Minggu, 17 Mei 2026
Beranda / Kolom / Memoar yang Belum Ditulis: Tentang Cinta, Kekuasaan, dan Sebuah Perang yang Sunyi

Memoar yang Belum Ditulis: Tentang Cinta, Kekuasaan, dan Sebuah Perang yang Sunyi

Selasa, 20 Januari 2026 16:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Ratnalia

Ilustrasi Memoar yang Belum Ditulis. Foto: Supriyanto


DIALEKSIS.COM | Kolom - Di Aceh, cinta tak pernah sekadar urusan hati. Ia adalah medan tafsir, ruang sandi, dan kadang, pintu jebakan. 

Maka ketika kabar tentang Mualem akan menikah kembali berembus di antara puing-puing pascabencana, kita tak sedang membicarakan asmara. 

Kita sedang membaca ulang peta kekuasaan.

Ada yang bilang, cinta adalah kelemahan terakhir seorang lelaki kuat. 

Tapi dalam politik, cinta bisa disusun, dijebak, bahkan dijadikan alat untuk menjatuhkan. 

Dan Aceh, dengan sejarahnya yang panjang tentang pengkhianatan dan kesetiaan, tahu betul bahwa tidak semua peluru berbentuk timah panas. 

Ada peluru yang berwujud senyum, ada yang menyamar sebagai restu keluarga.

Mualem, dalam diamnya, telah menjadi simbol. Ia bukan hanya gubernur, tapi juga cermin dari harapan rakyat yang lelah ditipu. 

Ia bukan sempurna, tapi ia utuh. Dan justru karena itu, ia berbahaya bagi mereka yang ingin Aceh tetap dalam kabut.

Pernikahan, jika benar terjadi, bisa menjadi celah. Bukan karena ia berdosa, tapi karena ia bisa dipelintir. 

Di tengah luka rakyat yang belum sembuh, narasi “pemimpin yang berpesta saat rakyat berduka” bisa dijual dengan murah dan dibeli dengan cepat. 

Apalagi jika narasi itu disebar oleh tangan-tangan yang tak terlihat, tapi selalu hadir di setiap kejatuhan pemimpin Aceh.

Kita pernah melihatnya. Irwandi, yang jatuh bukan karena kebijakan, tapi karena jebakan. 

Seolah ada pola yang diulang, dengan aktor berbeda dan panggung yang lebih halus. 

Maka pertanyaannya bukan lagi “apakah Mualem akan menikah?”, tapi “siapa yang menulis skenario ini, dan untuk siapa akhir ceritanya?”

Di dunia intelijen, ada istilah: kompromat. Informasi personal yang digunakan untuk mengendalikan atau menghancurkan. 

Dan dalam politik lokal yang rapuh, kompromat bisa berupa foto, bisik-bisik, atau sekadar undangan pernikahan yang bocor ke media.

Mualem harus tahu: ini bukan tentang cinta. Ini tentang bagaimana cinta bisa dijadikan senjata. 

Dan ia, suka atau tidak, sedang berada di tengah medan yang tak terlihat tapi sangat nyata.

Maka ia butuh lebih dari sekadar tim protokoler. Ia butuh penjaga narasi. 

Ia butuh mata yang bisa membaca gerak bayangan. 

Ia butuh telinga yang bisa membedakan antara bisikan cinta dan desis jebakan.

Karena di Aceh, cinta bisa jadi peluru. Dan pemimpin yang tak waspada, bisa jatuh bukan karena salah langkah, tapi karena salah membaca isyarat.

Dan sejarah, seperti biasa, hanya akan mencatat siapa yang jatuh. Bukan siapa yang mendorong. [**]

Penulis: Ratnalia (Direktur JSI]

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI