupaten Bireun, Aceh)

Keyword:


Editor :
Indri

riset-JSI